Ancaman Krisis Air Imbas Populasi hingga Perubahan Tata Guna Lahan

Reading time: 8 menit
Ancaman krisis air di Indonesia. Foto: Greeners
Ancaman krisis air di Indonesia. Foto: Greeners

Air adalah elemen paling berharga yang menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di bumi. Tanpa air, mustahil kita bisa hidup sejahtera. Sayangnya, krisis air bersih kian melanda dunia akibat pertumbuhan populasi dan perubahan penggunaan lahan. Krisis ini bukan hanya akibat kekurangan air, melainkan juga karena sumber daya air yang melimpah di bumi belum terkelola dengan baik.

Jakarta (Greeners) – Sejak tahun 2021, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan dunia tentang ancaman krisis air global. Indonesia harus menyoroti persoalan krisis air ini untuk mencegah terjadinya bencana dan konflik dalam jangka panjang.

Pakar Tata Kelola Air Universitas Indonesia, Firdaus Ali mengatakan bahwa isu krisis air ini bukan menjadi sesuatu yang baru di Indonesia. Dalam 30 tahun terakhir, krisis air di Indonesia semakin intens. 

“Jadi, kita sudah di tengah-tengah krisis air. Kebanyakan orang selalu menganggap krisis itu kekurangan, padahal tidak. Air yang tidak mampu dikelola juga merupakan krisis,” ungkap Firdaus kepada Greeners, Kamis (14/3). 

Menurut Firdaus, air merupakan kebutuhan pokok bagi benda hidup dan benda mati. Segala aktivitas di bumi tidak dapat terpisah dari air.

Namun, faktanya, kini ancaman krisis air sudah di depan mata. Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap krisis air, seperti berkurangnya resapan air akibat perubahan penggunaan lahan dan minimnya infrastruktur pengelolaan air. Kemudian, pesatnya pertumbuhan penduduk juga meningkatkan kebutuhan air bersih.

Berdasarkan studi Indonesia Water Institute (IWI), potensi air tawar yang bisa masyarakat manfaatkan di Indonesia sebesar 2,78 triliun meter kubik. Namun, dengan situasi saat ini, air yang dapat masyarakat manfaatkan sebesar 691,31 miliar meter kubik per tahun. 

“Saat ini, air yang baru kita manfaatkan yaitu 222,59 meter kubik, sisanya 468,72 miliar meter kubik belum dimanfaatkan. Kenapa? Karena tidak ada infrastrukturnya dan hutannya gundul. Paling besar, air dimanfaatkan untuk irigasi sebesar  177,13 miliar meter kubik per tahun, ini baru bisa mengisi 11% untuk lahan pertanian.”

 

Krisis Air Menjadi Sumber Bencana

Firdaus memaparkan, potensi hujan di Indonesia sangatlah tinggi dengan rata-rata 2.700 milimeter per tahun. Apabila curah hujan ini dikalikan dengan daratan di Indonesia, kemudian dibagi dengan populasi di Indonesia. Setiap jiwa memiliki potensi menggunakan air tawar sebesar 802.023 meter kubik per kapita per tahun. 

“Jadi, potensi volume air sangat besar, tetapi air tersebut tidak termanfaatkan dan tidak terkelola dengan benar karena minimnya infrastruktur pengelolaan air. Sehingga, potensi air yang sangat besar tersebut pada akhirnya dapat menimbulkan bencana. Sistem serapan vegetasi pun kini sudah sangat berkurang.”

Firdaus menambahkan, dahulu ketika hujan turun di daerah pegunungan yang masih terdapat vegetasi alami, air meresap sekitar 70%. Kemudian, sisa air yang berlebih sebesar 10% diuapkan secara langsung atau tidak langsung melalui evaporasi.

“Jadi, jumlah air yang meresap itu banyak, sehingga yang masuk ke sungai pun jumlahnya konstan, baik musim hujan maupun musim kemarau. Sehingga, fluktuasi debit saat kemarau dan tidak kemarau itu tidak drastis,” tambah Firdaus.

Sayangnya, kini kondisinya sudah berbeda. Serapan vegetasi alami justru semakin menyusut hingga menimbulkan krisis air yang menjadi sumber bencana.

Padatnya Populasi Mengancam Ketersediaan Air 

Sementara itu, pada 15 November 2022 lalu, PBB mengumumkan jumlah populasi penduduk mencapai lebih dari 8 miliar. Hal ini akan berimbas pada kebutuhan ruang yang semakin meningkat hingga mengancam ketersediaan air. 

“Populasi yang banyak ini butuh ruang karena setiap jiwa-jiwa yang lahir dan hidup butuh ruang tempat tinggal, air, dan pangan. Ketika populasi bertambah, kebutuhan ruangan pun juga akan bertambah. Padahal, planet ini tidak membesar, malah cenderung mengecil. Lalu, apa yang terjadi? Akhirnya, terjadi konversi lahan atau ruang. Misalnya, mengubah hutan menjadi industri, mengubah perkebunan menjadi sawah, lalu sawah menjadi kawasan industri yang nantinya akan menjadi perumahan.”

Artinya, lanjut Firdaus, sistem resapan alam pun sudah berubah dan akan mengancam ketersediaan air. Dengan demikian, saat ini yang terjadi ketika hujan turun, sebagian besar air sudah tidak meresap ke dalam tanah. Sebab, tanah alami telah ditutup oleh aspal dan maraknya pembangunan infrastruktur telah menutup resapan air. 

Di sisi lain, sumber daya air sebenarnya sangat melimpah, contohnya seperti di Indonesia yang memiliki potensi curah hujan yang sangat tinggi. Namun, luas sungai dan danau yang mampu menampung air hujan tersebut tidaklah melebar sehingga menimbulkan kelebihan air yang akhirnya berujung pada bencana.

“Jadi, sungai dan danau malah cenderung menyempit karena ada sedimentasi dan lain-lain. Maka dari itu, air yang melimpah lebih banyak daripada yang meresap. Sungai sebagai badan air tidak mampu menampung. Sehingga, air pun meluber atau banjir,” imbuh Firdaus. 

Banjir menerjang Jawa Tengah imbas alih fungsi lahan. Foto: BNPB

Banjir menerjang Jawa Tengah imbas alih fungsi lahan. Foto: BNPB

Air Tak Terkelola akibat Minimnya Infrastruktur 

Menurut Firdaus, penyebab bencana seperti banjir bukan semata-mata potensi curah hujan yang tinggi. Bencana ini timbul akibat aktivitas antropogenik ulah manusia. Apalagi, Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi, tetapi infrastruktur pengelolaan air seperti bendungan masih sangat minim. Padahal, tata guna lahannya sudah berubah hingga resapan airnya menipis. 

“Misalnya, di Cina ada pembangunan secara masif, tetapi secara bersamaan mereka juga membangun untuk menggantikan ruang resapan alami atau kapasitas penyimpanan secara natural seperti bendungan,” paparnya. 

Pada akhir tahun 2025 atau paling lambat 2026, lanjutnya, ada 61 bendungan baru yang bakal dibangun di Indonesia. Secara keseluruhan nantinya Indonesia akan memiliki 230 bendungan. Namun, Firdaus menegaskan bahwa Indonesia sangat tertinggal oleh negara lain. Ketersediaan bendungan di Indonesia saat ini berada di posisi terbawah, bahkan hampir setara dengan negara Ethiopia.

Jepang memiliki 3.000 bendungan, Amerika Serikat 6.000 bendungan, dan Cina yang memiliki populasi terbanyak di dunia memiliki 98.000 bendungan. Jumlah ini belum seberapa jika dibandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki sekitar 230 bendungan.

“Jadi, kalau nggak punya water security, jangan bermimpi punya ketahanan pangan. Itu hanya angan semata saja, inilah yang tidak dipahami oleh banyak orang. Jangan heran ketika hujan turun, kelebihan air ini jadi bencana, bukan jadi berkah. Padahal, satu tetes air itu adalah kehidupan dan sebuah keberkahan.”

 

Ancaman Krisis Air di Pulau Jawa

Jawa merupakan salah satu pulau di Indonesia yang paling terancam krisis air. Neraca air di Pulau Jawa tidak merata karena kebutuhan air tinggi namun ketersediaan air rendah.

“Sekitar 55 persen masyarakat Indonesia menghuni Pulau Jawa. Namun, ketersediaan air di sana hanya ada 4,5 persen. Kebayang tidak? 55 persen orang yang membutuhkan air, tetapi air yang tersedia hanya 4,5 persen,” kata Firdaus. 

Berbeda dengan Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi yang tidak bernasib seperti Pulau Jawa. Pasalnya, wilayah tersebut memiliki cadangan air yang melimpah dan penduduknya tidak sepadat di Pulau Jawa.

“Jawa adalah pulau yang betul-betul memiliki water stress area yang paling berat di Indonesia, area ini rawan krisis air,” imbuh Firdaus. 

Kondisi Mata Air di Indonesia Makin Menyusut 

Firdaus memaparkan studinya bersama IWI pada tahun 2012. Mereka mendata mata air mulai dari Banten, Jawa Barat sampai Banyuwangi, Jawa Timur. Berdasarkan temuannya, ada kesurutan mata air yang sangat drastis dibandingkan 40 tahun yang lalu. 

“Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, mata air kita sudah hilang dan berganti dengan air mata. Di pedesaan, mata air kita juga sudah menyusut. Apalagi, saat ini ada konflik industri air minum dalam kemasan (AMDK) mengambil mata air. Sehingga, akhirnya ada peraturan yang bisa membatasi perusahaan AMDK untuk mengambil mata air,” ungkap firdaus. 

Pendiri Jaga Semesta, Fainta Negoro juga mengungkapkan bahwa hampir semua mata air di Pulau Jawa mengalami penurunan debit air dan beberapa bahkan telah mengering. Menurutnya, beberapa mata air yang dahulunya menjadi objek wisata mengalami perubahan fungsi lahan menjadi bangunan. Bahkan, ada beberapa yang diubah menjadi kolam renang. 

Dalam wawancara eksklusif bersama Greeners, Fainta pun menyoroti betapa pentingnya peran mata air dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sebagai sumber air bersih yang mudah diakses.

Groundwater atau air tanah tidak terlihat secara langsung, namun mata air merupakan representasi nyata dari keberadaannya. Kondisi mata air mencerminkan kesehatan ekosistem di sekitarnya dan menjadi indikator penting bagi keberlangsungan hidup manusia.”

Jaga Semesta, dengan pendekatan kerelawanan dan gotong-royong terus berusaha untuk merestorasi mata air dan menjaga keberlanjutannya. Tim ahli teknis mendukung dengan pengetahuan tentang karakteristik mata air, sementara sukarelawan dari masyarakat turut membantu dalam aksi nyata lapangan.

“Melalui penanaman pohon dan perawatan mata air, kami berupaya untuk memulihkan ekosistem yang rusak,” jelas Fainta.

Nilai Budaya Masyarakat Tergerus

Sementara itu, lanjut Fainta, tantangan besar muncul dari kebiasaan masyarakat yang cenderung menggunakan sumur bor dan pompa air untuk memperoleh air dengan mudah. Fainta mencatat bahwa hal ini bisa menggerus nilai-nilai budaya seperti tenggang rasa dan kehidupan berkelompok.

Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo juga berpendapat yang sama. Menurut Edi, dengan kemudahan aksesibilitas air, maka mindset masyarakat terhadap air mulai berubah menjadi lebih modern dan instan. 

“Air tak lagi dianggap sebagai suatu yang penting secara materi maupun spiritual. Akibatnya, sumber- sumber air yang dahulu menjadi sumber kehidupan seluruh warga mulai terabaikan, terlupakan, terbengkalai, terpuruk, dan hilang tinggal cerita,” ujarnya. 

Ilustrasi sumber mata air. Foto: Resan Gunungkidul

Ancaman krisis air membuat komunitas Resan Gunungkidul melakukan restortasi sumber mata air. Foto: Resan Gunungkidul

Lestarikan Mata Air Lewat Penanaman Pohon 

Inisiatif masyarakat yang dapat membantu mencegah ancaman krisis air mulai bermunculan. Misalnya, Jaga Semesta yang giat memulihkan mata air di Pulau Jawa. Hal serupa juga dilakukan oleh Komunitas Resan Gunungkidul. Sejak tahun 2018, mereka aktif berupaya melindungi mata air melalui penanaman pohon.

Edi memiliki makna tersendiri terhadap mata air. Menurut Edi, sumber air adalah titik spiritual masyarakat. Sebuah tempat suci kehidupan berawal dan tergantung padanya.

“Ibarat seorang ibu yang mengasuh, memberi makan, menjaga, dan membentuk budaya yang berkembang di masyarakat. Air juga merupakan avatar (elemen dasar kehidupan) yang oleh orang jawa dimaknai dengan ‘bumi, geni, banyu, lan angin’ (tanah, api, air dan udara).”

Dalam melestarikan mata air di Gunungkidul, Resan Gunungkidul melakukan beberapa upaya seperti menanam pohon, mendata, dan menuliskan folklor atau cerita rakyat tentang mata air. Mereka juga terus menormalisasi sumber air alami yang ada di Gunungkidul. 

Saat ini, Resan Gunungkidul telah menanam pohon di 17 titik mata air. Jenis pohon konservasi yang mereka tanam yaitu beringin, trembesi, gayam, jambu air, klumpit, aren, dan kepuh. Terkadang, mereka juga menanam jenis tanaman buah untuk meminimalisasi serangan monyet ekor panjang ke lahan pertanian penduduk. 

Edi berpesan, lakukanlah aksi giat lingkungan semampunya meski kecil dan sederhana. Jagalah konsistensi dan jalani dengan gembira. Setelah itu, pasrahkan pada gusti Allah dengan niat dan itikad baik yang diwujudkan, ia percaya tak ada yang sia-sia.

“Air adalah kebutuhan yang ‘prima need’. Artinya, air adalah kebutuhan dasar makhluk hidup. Tanpa air, semua bentuk kehidupan di bumi akan musnah. Menjaga kelestarian air adalah kewajiban bersama seluruh umat manusia. Sebab, hakikatnya menjaga air adalah menjaga keberlangsungan kehidupan.”

 

Jadikanlah Air sebagai Sarana Perdamaian

Hari Air Sedunia diperingati setiap 22 Maret. Tahun ini PBB mengangkat tema “Leveraging Water for Peace”. Pada momen ini, masyarakat diingatkan untuk memanfaatkan air sebagai sarana perdamaian.  

Firdaus mengatakan, saat ini banyak konflik di banyak tempat terkait perebutan sumber daya air. Misalnya saja di Indonesia, konflik perebutan air sudah tidak asing lagi terjadi pada kalangan masyarakat.

Kendati demikian, tema tahun ini sangatlah relevan. Sebab, jika air dikelola dengan baik bersama-sama, pada hakikatnya air akan membawa kedamaian, bukan konflik yang mengakibatkan perang.

“Satu-satunya elemen yang menghubungkan kita dengan kehidupan sekarang dan nanti hanya satu elemen, yaitu air. Air adalah sumber untuk menciptakan kedamaian. Jangan sampai air jadi konflik dan bencana. Jangan sampai air jadi isu yang akan membawa kita ke krisis pangan maupun krisis energi. Kita punya tanggung jawab individu bahwa air itu harus dilindungi, diproteksi, dan digunakan secara bijak. Kalau kita menggunakan air dengan baik, air juga bakal treat kita dengan baik.”

Pentingnya Kesadaran terhadap Posisi Mata Air

Di sisi lain, dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, Fainta juga menggarisbawahi pentingnya kesadaran terhadap posisi strategis mata air dalam mewujudkan kedamaian. Menurutnya, ketidaktahuan terhadap posisi mata air bisa memicu konflik yang merugikan masyarakat lokal.

Masyarakat perlu melakukan hal-hal sederhana. Mulai dari menjaga kebersihan sungai dan tidak mencemari sumber air agar sumber daya yang amat bernilai ini dapat terus masyarakat gunakan secara berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu berkonflik memperebutkan air pada masa mendatang.

Sementara itu, melalui langkah-langkah konkret seperti restorasi mata air dan penyuluhan kepada masyarakat, Jaga Semesta pun berharap dapat menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi krisis air, khususnya di Pulau Jawa. Fainta mengatakan, dengan kesadaran akan pentingnya menjaga sumber daya alam, diharapkan ancaman krisis air dapat dicegah dan tentunya perdamaian dapat terjaga, karena air yang bersih adalah hak bagi semua makhluk.

“Kita perlu mengingatkan diri bahwa kedamaian juga tergantung pada bagaimana kita memperlakukan sumber daya alam dan tetangga kita. Bayangkan saat kita memperdalam dan memompa sumur kita tanpa memperdulikan sekitar, akibatnya sumur tetangga kita akan ikut tersedot dan mengalami kekeringan,” ujar Fainta. 

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top