Perubahan Iklim Picu Resistensi Antibiotik Terhadap Bakteri

Reading time: 2 menit
Perubahan iklim membuat bakteri bermutasi dan resisten terhadap antibiotik. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Perubahan Iklim tidak hanya mengancam kerusakan bumi dan isinya. Temuan terbaru, dampak perubahan iklim juga dapat meningkatkan resisten antibiotik terhadap bakteri.

Peneliti Pusat Riset Biomedis Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Novaria Sari Dewi Panjaitan menyampaikan hal tesebut dalam Webinar Dampak Perubahan Iklim terhadap Penyakit dan Kesehatan, Rabu (22/6).

Menurutnya, perubahan iklim berimbas pada peningkatan suhu dan minimnya nutrisi makanan pada bakteri. Kondisi tersebut memicu stres bakteri yang akhirnya menentukan keberlanjutan hidup bakteri itu selanjutnya.

Bakteri yang selamat dan bertahan akan melanjutkan hidupnya dan semakin resisten dengan perubahan iklim. Sedangkan bakteri yang tak mampu bertahan maka menjadi makanan untuk bakteri lainnya.

“Bakteri-bakteri yang bisa survive terhadap peningkatan suhu panas dan kekurangan nutrisi ini sesungguhnya justru mendatangkan masalah yang lebih besar dan mengancam kesehatan manusia,” katanya.

Permasalahannya, bakteri-bakteri yang mampu bertahan karena perubahan iklim tersebut bermutasi dengan sangat cepat. Saat mereka berkembang, sel-sel bakteri tersebut sudah teruji menghadapi peningkatan suhu panas dan kekurangan nutrisi karena perubahan iklim.

“Dalam menghadapi stres akibat climate change ini DNA dan gen bakteri ini mengalami mutasi. Mereka yang berhasil survive ini akan membantu sel-sel bakteri untuk survive dari climate change,” imbuhnya.

Bakteri Mencoba Membentuk Pertahanan Diri dari Perubahan Iklim

Setiap bakteri memiliki kemampuan dalam pertahanan diri demi kelangsungan hidupnya, termasuk terhadap perubahan iklim. Adapun salah satu bentuk pertahanan bakteri adalah dengan pembentukan biofilm.

Pembentukan biofilm karena beberapa hal. Bakteri mempertahankan diri dari fagositosis sel-sel sistem kekebalan tubuh dan penetrasi molekul beracun seperti antibiotik.

Novaria menyebut, pembentukan biofilm memungkinkan sel untuk tetap berada di lokasi yang kaya akan nutrisi dan bisa memungkinkan bakteri tak kekurangan makanan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan kesempatan untuk bertahan hidup semakin tinggi. Salah satu bakteri yang mampu menghasilkan biofilm yaitu bakteri Escherichia coli.

“Selain itu, saat sel-sel berdekatan satu sama lain, ada lebih banyak kesempatan untuk terjadi pertukaran nutrisi dan genetik. Sehingga mereka bisa hidup secara simbiosis,” imbuhnya.

Studi Sebut Resistensi Antimikroba Meningkat Pesat

Jurnal studi dari Al-Azhar University Gaza (Natural Sciences) menyebut, resistensi kasus agen antimikroba meningkat pesat. Misalnya Amoxi yang memiliki tingkat resistensi hingga 99 %, Cefurocime 87,4 %, serta Ceftriaxone tingkat resistensinya 68,9%.

Sementara menurut data prioritas WHO, resistensi antimikroba dibedakan berdasarkan kategori prioritas. Dalam kategori critical priority misalnya Acinetobacter baumannii (Carbapenem resistance – 1,2) yang merupakan bakteri penyebab infeksi pada darah, saluran kemih dan paru-paru (pneumonia).

Selanjutnya yaitu Pseudomonas aeruginosa (3rd generation cephalosporin resistance – 3). Jenis ini merupakan bakteri penyebab penyakit infeksi yaitu dermatitis, otitis eksterna, folikulitis, infeksi pada mata dan infeksi pada luka bakar.

Kategori kedua yaitu high priority misalnya Enterococcus faecium (Vancomycin-resistance – 4,5) penyebab infeksi pada luka, bakteremia, endokarditis dan meningitis.

Selanjutnya Salmonella species (Fluoroquinolone-resistance -6) penyebab penyakit diare akut dan kronis bahkan hingga kematian. Kategori ketiga yaitu medium priority seperti Streptococcus pneumoniae (Penicillin-resistance-7) dan Shigella species (Fluoroquinolone-resistance-8).

Novaria menyatakan angka peningkatan resistensi tersebut menjadi tugas besar, utamanya bagi peneliti, akademisi serta para dokter untuk bekerja sama mengatasi perubahan iklim.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page