Subak, Sistem Pertanian Berkelanjutan di Bali

Reading time: 2 menit
Subak
Aktivitas petani di lahan pertanian. Foto: pexels.com

Pertanian merupakan salah satu bidang yang menjadi ciri kehidupan masyarakat Indonesia. Tak heran jika negara ini pernah disebut negara agraris karena banyak penduduknya yang bekerja sebagai petani. Profesi petani cukup tersebar merata di berbagai daerah di Indonesia khususnya di perdesaan.

Subak merupakan organisasi yang mengatur sistem irigasi atau pengairan sawah. Pengelolanya adalah sekelompok masyarakat setempat. Sistem ini memiliki satu sumber daya air untuk dialirkan ke seluruh area sawah setiap anggota organisasi. Organisasi Subak terdiri dari sejumlah anggota yang juga diketuai oleh sesama petani untuk mengatur keberlangsungan sistem pertanian. Lebih dari sekadar perkumpulan, di dalamnya juga mengatur produksi pangan, ekosistem lahan sawah beririgasi sampai dengan ritual keagamaan yang berhubungan langsung dengan budidaya padi.

Baca juga: Perahu Bertenaga Surya

Subak ditujukkan untuk membantu sesama petani dalam hal irigasi sawah. Seperti yang diketahui, Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan. Pembagian air akan merata kepada tiap petani selama musim-musim tersebut. Namun, jika masih ada petani yang masih membutuhkan air lebih, sistem menyediakan pinjaman air. Setelahnya peminjam dapat mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan pemilik lahan dan ketua subak.

Sama seperti organisasi lainnya, subak juga memiliki struktur yang berperan penting dalam keberlangsungan sistem pengairan ini. Dalam subak, seorang ketua biasa dipangggil dengan sebutan “Kelian Subak”, figur ini merupakan tokoh adat yang juga petani dan berperan sebagai penanggung jawab sistem pengairan pada suatu daerah.

Sistem pertanian tradisional asal Bali ini menganut konsep Tri Hita Karana. Istilah tersebut mengandung arti tiga (Tri), kesejahteraan atau kebahagiaan (Hita), dan penyebab (Karana). Konsep tersebut berarti tiga penyebab terciptanya kesejahteraan dan kebahagiaan atau dapat juga dimaknai sebagai tiga hal untuk mencapai keduanya.

Subak

Subak. Ilustrasi: pexels.com

Dikenal sebagai daerah yang dekat dengan alam dan kental dengan norma dan kebudayaan Hindu, sistem pertanian subak memiliki suatu bangunan suci khas Hindu. Pura yang ada di sana dikenal sebagai Pura Uluncarik atau Pura Bedugul. Tempat tersebut ditujukan sebagai lokasi pemujaan kepada sang ratu, Dewi Sri, atas kemakmuran dan kesuburan juga kerja para petani.

Saat menghadapi kondisi gagal panen, para petani akan mengadakan sejumlah kegiatan seperti  upacara. Prosesi yang dilakukan pun berbeda-beda, mulai dari peringatan di saat darurat atau yang dikenal orang Bali dengan sebutan Nanglu Merano, upacara Tahunan ke Laut yang disebut Melasti, dan upacara berkala enam bulan sekali.

Selain itu, organisasi pertanian subak juga terkadang mengadakan lomba subak, yakni pawai budaya maupun pembangunan. Kegiatan itu diharapkan dapat memicu setiap petani untuk berbuat lebih baik demi kemakmuran masyarakat.

Baca juga: Arsitektur Butik dari Bahan Tak Terpakai

Meski dikenal sebagai organisasi tradisional, subak tetap dipantau oleh Pemerintah Daerah Bali dan telah diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2012 tentang Subak. Tidak hanya diakui oleh pejabat setempat, subak yang dikenal sebagai warisan budaya dan mengandung nilai kearifan lokal ini juga mendapatkan pengakuan dari organisasi dunia.

Delapan tahun lalu, tepatnya pada 29 Juni 2012, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan kebudayaan PBB, UNESCO, mengakui salah satu subak, yaitu Subak Jatiluwih sebagai bagian dari warisan budaya dunia (world heritage). Namun, belakangan diketahui bahwa label yang disandang oleh Subak Jatiluwih berpotensi dicabut karena adanya pembangunan landasan untuk helikopter dan mengakibatkan keaslian subak memudar.

Penulis: Krisda Tiofani

Top