calendar
Kamis, 16 Agustus 2018
Pencarian
bahan bakar sampah plastik
Dimas Bagus Wijanarko dengan motor vespanya. Ia merakit kembali motor tersebut agar dapat menggunakan bahan bakar dari sampah plastik. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Menempuh 1.200 Kilometer Jawa-Bali dengan Bahan Bakar Sampah Plastik

Inovasi

Jakarta (Greeners) – Seorang pemuda asal Surabaya bernama Dimas Bagus Wijanarko akan melakukan aksi perjalanan individual Jawa-Bali untuk memberikan edukasi sekaligus mengampanyekan bahaya sampah plastik. Dalam perjalanan yang akan dimulai pada 19 Mei hingga 20 Juni 2018 ini, ia akan menggunakan sepeda motor merek Vespa miliknya. Menariknya, ia akan menggunakan bahan bakar dari sampah plastik.

Pria yang akrab disapa Dimas ini menjelaskan bahwa untuk melakukan perjalanan tersebut ia sudah terlebih dahulu memodifikasi motor Vespa miliknya agar dapat menggunakan bahan bakar sampah plastik. Ia mengaku merakit kembali motornya dan membawa alat portabel untuk membuat bahan bakar bensin dari sampah plastik buatannya.

“Banyak masyarakat yang bertanya-tanya bisakah saya memakai bahan bakar sampah plastik. Keraguan tersebut akan terjawab di workshop-workshop yang akan saya lakukan nanti. Pengembangan sampah plastik sudah saya lakukan sejak tahun 2014 dan sampai saat ini masih dilakukan penelitian dan pengembangan supaya bisa dipakai oleh semua kalangan,” ujar Dimas kepada Greeners melalui telepon, Selasa (15/05/2018).

bahan bakar sampah plastik

Alat pengubah sampah plastik menjadi bahan bakar ciptaan Dimas. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Lebih lanjut ia menjelaskan, alat portabel yang bisa mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar ini beratnya 10 kg dengan lebar 40 cm dan panjang 97 cm. Terdapat 2 tabung reaktor, pipa instalasi dan filter hydrocarbon dalam rangka alat ini.

Dimas menerapkan proses pyrolysis menggunakan sistem destilasi kering pada alat tersebut. Dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam dalam proses pembuatan bahan bakar menggunakan sampah plastik dengan alat ciptaan Dimas. Untuk menghasilkan bensin 400 ml atau 1 liter minyak mentah, ia membutuhkan 1 kg sampah plastik.

“Saat ini saya sedang memproses bahan bakarnya di Gudang Sarinah (Jakarta) dengan mengolah sampah plastik yang sudah terkumpul dan yang ada di sekitar kami untuk menjadi cadangan (bahan bakar) saat melakukan perjalanan nanti. Tapi tidak menutup kemungkinan jika di tengah jalan saya kehabisan bahan bakar, saya akan mengolah sampah plastik tersebut di setiap perjalanan saya,” ujar Dimas.

bahan bakar sampah plastik

Dimas akan menepuh 1.200 kilometer dengan alat pengubah bahan bakar sampah plastik portabel ciptaannya. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Diperkirakan perjalanan ini akan menempuh jarak sekitar 1.200 kilometer. Pada titik-titik pemberhentian yang telah ditentukan, Dimas akan memberikan edukasi dan workshop mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar sekaligus menggalang dana untuk gerakan Get Plastic yang ia gagas. Ia juga akan membuka donasi plastik untuk plastik jenis kresek, bungkus makanan dan gelas minuman, serta melakukan ngabuburit.

Dimas berharap perjalanan yang dilakukan selama bulan Ramadhan ini akan membawa keberkahan saat memberikan ilmu kepada masyarakat lewat pelatihan yang ia berikan nanti.

“Pahalanya kita berbagi ilmu, jadi saya akan memberikan ilmu saya, bagaimana cara mengolah sampah plastik, bagaimana bahaya sampah plastik itu terhadap lingkungan dan kehidupan kita sehari-hari. Tema atau topik tersebut yang akan saya bagikan dan mungkin saya dapat pahalanya dari situ,” kata Dimas.

Rute perjalanan yang dipilih oleh Dimas adalah Jakarta – Bogor – Bandung – Rajagaluh – Yogyakarta – Jepara – Karimun Jawa – Rembang – Surabaya – Blitar – Lumajang – Banyuwangi – Bali.

Rute tersebut dipilih dengan beberapa alasan, seperti permasalahan Sungai Citarum yang ada di Bandung, pembangunan bandara Internasional di Rajagaluh yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi termasuk potensi timbulan sampah, permasalah sampah plastik di laut Karimun Jawa, pembangunan pabrik semen yang menggusur lahan masyarakat di Rembang, dan isu sampah plastik di laut di Bali.

“Tujuan kampanye ini adalah memberitahukan dan mengedukasi masyarakat bahwa sampah plastik masalah bagi kehidupan kita. Banyak masyarakat selama ini tidak tahu bagaimana cara mengolah sampah plastik tersebut. Mereka hanya tahu sampah bisa dibuat menjadi kerajinan tangan yang hanya memiliki masa pemakaian setahun atau dua tahun, kalau tidak terpakai atau tidak terjual pasti akan menjadi sampah juga. Kita harus mengelola sampah dengan baik dimulai dari sekarang,” pungkas Dimas.

Penulis: Dewi Purningsih

Top