Mengarak Naga, Meruwat Umbul Gemulo

Reading time: 3 menit
Dalam arak-arakan lesung naga, dibawa pula tumpeng  dari hasil bumi tiga dusun di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Foto: greeners.co

Dalam arak-arakan lesung naga, dibawa pula tumpeng dari hasil bumi tiga dusun di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Foto: greeners.co

Gelaran kirab tumpeng dan air tuwuh yang dijaga kepala naga ini merupakan salah satu rangkaian Festival Mata Air 2014 yang diselenggarakan Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, JawaTimur.

Salah seorang panitia acara, Aris Faudzin, mengatakan, dengan digelarnya Festival Mata Air ini, masyarakat yang tergabung dalam FMPMA ingin mengampanyekan pentingnya menjaga dan merawat serta meruwat atau nguri-uri sumber mata air yang ada di Kota Batu, khususnya sumber mata air Umbul Gemulo yang menjadi tumpuan hidup warga sejak lama.

Simbol lesung berkepala naga yang di bawahnya terdapat air dari tujuh sumber menyimbolkan bahwa sumber mata air harus dijaga, dan tiga jenis tumpeng menyimbolkan bentuk hasil bumi warga yang harus disyukuri. “Arak-arakan itu menjadi simbol bahwa menjaga dan merawat sumber mata air harus dilakukan bersama-sama,” kata Aris, Sabtu (8/11/2014).

Salah satu tokoh desa setempat, Rudi, menambahkan, acara yang juga mendapat dukungan dari beberapa desa di sekitarnya ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga sumber mata air masih tinggi. “Semoga dengan adanya festival ini bisa menambah kesadaran warga untuk merawat dan meruwat sumber mata air,” katanya.

Ia mengungkapkan, debit sumber mata air Umbul Gemulo yang ada saat ini sudah jauh menurun dari 10 tahun lalu. Ia memerkirakan, turunnya debit air dari sumber mata air Umbul Gemulo mencapai 60 persen. Menurutnya, kebutuhan air masyarakat Umbul Gemulo baik untuk irigasi pertanian maupun kebutuhan hidup sehari-hari seluruhnya berasal dari sumber ini. Karenanya, jika ada ancaman yang mengakibatkan sumber ini mati, maka warga siap berada di garis depan untuk melawan.

(G17)

Top

You cannot copy content of this page