Udang Jerbung, Komoditas Ekspor Potensial dari Indonesia

Reading time: 3 menit
udang jerbung
Udang Jerbung, Komoditas Ekspor Potensial dari Indonesia. Foto: Shutterstock.

Udang Jerbung (Fenneropenaeus merguiensis de Man) adalah salah satu jenis Penaeid yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Mereka tersebar di seluruh perairan Indonesia, mereka pun menjadi salah satu objek perburuan karena kelezatannya. Harganya yang mahal membuat fauna ini cocok sebagai kandidat budi daya tambak.

Bagi pegiat bisnis kuliner, nama Udang Putih atau jerbung mungkin sudah tidak asing lagi di telinga. Jenis udang ini terkenal dengan cita rasanya yang nikmat dan bergizi tinggi.

Tidak cuma di Tanah Air, hewan bergenus Penaeus ini juga cukup populer di mancanegara. Mata internasional mengenal satwa ini sebagai White Prawn di Hongkong, Banana Prawn di Australia, dan Kaki Merah di Malaysia.

Sebagian publik Nusantara juga mengenal udang jerbung dengan berbagai julukan, seperti Udang Menjangan, Elong, Peci, Pate, Cucuk, Pelak, Kebo Angin, Haku, Wangka hingga Udang Tajam.

Bentuk Tubuh dan Morfologi Udang Jerbung

Morfologi jerbung sejatinya mirip dengan udang pada umumnya. Perbedaan mereka terletak pada warna badannya yang putih kekuning-kuningan, serta corak bintik yang ada di bagian tubuhnya.

Bintik tersebut berwarna hijau dan kuning, dengan bagian ujung ekor dan kaki berwarna merah. Antennula mereka bergaris-garis merah tua, sedang bagian antenanya memiliki corak warna merah.

Gigi rostrum atas udang jerbung berjumlah 5-8 buah, sedang bagian bawahnya berjumlah 2-5 buah. Di bawah pangkal rostrum terdapat mata majemuk bertangkai yang bisa mereka gerakkan.

Apabila kita ukur dari ekor ke punggung, ukuran rerata udang jerbung mencapai 70-80 mm. Namun, apabila kita hitung dari punggung ke kepala, maka ukurannya hanya berkisar 3-4 cm saja.

Kaki jalan (periopod) white prawn terdiri dari lima pasang; tiga di antaranya memiliki capit (chelae), sedang dua lainnya tidak. Pada bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang (peliopod).

Kaki-kaki renang ini terletak di setiap ruas. Pada ruas keenam terdapat kaki renang yang telah berubah bentuk menjadi ekor kipas, dengan bagian ujung yang tampak seperti ekor (telson).

udang jerbung

Melansir laman resmi Kabupaten Buleleng, Indonesia adalah negara penghasil udang jerbung terbesar di dunia. Foto: Shutterstock.

Habitat dan Reproduksi Udang Jerbung

Udang jerbung memiliki sifat bentik, sehingga mereka lebih senang berada di dasar laut ketimbang berenang ke permukaan air. Karakter habitatnya adalah teluk dengan aliran sungai yang besar.

Mereka banyak hidup di sekitar 60-80 mil dari bibir pantai, tepatnya pada kedalaman 8-80 mdpl. Jerbung dewasa banyak hidup di perairan selasar, terutama area yang dekat dengan muara sungai.

Udang penaeid pada umumnya tergolong sebagai hewan heteroseksual, sehingga spesies jantan dan betinanya dapat kita bedakan berdasarkan alat reproduksinya.

Alat reproduksi udang jantan terdiri dari testes, vasa diferensia, petasma, dan appendiks maskulina. Bagian petasma ada di kaki renang, sedang lubang kelamin di antara kaki jalan keempat dan kelima.

Sistem reproduksi udang jerbung betina terbagi atas sepasang ovarium dan oviductus, lubang genital, serta thelycum. Bagian thelycum sendiri terletak di antara kaki jalan keempat dan kelima.

Gonad atau ovarium (indung telur) betina berfungsi untuk menghasilkan telur. Ovarium tersebut akan meluas sampai ke bagian ekor jika kondisinya sudah matang atau siap untuk bereproduksi.

Baca juga: Bunga Mawar, Simbol Cinta yang Bermanfaat bagi Kesehatan

Pemanfaatan Jerbung untuk Budidaya Tambak

Melansir laman resmi Kabupaten Buleleng, Indonesia adalah negara penghasil udang jerbung terbesar di dunia. Jumlah produksi kita bisa mencapai 65 ribu ton per tahunnya.

Salah satu wilayah yang paling banyak menghasilkan udang tersebut adalah Kabupaten Lampung Timur. Sekali melaut para nelayan di kabupaten ini bisa membawa pulang 5-10 kg white prawn.

Udang-udang yang telah nelayan tangkap nantinya akan dijual ke tengkulak. Bila kita bandingkan dengan jenis udang biasa, harga Fenneropenaeus merguiensis de Man terhitung mahal karena berkisar Rp100-150 ribu per kg.

Pemanfaatan jerbung untuk budi daya tambak menjadi hal yang penting. Pasalnya, hal ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap impor benih Vaname.

Sejak dulu, udang vaname memang menjadi primadona ekspor Indonesia. Namun dengan tingginya nilai ekonomis dan permintaan udang jerbung, spesies ini mempunyai potensi yang serupa.

Namun perlu kita ingat, aktivitas penangkapannya sendiri harus memperhatikan kelestarian habitat dan populasinya. Hal ini agar jumlah udang tersebut tidak menurun drastis dan punah.

Taksonomi Udang Jerbung

taksonomi udang jerbung

Referensi

Laman Kementerian Kelautan dan Perikanan

Laman Kabupaten Buleleng 

Eni Kusrini, Balai Riset Budidaya Ikan Hias

Anggi Abdur Rohim, Universitas Sumatera Utara

Penulis: Yuhan Al Khairi

Top