Microsoft Berikrar Perangi Kelangkaan Air

Reading time: 2 menit
Microsoft Berikrar Perangi Kelangkaan Air
Microsoft berikrar perangi kelangkaan air. (Foto: Shutterstock).

Salah satu dampak dari perubahan iklim adalah kurangnya ketersediaan air. Microsoft sebagai gergasi pusat data dan perangkat komputer, berikrar mengatasi kelangkaan air sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Perusahaan multinasional ini menamakan ikrarnya Water Positive 2030.

Menyadur The Verge, janji ini merupakan komitmen Microsoft dalam mengurangi karbon dioksida yang berdampak pada pemanasan global sampai dengan 2030.

“Kami akan berinvestasi sebanyak yang kami butuhkan untuk memenuhi tujuan itu,” kata Lucas Joppa, kepala lingkungan Microsoft.

Baca juga: Seniman Tekstil Ciptakan Adibusana dari Rumput Laut

Lebih jauh, Microsot fokus pada pengisian kembali sumber air di empat puluh area operasinya. Data center, atau pusat data digital, seperti Microsoft dan Google membutuhkan jamak air untuk mendinginkan mesin operasional. Sayangnya, pusat data digital dari kedua perusahaan gergasi tersebut beroperasi di daerah yang kekurangan air. Terlebih lagi Microsoft akan membuka pusat data baru di daerah gurun yang kering Arizona, Amerika Serikat.

Microsoft Berikrar Perangi Kelangkaan Air

Microsoft akan membuka pusat data baru di daerah gurun yang kering Arizona, Amerika Serikat. (Foto:Shutterstock).

“Pusat data digital ini, di kepala saya, telah menjadi semacam hantu bagi warga yang tinggal di daerah kekeringan air sana,” kata Martin Doyle, pakar yang mengarahkan Program Kebijakan Air di Institut Solusi Kebijakan Lingkungan Nicholas di Universitas Duke.

Baca juga: Kreasi Tas Pesta dari Limbah Kain Satin

Meski Microsoft berikrar perangi kelangkaan air, perusahaan yang berdiri sejak 1975 ini masih menggunakan lebih banyak air dari tahun ke tahun. Pada 2019 Micorsoft menggunakan 8juta meter kubik air. Angka ini meningkat dibanding 2018 di mana mereka menghabiskan 7juta meterkubik air.

Kendati demikian, komitmen Microsoft untuk membantu kurangi kelangkaan air dinilai lebih realistik dibandingkan janji sebelumnya, yakni menangkap semua karbon dioksida yang pernah mereka hasilkan.

“Kami tidak pernah mengelola karbon sebelumnya. Tapi sebagai masyarakat, kami telah mengelola air sejak lama,” tutur Joppa, optimistis.

Perubahaan Iklim Pertajam Kelangkaan Air

Air meliputi 70% dari keseluruhan bumi, 97% merupakan air asin yang tidak dapat digunakan untuk aktivitas manusia. Melansir United Nations Water, terdapat lebih dari dua miliar orang kesulitan untuk mengakses air minum.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa satu dari empat orang mungkin tinggal di negara yang mengalami krisis air tawar pada tahun 2050. Menurut Bank Dunia, penurunan ketersediaan air tawar yang disebabkan oleh iklim, ditambah dengan meningkatnya permintaan, dapat mengurangi ketersediaan air di kota-kota lebih banyak bahkan lebih dari 66% pada tahun 2050.

Penulis: Maria Soterini

Editor: Ixora Devi

Top