Wall-E

Reading time: 2 menit

Judul Film : Wall-E
Sutradara : Andrew Stanton
Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard
Produksi : Pixar, USA, 2008 (Colour Animation)
Durasi : 92 menit, Animation

Pixar meluncurkan garapan animasinya berjudul Wall-E, yang isunya dekat dengan kepedulian lingkungan. Jangan selalu membayangkan kehidupan bumi di masa depan serba luxurious. Kehidupan modern adalah sampah, dalam artian sebenarnya.

Melalui film ini, kita diajak maju melihat bumi 700 tahun mendatang yang dipenuhi sampah, mirip seperti versi raksasa tempat pembuangan sapah akhir Bantar Gebang atau Leuwi Gajah. Manusia tidak tertarik lagi tinggal di bumi, dan melakukan migrasi massal ke sebuah kapal induk di luar angkasa bernama Axiom. Logikanya jadi terbalik, bukan bumi yang dibersihkan, namun malah bumi yang dilupakan.

Wall-E (Waste Allocation Load Lifter-Earth-Class) adalah robot yang diprogram khusus untuk mendaur ulang sampah di bumi. Kehidupan manusia di luar angkasa sendiri digambarkan amat terbuai oleh teknologi, sampai-sampai manusia pun berevolusi secara fisik. Bentuk fisik manusia semakin menggendut dan struktur tulangnya semakin mengendur, akibat malas bergerak dan hidup serba instan dengan bantuan teknologi.

Di tengah kesendirian Wall-E beraktivitas sebagai pembersih bumi, suatu hari ia bertemu robot periset yang cantik dan canggih (berbeda dengan Wall-E yang digambarkan serupa rongsokan) bernama Eve. Eve dikirim oleh Axiom untuk mencari tanaman yang keberadaannya sangat langka, sebagai salah satu gejala bahwa bumi siap dihuni kembali. Mereka kemudian mulai menjalin kisah kasih ala robot, sembari berjuang keras mengembalikan kehidupan manusia pada “hakikat”-nya untuk tinggal di bumi.

Wall-E menambah deretan film animasi yang menggambarkan sisi manusiawi robot. Kisah cinta Wall-E dan Eve memiliki kelucuan tersendiri. Bayangkan saja robot yang malu-malu mendekati pasangannya demi sekadar bergandengan tangan. Walau film ini minim dialog, namun mampu memancing tawa dan tetap terasa sisi emosionalnya. Dua jempol untuk mata dan bahasa tubuh Wall-E yang tampil ekspresif dan dirasa cukup menggantikan dialog.

Film dengan teknik animasi luar biasa bagus, cerita lucu, pengembangan karakter yang baik ini membuat kita tak membuang uang percuma untuk menontonnya. Terlebih lagi, kita sulit menolak muatan nilai moral yang diangkat film ini. Bahwa teknologi dan segala kecanggihan mesin tidak berhak dijadikan sandaran bagi manusia untuk “hidup”. Dan bagaimanapun juga, bumi adalah rumah. Kita tentu perlu menjaganya agar ia tetap nyaman untuk ditinggali. (deme)

Top