calendar
Sabtu, 15 Desember 2018
Pencarian
ikan belida
Ikan belida (Notoptera chitala). Foto: wikimedia commons

Ikan Belida, Predator Paling Dicari di Kota Palembang

Fauna

Kota Palembang tidak hanya dikenal dengan jembatan Ampera, tapi juga pempek. Kuliner khas Bumi Sriwijaya ini terbuat dari ikan belida/belido. Nama ikan ini sendiri diambil dari nama salah satu sungai di Sumatera Selatan yang menjadi habitatnya. Yuk, simak lebih jauh tentang ikan ini.

Ikan berpunggung ‘pisau’ ini memiliki nama yang berbeda di berbagai daerah. Di Jawa Barat ikan ini dikenal dengan nama ikan lopis, sementara di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah ikan ini disebut ikan pipih.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, ikan belida atau belido (Notopterus chitala) merupakan kelompok ikan primitif atau purba. Keberagaman dari jenis ikan ini banyak dijumpai di perairan umum (open waters). Penyebarannya di wilayah Indonesia meliputi sungai-sungai besar dan daerah aliran sungai, daerah banjiran serta danau yang terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa (Gaffar, 2003).

Penyebaran jenis ikan tersebut diperkirakan terjadi pada zaman pleistosen, saat terjadi susut laut akibat pendinginan suhu global. Diperkirakan pada saat itu pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa merupakan satu daratan dengan banyak sungai panjang mengalir dengan hulu di Sumatera dan Jawa dan muara di wilayah Kalimantan. Kondisi ini berdampak pada kesamaan jenis ikan air tawar dari ketiga pulau tersebut.

Berdasarkan Penelitian Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Mariana-Palembang (2006), ikan belida dapat tinggal dan tetap bertahan di kondisi perairan rawa karena memiliki alat bantu pernapasan yang dinamakan labirin. Ikan ini termasuk dalam kelompok ikan predator yang aktif pada malam hari. Mereka memangsa ikan kecil dan krustasea.

ikan belida

Sketsa ikan belida. Sumber: wikimedia commons

Secara morfologi, ikan belida dewasa mempunyai bobot 1,5 – 7 kg. Dikutip dari Laporan Teknis Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Departemen Kelautan dan Perikanan (2009), ikan belida memiliki ciri-ciri badan pipih dan memanjang dengan bagian punggung yang tampak mencembung. Bagian perutnya berduri ganda dengan bagian ekor yang juga memanjang. Ukuran sisik kecil, berbentuk sikloid, pada samping badan membentuk gurat sisi. Kepalanya bersisik, lubang hidung depan berbentuk tabung, tidak tertutup insang bawah.

Ikan belida memiliki bukaan mulut lebar, dibatasi rahang atas depan dan rahang atas. Rahang atas memanjang sampai bawah atau belakang mata. Gigi terdapat pada rahang atas depan, rahang atas, rahang bawah, tulang mata bajak (vomer), tulang langit-langit (palatine) dan lidah. Sirip punggung kecil, terletak kira-kira direntang pertengahan sirip dubur yang bersatu dengan sirip ekor. Sirip perut yang bersatu pada dasarnya kecil (rudiment).

Ikan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan sering digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan makanan khas daerah seperti empek-empek, kerupuk, kemplang, dan bahan pangan yang lain. Tampilannya yang unik juga membuatnya diminati penghobi untuk dipelihara di akuarium sebagai ikan hias.

Namun demikian, aktivitas penangkapan ikan berlebih (over fishing), penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, dan perubahan kondisi lingkungan perairan menyebabkan kelestarian jenis ikan ini menjadi terancam (Pollnac & Malvestuto, 1991). Bahkan dalam penelusuran Suwejo et al. (1986), ikan belida sudah termasuk ikan air tawar yang dilindungi.

Menilik potensinya yang besar khususnya bagi masyarakat Palembang serta populasinya yang mulai sulit ditemukan di alam, tidak heran jika ikan belida ditetapkan sebagai maskot fauna Sumatera Selatan oleh pemerintah daerah setempat.

Untuk mengabadikan ikan langka tersebut, pemda setempat juga tengah membuat sebuah tugu yang disebut sebagai “Tugu Iwak Belido”. Sebagai salah satu tuan rumah perhelatan pesta olah raga Asian Games XVIII, Tugu Iwak Belido ini diharapkan akan menarik perhatian masyarakat serta para tamu asing yang datang berkunjung ke kota Palembang.

ikan belida

Penulis: Sarah R. Megumi

Top