Histoplasma Capsulatum, Jamur Infeksius yang Tumbuh di Kotoran Hewan

Reading time: 2 menit
Jamur ini bisa menyebabkan penyakit di saluran pernafasan. Foto: Shutterstock

Histoplasma capsulatum merupakan sejenis fungi dimorfik yang dapat ditemukan di seluruh dunia, kecuali Arktika. Jamur ini berbiak di permukaan tanah yang mengandung tinja hewan. Sporanya dapat menyebar dan menyebabkan infeksi serius pada manusia.

Penyakit akibat infeksi fungi Histoplasma capsulatum disebut sebagai Histoplasmosis. Infeksi ini biasanya terjadi pada organ pernapasan manusia tapi bisa pula menyerang organ lainnya.

Spora jamur sendiri tidak dapat menular antarmanusia. Ini paling banyak ditemukan di area gua, taman, kandang ternak dan berbagai tempat yang telah terkontaminasi kotoran satwa.

Menurut penelitian, jamur satu ini berasosiasi dengan hewan ternak (unggas) dan kelelawar. Gejala yang ditimbulkan mirip TBC, sehingga cukup fatal bagi orang dengan kondisi tertentu.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Histoplasma Capsulatum

Secara bentuk, penampilan jamur Histoplasma capsulatum relatif mirip dengan Blastomyces dermatitidis. Keduanya juga tergolong jamur dimorfik, sehingga dapat menyebabkan infeksi.

Pada inkubasi suhu di bawah 37 Celsius, jamur ini berubah menjadi berkoloni dan berwarna cokelat. Namun secara mikroskopis, terlihat adanya hialin, hifa berseptat dan mikrokonidia.

Mikrokonidianya ini terbagi lagi menjadi dua bentuk; khamir dan tipis, serta bulat dan tebal. Bentuk pertama berukuran 2–5 mikrometer, sedang bentuk kedua antara 8–16 mikrometer.

Jika masuk ke dalam tubuh, fungi ini dapat berkembang dalam aliran darah manusia dengan sistem kekebalan rendah. Setelah itu, ia akan menyebar ke paru-paru, kulit, bahkan ke mata.

Melansir berbagai sumber, orang yang terjangkit infeksi Histoplasma capsulatum kedua kali tidak mengalami gejala yang begitu parah. Walaupun, hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Penyebab dan Gejala Infeksi Histoplasma Capsulatum

Infeksi Histoplasma capsulatum biasanya terjadi bila seseorang tidak sengaja terhirup spora jamur tersebut. Ini bisa terjadi pada semua kalangan, terutama anak-anak dan para manula.

Orang-orang dengan kondisi tertentu seperti penderita HIV/AIDS, pasien kemoterapi, hingga orang yang mengonsumsi obat penekan sistem imun, juga berpotensi terjangkit penyakit ini.

Gejalanya mungkin tidak tampak sesaat setelah terinfeksi, namun biasanya memakan waktu 3-17 hari. Gejala-gejala yang muncul bisa berupa demam, batuk kering, nyeri otot dan sesak.

Sedangkan bagi pasien dengan riwayat penyakit paru-paru, gejala yang timbul yaitu keringat berlebih, batuk berdarah dan penurunan berat badan, serta berlangsung dalam waktu lama.

Apabila mengalami gejala di atas, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri ke dokter. Ini penting, apalagi jika profesi Anda berkaitan dengan peternakan, perkebunan dan satwa liar.

Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Histoplasmosis

Meski sulit dihindari, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi Histoplasma capsulatum. Salah satunya menghindari lokasi yang rentan terjangkit penyakit tersebut.

Jika Anda memiliki kandang unggas, jangan lupa untuk menyiram tanah dengan air sebelum membersihkan kandang tersebut. Ini dimaksudkan agar jamur tidak tersebar melalui udara.

Lebih baik lagi, hindari memelihara unggas seperti burung dan ayam di dekat rumah. Apabila tidak bisa dihindari, selalu gunakan alat pelindung seperti masker saat berada di sekitarnya.

Pasien gejala ringan umumnya tidak memerlukan perawatan khusus. Di banyak kasus, gejala penyakit tersebut akan hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu atau bulan.

Sedangkan pada pasien gejala berat, dokter akan memberi obat antijamur berbentuk tablet atau suntik. Jenis obat yang dipakai seperti itraconazole, ketoconazole, atau amphotericin B.

Taksonomi Spesies Jamur Histoplasma Capsulatum

Penulis : Yuhan al Khairi

Top