Stapelia Lepida, Tanaman Sukulen Berbau Busuk yang Indah

Reading time: 2 menit
Bagi Suku Zulu bunga bangkai Afrika ini berguna sebagai obat herbal. Foto: Shutterstock

Seperti namanya, Stapelia lepida adalah sejenis tanaman sukulen yang berasal dari genus Stapelia. Ia merupakan satu dari 55 spesies bunga bintang laut di dunia, yang memiliki ciri tubuh unik karena mirip seperti Asteroidea.

Kelompok Stapelia populer dengan sebutan bunga bintang laut. Tumbuhan ini dapat kita kenali dari bentuknya yang menyerupai seperti bintang, berbulu namun tidak berduri.

Berbeda dengan tanaman kaktus, tumbuhan sukulen biasanya mempunyai kelopak seperti daun. Mereka menyerap serta menyimpan pasokan air tepat di bagian batang utamanya.

Stapelia lepida publik kenal sebagai African starfish flowers (bunga bintang laut Afrika). Ia awam ketahui mengeluarkan bau busuk, sehingga sering pula dijuluki bunga bangkai Afrika.

Morfologi dan Ciri-Ciri Stapelia Lepida

African starfish flowers memiliki batang yang pendek, pertumbuhannya tampak selalu tegak dengan warna hijau sampai kemerahan, tergantung pada tingkat paparan sinar matahari.

Meski sangat jarang, beberapa individu terlihat memiliki bintik dengan corak warna merah atau ungu pada bagian atasnya. Tingkat ketebalan batang bervariasi, mulai dari 5-50 mm.

Batang Stapelia lepida memang mirip seperti spesies kaktus. Permukaannya memiliki empat sudut (tuberkulum), bagian bawahnya terdapat daun kecil dengan lebar berkisar 1-6 mm.

Pertumbuhan bunga hanya mencapai 6-400 mm saja. Coraknya menyerupai warna hewan yang membusuk, demi menarik spesies lalat yang membantu proses penyerbukan tanaman.

Mahkota bunga Stapelia lepida umumnya mempunyai lobus panjang serta area kecil yang menyatu di tengah. Buahnya tergolong folikel, kadang-kadang mengandung banyak biji.

Habitat dan Distribusi Stapelia Lepida

Stapelia lepida menyebar mulai dari Afrika tropis, Botswana, sampai ke Zimbabwe. Populasi terbesarnya ada di Namibia dan Afrika Selatan, dengan jumlah temuan sebanyak 43 spesies.

Di luar daerah tersebut, mereka bisa kita jumpai di Angola, Zambia, Malawi dan Mozambik. Ia tidak tumbuh di Kalahari tengah yang berpasir, maupun Drakensberg tengah yang basah.

Tanaman ini berbiak hampir di seluruh habitat, namun sebagian besar di tanah yang kering. Contohnya di Afrika Selatan, mereka tersebar luas tapi terkonsentrasi di tepi pegunungan.

Sayangnya, pakar belum dapat memastikan berapa jumlah populasi Stapelia lepida. Walau tidak pernah melimpah, namun tumbuhan ini ahli pastikan tidak tergolong tanaman langka.

Sebagai informasi, nama Stapelia sendiri diperkenalkan oleh Linnaeus di tahun 1737. Nama itu diambil untuk menghormati Johannes van Stapel, dokter dan ahli botani abad ke-17.

Karakteristik dan Manfaat Stapelia Lepida

Pertumbuhan bunga bangkai Afrika sangat bergantung pada penyerbukan serangga, namun mereka juga memerlukan pancaran sinar matahari yang optimal di kawasan beriklim panas.

Tanah tempat berbiaknya Stapelia lepida harus memiliki drainase yang baik. Kandungan pH yang dibutuhkan 6,5-7,5, dengan metode perawatan minim air dan dibiarkan tetap hangat.

Meskipun menyukai iklim yang panas, bibit African starfish flowers paling baik kita tanam di area berkanopi, tanahnya dikeringkan dengan baik, kaya unsur hara serta berudara lembap.

Melansir berbagai sumber, tanaman ini menyukai suhu 25-35 Celsius. Jika kita kembangkan secara benar, African starfish flowers cenderung mudah berbunga serta berumur panjang.

Menariknya bagi Suku Zulu, beberapa bagian Stapelia lepida berguna sebagai obat herbal. Tumbuhan ini juga sering khalayak budi dayakan, terutama sebagai tanaman hias sukulen.

Taksonomi African Starfish Flowers

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page