KRLY: Pilah Sampah Harus Diajarkan Sedini Mungkin

Reading time: 2 menit
KRLY
KRLY. Foto: instagram.com/krlymusic

Jakarta (Greeners) – KRLY atau kerap disapa Kerli, merupakan penyanyi pendatang baru di industri musik tanah air. Namun, perempuan yang memiliki ciri khas berambut keriting ini telah  mengeluarkan dua single yang berjudul Stay dan Gone Away. Selain memiliki suara yang khas, ia juga ikut berkontribusi dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Penyanyi yang pernah mengikuti ajang X Faktor Indonesia 2015 ini juga menceritakan sudah mulai mengurangi penggunaan plastik sejak lama. Misalnya dengan membawa sedotan stainless, tumbler, dan menolak saat diberikan kantong plastik sekali pakai. Ia juga mengatakan mulai sekarang, setiap datang untuk minum ke suatu kedai kopi membawa perlengkapan tersebut sendiri.

“Kadang kalau ditawarin plastic bag aku suka menolak dan biasanya aku bawa tas gede ke mana pun pergi,” kata dia, saat ditemui di acara “BNI Java Jazz On The Move”, di Jakarta, Sabtu, (15/02/2020).

Terkait dengan penerapan Jakarta bebas kantong plastik, KRLY menilai masih ada beberapa pihak yang masih menggunakannya. Sebab dari segi bisnis, kata dia, plastik lebih murah.  “Sering kali tetap pakai plastik, mungkin sampah plastik yang dikurangi, tapi juga tempat minumnya pakai plastik styrofoam. Itu masih sama saja,” ucap KRLY.

KRLY

KRLY dalam acara BNI Java Jazz On The Move, di Jakarta, Sabtu, (15/02/2020). Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

KRLY mengapresiasi kebijakan pemerintah yang mengeluaran peraturan tersebut. Namun, ia menyarankan agar tetap harus dilakukan gerakan mengurangi sampah di setiap festival atau konser sehingga dampaknya lebih luas.“ Jadi lebih membangun lagi habit seperti itu. Untuk pihak-pihak produsennya menurut aku bisa dibangun terlebih dahulu,” kata dia.

Tidak hanya regulasi serta melakukan pengurangan saja, menurutnya Indonesia harus mulai menanamkan pemahaman mengenai lingkungan. Upaya tersebut dapat diterapkan di semua instansi pendidikan. Misalnya dengan dimasukannya kurikulum pendidikan mengenai pemilahan sampah sehingga pengetahuan mengenai jenis-jenis sampah organik, nonorganik, dan Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) akan menjadi kebiasaan.

“Harusnya diajarkan sedini mungkin, harus mulai untuk masa depan di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Harus sudah diterapkan pembelajaran tentang itu,” ucap KRLY.

Penulis: Ridho Pambudi

Top