Ikan Capungan Banggai, Ikan Laut Hias Endemik Sulawesi Tengah

Reading time: 2 menit
Ikan Capungan Banggai, Ikan Laut Hias Endemik Sulawesi Tengah
Foto : Shutterstock

Pulau Banggai merupakan salah satu pulau di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut daerah berdasarkan Surat Keputusan Bupati Banggai Laut nomor 125 Tahun 2014. Di perairan sekitar pulau Banggai terdapat ikan endemik laut yaitu jenis “Capungan Banggai” atau Bebeseh Tayung, dan di luar negeri dikenal dengan sebutan Banggai cardinalfish (sering disingkat BCF). Ikan ini dikenal dengan nama ikan capungan karena bentuk tubuhnya yang menyerupai capung.

Penamaan ilmiah Capungan Banggai adalah Pterapogon kauderni. Dalam bahasa Perancis ikan Capungan Banggai disebut Poisson-cardinal de banggai, sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut Pez cardinal de banggai (CITES, 2016).

Ikan Capungan Banggai aktif pada siang hari (diurnal). Mereka merupakan pemakan plankton. Habitat ikan Capungan Banggai yakni padang lamun dan terumbu karang. Ikan ini umum ditemukan di daerah perairan yang relatif dangkal dan terlindung, kadang juga ditemukan di daerah berarus.

Morfologi Capungan Banggai

Secara morfologi ikan Capungan Banggai memiliki bentuk tubuh agak pipih dengan mata yang besar berwarna hitam dan bentuk mulut terminal dengan ukuran besar, serta rahang bawah cenderung menonjol. Ikan Capungan Banggai memiliki dua buah sirip punggung yang terpisah, dimana pada sirip dorsal (punggung) yang pertama mempunyai 6 sampai 8 jari-jari sirip, dan pada sirip dorsal yang kedua 7 mempunyai 8 sampai 14 jari-jari sirip lunak, serta dua sirip dibagian anal dengan jumlah jari-jari lunak 8 sampai 18 (Hopkins dkk., 2005). Adanya rumbai pada sirip menjadi ciri khas ikan Capungan Banggai.

Ikan Capungan Banggai, Ikan Laut Hias Endemik SulTeng

Foto : Shutterstock

Pola warna ikan ini terdiri dari tiga garis hitam yang menyilang pada bagian kepala dan badan, serta berwarna hitam mencolok pada bagian pinggir depan anal dan sirip dorsal kedua. Disamping itu, ikan Capungan Banggai dewasa memiliki panjang 6-8 cm, masa hidupnya sekitar 2 tahun di habitat alaminya, sedangkan jika di luar habitat (akuarium) bisa hidup sekitar 3-5 tahun.

Ikan Capungan Banggai hidup berkelompok dan berasosiasi dengan ikan-ikan lain seperti clownfish di antara hewan anemon. Ikan Capungan Banggai juga berasosiasi dengan hewan laut bulu babi dan karang-karang bercabang. Duri-duri bulu babi yang panjang merupakan tempat berlindung bayi-bayi ikan Capungan Banggai.

Terancam punah

Status The IUCN Red List of Threatened Species 2015, bahwa ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni) merupakan salah satu spesies ikan laut yang dinilai terancam punah (endangered) dan terdaftar sejak tahun 2007. Sedangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 49/KEPMEN-KP/2018 telah menetapkan ikan capungan Banggai (baca Greeners.co, 14 April 2018) sebagai jenis dilindungi secara terbatas

Ikan Capungan Banggai merupakan sumber daya perikanan yang memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Berdasarkan beberapa kajian ilmiah, Capungan Banggai sering ditangkap dalam jumlah besar untuk diperdagangkan sebagai ikan hias. Penangkapan ikan ini secara aktif juga akan memengaruhi penurunan terhadap jumlah atau populasinya. Adapun kerusakan terumbu karang turut mempengaruhi stok sumber daya ikan Capungan Banggai.

tabel klasifikasi ikan capungan banggai

Penulis : Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page