We Are Traffic! Dokumenter yang Soroti Kemacetan Lalu Lintas

Reading time: 2 menit
We Are Traffic! merupakan film dokumenter yang menyoroti kemacetan lalu lintas. Foto: Amazon
We Are Traffic! merupakan film dokumenter yang menyoroti kemacetan lalu lintas. Foto: Amazon

Sobat Greeners, kemacetan lalu lintas serta polusi udara yang terjadi di Indonesia–khususnya di Jakarta– menjadi permasalahan dan tantangan bagi semua pihak. Hal tersebut tidak lepas dari maraknya pemakaian kendaraan pribadi, khususnya mobil.

Permasalahan yang tengah dialami oleh masyarakat di abad 21 rupanya mengalami hal yang sama di akhir abad 20-an. Hal itu terekam dalam film dokumenter We Are Traffic!.

Pada saat itu, khususnya di tahun 90-an, penggunaan kendaraan pribadi semakin membuat padat suasana jalanan. Kepadatan tersebut terjadi di setiap perkotaan besar di dunia, termasuk Amerika Serikat.

Padatnya transportasi pribadi membuat sebagian masyarakat muak. Mereka pun membuat gerakan sosial-politik untuk mencari transportasi alternatif lain, yakni sepeda. Simak ulasan film We Are Traffic! selengkapnya di bawah ini!

Critical Mass sebagai Ujung Tombak dari Gerakan Alternatif Transportasi

We Are Traffic! menceritakan tentang sejarah dan perkembangan gerakan sepeda ‘Critical Mass’. Gerakan tersebut merupakan aksi langsung tanpa kekerasan paling bersemangat dan dinamis di tahun 90-an. Di lebih dari 200 kota dan 14 negara berbeda, Critical Mass kini menjadi perayaan bulanan untuk merebut kembali jalan oleh para pesepeda yang bersepeda secara massal.

Gerakan tersebut lahir dari meningkatnya kemacetan lalu lintas, polusi, dan kemuakan saat berkendara. Kian banyak orang di seluruh dunia yang menganjurkan alternatif transportasi, yakni bersepeda. Critical Mass menjadi salah satu ujung tombak dari gerakan alternatif hari ini yang masih terus hidup.

We Are Traffic! merupakan film dokumenter berdurasi 49 menit yang rilis pada tahun 1999. Film itu bertujuan melacak gerakan akar rumput tanpa pemimpin dan terdesentralisasi di San Francisco pada tahun 1992 hingga penyebarannya ke seluruh dunia. Selain itu, film ini juga menggambarkan keberhasilan serta kegagalan berbagai macam kalangan dari pesepeda yang unik ini.

Tidak hanya itu, We Are Traffic! juga menunjukkan bagaimana Critical Mass telah menyatukan berbagai orang di ruang publik. Dalam upayanya untuk meningkatkan kesadaran publik, Critical Mass sering kali menginspirasi masyarakat lainnya dan beberapa kali harus menghadapi tantangan publik.  Bahkan, pihak kepolisian menganggap gerakan ini membuat kekacauan dan mengganggu ketertiban umum.

Pergerakan Politik Modern yang Menyebar Luas ke Seluruh Dunia

We Are Traffic! adalah sebuah analisis menarik tentang Critical Mass sebagai pergerakan politik modern yang menantang gagasan tentang gerakan politik yang semestinya terlihat dan bagaimana fungsinya. Film yang disutradarai Ted White dan dibintangi Chris Carlsson ini juga menyelidiki berbagai contoh nyata dari seni yang berhubungan dengan transportasi.

Film tersebut juga berfokus pada karya seniman mural Rigo23. Ia membuat karya seni rambu lalu lintas yang menampilkan pertanyaan alih-alih memberi perintah. Selain itu, film itu juga menyoroti karya-karya yang terkait Critical Mass lainnya termasuk Jim Swanson, Beth Verdekal, dan “Departemen Seni Publik San Francisco”.

Film dokumenter ini telah menghadirkan sisi lain dari gerakan Critical Mass yang tidak tampak di media mainstream dan menggambarkan hal yang menakjubkan mengenai penyebaran geografis Critical Mass. Tidak hanya itu, We Are Traffic! juga memberikan gambaran sekilas tentang gerakan Critical Mass di banyak tempat. Gerakan itu tidak hanya terjadi di San Francisco, melainkan juga di kota-kota di negara bagian Amerika Serikat seperti di Austin (Texas), Eugene (Oregon), Chape Hill (Carolina Utara), Kota New York (New York), dan Chicago (Illinois).

Selain itu, gerakan Critical Mass juga terjadi di luar Amerika Serikat seperti di Kopenhagen (Denmark), London (Inggris Raya), dan Sydney (Australia). Sobat Greeners yang ingin berpartisipasi aktif dalam diskusi lingkungan, film ini masih relevan. Melalui film ini, berbagai ruang diskusi baru bisa dibuka.

 

Penulis: Maula Sulthoni

Editor: Indiana Malia

Top