Semut Gila Kuning, Koloni Pemangsa yang Invasif

Reading time: 3 menit
Semut Gila Kuning
Semut gila kuning tergolong spesies invasif karena tersebar luas dan mampu menurunkan populasi semut lain. Foto: shutterstock.com

Sebagai bagian dari kelompok serangga terbesar, semut mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan manusia. Meskipun hampir tersebar di semua habitat terrestrial, perubahan tempat tinggal sangat memengaruhi keberadaan mereka. Respons semut yang sangat sensitif terhadap perubahan tersebut menjadikannya sebagai bioindikator.

Semut termasuk ke dalam famili Formicidae dengan Ordo Hymenoptera (Harris & Berry, 2010). Binatang kecil ini terdiri dari 14 sub famili, yaitu Nothomymeciinae, Myrmeciinae, Ponerinae, Dorylinae, Aneuritinae, Aenictinae, Ecitoninae, Myrmicinae, Pseudomyrmicinae, Cerapachyinae, Leptanillinae, Leptanilloidinae, Dolichoderinae dan Formicinae.

Semut gila kuning atau dalam penamaan Latin disebut Anoplolepis gracilipes, merupakan salah satu spesies semut yang paling banyak menghuni kawasan hutan sekunder. Spesies ini ditemukan hampir di setiap jenis pohon kecuali rumput dan di pinang. Musababnya, sumber makanan di sekitar pohon dan rumput kurang.

Baca juga: Lempuyang Gajah yang Mengandung Analgesik

Yellow Crazy Ant ini termasuk spesies dataran rendah di hutan hujan tropis dan jarang ditemukan di daerah kering atau di atas 1.200 meter di atas permukaan laut. Dominasi spesies ini juga dipengaruhi oleh suhu udara. Mereka juga banyak ditemukan pada habitat yang terganggu, permukiman, perkotaan, perkebunan, padang rumput, dan savana. Sementara, dia area hutan, semut gila kuning tersebar di tanah, kayu, maupun bahan kemasan.

Serangga ini juga salah satu spesies semut yang memiliki habitat beragam. Semut gila kuning tergolong spesies invasif karena tersebar luas dan mampu menurunkan populasi semut lain. Semut gila kuning mampu menguasai ruang jelajahnya menggunakan senyawa kimia berupa asam format. Mereka memakainya untuk memeroleh karbohidrat dan asam amino dari nektar tanaman.

Semut Gila Kuning

Semut Gila Kuning juga disebut predator karena memangsa berbagai fauna di serasah atau. Foto: shutterstock.com

Secara morfologi, semut merupakan kasta pekerja berkepala oval dan lebih lebar dari thoraks serta menyempit di bagian belakang. Matanya berbentuk majemuk berwarna hitam dan menonjol. Protoraksnya menyempit menyesuaikan leher yang ramping. Tungkainya berukuran sangat panjang. Tungkai pertama dan ketiga lebih panjang dari tubuh keseluruhan (kepala, thoraks, abdomen). Sementara, panjang tubuhnya sekitar 1 sampai 5 milimeter (Holway et al., 2002) dengan antena panjang berskapus 1.5 kali lebih panjang dari kepala (Csurhes & Hankamer, 2012).

Dengan agresivitas yang tinggi, semut gila kuning umumnya beraktivitas pada siang maupun malam hari. Mereka juga mampu bergabung dengan koloni semut lainnya. Spesies ini mencari makan di permukaan tanah dan bergerak sangat cepat dibandingkan dengan jenis Paratrechina longicornis. Semut gila kuning memiliki wilayah yang luas unttk mencari makan. Oleh karena itu mereka disebut sebagai predator karena memangsa berbagai fauna di serasah atau sumber bahan organik tanah.

Baca juga: Paus Sperma, Paus Bergigi Terbesar di Dunia

Asal semut gila kuning telah mengalami sejarah panjang dan persebarannya juga tidak luput dari peran manusia. Spesies ini dapat berpindah melalui kargo pada perkapalan maupun udara. Mereka terdeteksi dalam kontainer pengiriman dan angkutan lainnya saat perpindahan lintas wilayah maupun negara.

Banyak negara di Asia tropis disebut sebagai asal mula semut invasif ini. Beberapa negara tersebut di antaranya Brunei, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Sedangkan di Afrika, yakni termasuk Afrika Selatan dan Tanzania (Dar es Salaam dan Zanzibar), Amerika Tengah, dan Selatan (Brasil, Panama, Meksiko), serta Australia (Wettere, 2005).

Taksonomi Semut Gila Kuning

Penulis: Sarah R. Megumi

Top

You cannot copy content of this page