Nipah, Tanaman Lahan Basah yang Terancam Konversi Tambak

Reading time: 3 menit
tanaman nipah
Nipah (Nypa fruticans (Thunb.) Wurmb.). Foto: wikemedia commons

Nipah (Nypa fruticans (Thunb.) Wurmb.) termasuk tanaman dari famili. Tanaman ini tumbuh di sepanjang sungai yang terpengaruh pasang surut air laut, dan dikelompokkan kedalam tanaman hutan mangrove.

Habitat nipah yang berada dalam ekosistem mangrove merupakan salah satu bagian dari ekosistem lahan basah yang paling produktif. Tanaman ini memiliki nilai ekologi dan sosial ekonomi sebagai sumber bahan makanan, bahan bakar, bahan bangunan dan bahan baku obat (Indriani et al., 2009).

Sebaran jenis tanaman nipah utamanya di daerah equator, melebar dari Sri Langka ke Asia Tenggara hingga Australia Utara. Luas areal pertanaman nipah di Indonesia diperkirakan 700.000 ha, terluas dibandingkan dengan Papua Nugini (500.000 ha) dan Filipina (8.000 ha). Di Indonesia pohon nipah mempunyai berbagai nama lokal seperti daon, daonan, bhunjok, lipa, buyuk (Sunda, Jawa), buyuk (Bali), bhunyok (Madura), bobo (Menado, Ternate, Tidore), boboro (Halmahera), palean, palenei, pelene, pulene, puleanu, pulenu, puleno, pureno, parinan, parenga, (Maluku).

Tumbuhan nipah merupakan palem tidak berbatang. Tumbuhan ini berakar serabut panjang dan bisa mencapai belasan meter. Batangnya menjalar di tanah membentuk rimpang yang terendam oleh lumpur. Hanya daunnya yang muncul di atas tanah sehingga tanaman ini tampak seolah-olah tak berbatang. Dari rimpangnya tumbuh daun majemuk (seperti pada jenis palem lainnya) besar dan panjang dengan tangkai daun sekitar 1-1,5 m, anak daun berjumlah antara 25-100 dengan ujung lancip. Daun mudanya berwarna kuning menyerupai janur kelapa sedangkan yang tua berwarna hijau (Van steenis, 1975).

Bunga nipah majemuk muncul dari ketiak daun dengan bunga betina terkumpul di ujung membentuk bola dan bunga jantan tersusun dalam malai serupa untai merah, jingga atau kuning pada cabang di bawahnya. Panjang tangkai bunga mencapai 100-170 cm. Tandan bunga inilah yang dapat disadap untuk diambil niranya (Siregar, 2012).

Tanaman ini memiliki buah berbentuk bulat telur dan gepeng dengan 2-3 rusuk, berwarna coklat kemerahan. Panjang buahnya sekitar 13 cm dengan lebar 11 cm, ujung lancip dan dinding buah tengah berserabut. Buah berkelompok membentuk bola berdiameter sekitar 30 cm. Dalam satu tandan, dapat terdiri antara 30-50 butir buah.

tanaman nipah

Buah nipah. Foto: wikemedia commons

Nipah merupakan sumber pangan dan energi. Selain itu, tanaman ini mengandung polifenol, tannin dan alkaloid. Berdasarkan Maspari Journal (2013), tanaman nipah telah biasa dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional seperti obat sakit perut, diabetes dan obat penurun panas dalam oleh masyarakat pesisir. Ekstrak tanaman ini berkhasiat sebagai karminatif (dapat membantu pengeluaran angin dari tubuh), penawar racun serta obat penenang.

Dilaporkan juga bahwa pemanfaatan nipah secara tradisional oleh masyarakat yaitu untuk menghasilkan gula dan garam selain jajanan yang dibuat dari buah nipah (Santoso et al., 2005). Gula nipah diperoleh melalui pengolahan nira (cairan manis yang diperoleh dari tandan bunga sebelum mekar), sedangkan garam nipah diperoleh dari daging pelepah yang tua.

Adapun keunggulan nipah lainnya yaitu dapat menghasilkan 0,4 sampai 1,2 L nira nipah per pohon per hari. Nira nipah mengandung sukrosa sebanyak 13-17%, ini merupakan suatu bahan yang sangat potensial untuk diolah menjadi bioetanol.

Seiring berjalannya kemajuan dan pembangunan, ekosistem serta habitat nipah dan hutan mangrove semakin menyusut. Disinyalir konversi hutan nipah dan mangrove menjadi tambak mengakibatkan berkurangnya hutan nipah. Seperti studi kasus Masyarakat Adat Cerekang di Kabupaten Lawu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan.

Berdasarkan kajian ilmiah CIFOR yang berjudul “Desentralisasi: Ancaman dan Harapan Bagi Masyarakat Adat, Studi Kasus Masyarakat Adat Cerekang di Kabupaten Lawu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan”, menjelaskan bahwa 20 tahun yang lalu adanya lonjakan penurunan tanaman nipah yang sangat drastis dirasakan oleh para perajin atap nipah yang tinggal di sekitar sungai Cerekang. Setelah desentralisasi, para perajin atap nipah merasakan bahan baku semakin berkurang akibat dikonversinya hutan nipah untuk tambak. Para nelayan juga merasakan semakin sulit mencari ikan di sungai dan perairan laut sejak adanya konversi hutan nipah dan mangrove secara ekstensif.

tanaman nipah

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page