Story of Plastic: Mengatasi Sampah Plastik Tak Cukup dengan Daur Ulang

Reading time: 3 menit
Story of Plastic
Seorang perempuan berdiri di dekat gunungan sampah. Foto: Story of Plastic

Judul Film: Story of Plastic

Tahun: 2019

Genre: Film

Durasi: 1 Jam 35 Menit

Directed and Produser: Deia Schlosberg

Pemain : Zoe Carpenter, Carrol Muffet, Tiza Mafira, Pratibha Sharma, Mannan Khan, Froilan Grate, Von Hernandez, Joseph Borgonia, Martin Borque,Clarissa Morawski, Mao Da, Emma Priestland, Liwen Chan, Prigi Arisandi, Shibu K N, Jai Prakash C, Ranjit Devraj, Delphine Levi A, Sarah Jeanne R, Joan Marc S, Neeta Misra, Kashish Hashim, Bharati Chaturvedi.

Tahun 1907 plastik sintetis mulai muncul sebagai penemuan terbesar. Dahulu plastik dipuji sebagai material yang ajaib dibandingkan produk lainnya karena sifatnya yang praktis, tahan banting, dan tahan lama.

Film Story of Plastic yang tayang perdana di Amerika 22 April lalu, merupakan film garapan The Story of Stuff Project, React Film, dan Break Free from Plastic. Film ini  mengeksplorasi sebab akibat industri plastik yang berkembang di seluruh dunia. Industri plastik terus mengembangkan produk ke seluruh dunia tanpa bertanggung jawab terhadap sampah plastik yang dihasilkan.

Dalam kurun waktu 10 -15 tahun gaya hidup masyarakat mulai berubah dengan cepat dan permintaan plastik semakin meningkat. Hingga saat ini plastik menjadi polemik di seluruh dunia bukan hanya karena mencemari lautan, sungai, dan tanah. Namun, senyawa kimia plastik berdampak kepada kesehatan masyarakat.

Aktivis lingkungan, komunitas, dan advokasi lingkungan dari beberapa negara menyatakan hal serupa bahwa seluruh dunia mengalami masalah dengan plastik. Berbagai upaya dan gagasan pun dilakukan untuk mengurangi, mendaur ulang, dan menerapkan gaya hidup minim sampah dalam memerangi produsen plastik.

Masuk di era modern, industri mulai menyebarkan manipulasi seakan masalah penumpukan sampah di berbagai tempat disebabkan oleh pengelolaan yang buruk. Walaupun industri membantu dan menawarkan bantuan untuk mengelola, hal tersebut belum menjadi solusi, sebab konsumen dan pemerintah tidak memiliki infrastruktur daur ulang yang memadai.

Story of Plastic

Alur perjalanan plastik dimulai dari produksi hingga berakhir di pembuangan. Foto: Story of Plastic

Saat ini dengan berkembangnya akses informasi, industri plastik mengalihkan isu dengan mengucurkan dana untuk kegiatan pembersihan dalam skala besar atau kecil. Ini dirasa sangat efektif untuk melupakan dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan.

Film ini juga merangkum bagaimana Amerika sebagai negara adidaya terlihat lebih mementingkan investasi dibanding menjaga kelestarian lingkungan. Berbagai bentuk intimidasi kepada masyarakat yang menolak pembangunan pabrik petrokimia untuk mensukseskan pembangunan pabrik baru terus terjadi.

Setelah Amerika mengklaim memiliki sumber daya hidrokarbon yang sangat melimpah, pada 2005 Presiden George Bush mengeluarkan undang-undang yang mencakup insentif pajak untuk mendorong pembangunan jalur pipa gas alam. Bersama Arab Saudi, Amerika sepakat membuat pabrik manufaktur plastik terbesar di dunia dan menerima kucuran dana miliaran hasil dari keringanan pajak AS dan subsidi lainnya.

Akumulasi perkiraan dari Dewan Kimia Amerika mencatat, sebanyak 194 miliar dolar diinvestasikan Amerika untuk 325 pabrik petrokimia baru untuk plastik. Mulai saat ini hingga 2025, Negara Paman Sam ini sudah memproduksi lebih banyak plastik dan selanjutnya akan meluncur ke pasar Asia, eropa, dan jalur-jalur produk terbaru.

Zat-zat kimia yang dibutuhkan untuk membuat plastik berasal dari berbagai formulasi, maupun campuran minyak dan gas. Di dalam dua bahan terakhir terdapat zat kimia seperti benzena, toluena, etil benzena, dan xilena. Zat tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Story of Plastic

Sebuah kapal tongkang mengangkut sampah plastik yang akan didaur ulang. Foto: Story of Plastic

Plastik didorong bukan karena permintaan, tetapi oleh pasokan. Plastik juga merupakan bahan bakar fosil yang menemukan bentuk baru dan tempat baru untuk berada di dalam arus ekonomi. Environmental Protect Agency (EPA) menilai zat kimia banyak yang tidak terpantau dan semakin banyak zat kimia yang dicoret dari daftar EPA. Sebanyak 86.00 lebih zat kimia yang diakui di Amerika Serikat dan hanya 187 yang kini diregulasi oleh EPA terkait polusi udara.

Pada akhirnya seluruh dunia mulai mengeluarkan kebijakan pengurangan plastik untuk meminimalisir timbulan plastik di seluruh dunia. Produksi plastik akan mengubah kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik secara drastis. Dalam kurun waktu lima hingga enam tahun polusi sudah sangat tidak terkendali dan masuk ke dalam saluran air.

Para aktivis lingkungan seluruh dunia mengatakan krisis plastik tidak bermula saat plastik masuk ke lautan. Krisis justru bermula saat minyak dan gas keluar dan itu akan terus menjadi masalah.

Untuk menghentikan plastik, masyarakat harus bersama-sama berjuang mengakhiri subsidi bahan bakar fosil. Perusahaan juga diminta agar bertanggung jawab atas dampak produk yang telah terpakai. Ketika industri bertanggung jawab, krisis plastik akan berakhir. Di samping itu, upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan gaya hidup minim sampah (zero waste), melakukan daur ulang secara efektif, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Penulis: Ridho Pambudi

Top