Pupuk SNI, Obati Kerisauan Petani dari Ancaman Gagal Panen

Reading time: 7 menit
Petani menyiapkan benih pada masa panen menggunakan pupuk ber-SNI. Foto: dokumentasi Aep Fathul

Jakarta (Greeners) – Aep Fathul Kholik petani milenial asal Subang, Jawa Barat kini bisa sedikit bernafas lega. Setelah menelan pil pahit gagal panen beberapa tahun terakhir, pria berusia 33 tahun ini terbantu dengan kehadiran pupuk Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mulai mendongkrak produktivitas hasil panennya.

Meski menurutnya, masih banyak tantangan untuk meningkatkan produktivitas pertanian seperti serangan hama dan anomali cuaca. Namun pria lulusan SLTA ini menilai, pupuk berkualitas menjadi salah satu komponen penting.

“Dengan adanya pupuk bersubsidi dan ber-SNI ini terbantu sekali, hemat biaya dan produktivitas meningkat,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Dari laporan yang ada indeks ketahanan pangan Indonesia di tahun 2021 merosot. Besarannya hanya 59,2, merosot dibanding indeks di tahun 2020 sebesar 161,2. Melemahnya ketahanan pangan Indonesia pada tahun 2021 juga karena dampak perubahan iklim.

Tingkat kemarau yang tinggi pada Agustus hingga September menjadi salah satu pemicu menurunnya luas panen padi tahun 2021 lalu. Apalagi jika petani tidak menggunakan pupuk berkualitas. Ancaman ganda untuk gagal panen.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) luas panen padi tahun 2021 yakni sekitar 10,41 juta hektare (ha) dan mengalami penurunan sekitar 2,3 persen atau 245.470 ha. Sedangkan luas panen padi tahun 2020 mencapai 10,66 juta ha.

Kehadiran pupuk SNI benar-benar Aep rasakan. Bapak dua orang anak yang memiliki lahan sawah 2 hektare (ha) ini mengaku, sebelum menggunakan pupuk kimia ber-SNI hasil panennya hanya 3 ton per ha. Namun setelah beralih ke pupuk SNI, hasilnya melonjak menjadi 7 ton per ha.

Aep tidak sendiri, petani asal Desa Sukasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, Jawa Barat lainnya juga merasa terbantu dengan kehadiran pupuk SNI. Malahan tambah Aep, petani di desanya yang gemar menanam varietas Ciherang ini sudah pintar membedakan pupuk asli dan pupuk palsu. Tidak sekadar melihat keaslian kemasannya.

“Kami punya cara tersendiri membedakan pupuk asli dan palsu. Kami mencicipinya, kalau sepa (hambar) berarti palsu. Tapi kalau di lidah ada sensansi nyetrum berarti asli (ber-SNI),” ucapnya sambil tertawa.

Petani tabur pupuk di lahan pertaniannya. Foto: dokumentasi Aep Fathul

Biaya Membengkak, Petani Keluhkan Harga Gabah

Kehadiran pupuk SNI juga tambahnya, membantu petani beradaptasi dengan kondisi tanah yang terkadang kesulitan akses air. Untuk mulai menanam, Aep dan rekan petani lainnya terpaksa menunggu giliran aliran air dengan desa lainnya. Aliran air ini berasal dari hulu. Belum lagi kondisi anomali cuaca yang menggangu waktu tanam padi.

Pilihan Aep menjadi petani milenial berangkat dari keyakinan, setiap orang butuh makan. Walaupun banyak tantangan seperti harga gabah kering giling yang tak kunjung naik hingga meroketnya upah tenaga tabur benih.

“Harapan kami, ada perhatian lebih untuk nasib petani. Untuk antisipasi krisis pangan mohon bantu petani. Kalau dibiarkan, petani bisa bosan dengan biaya yang mereka keluarkan tidak sebanding dengan hasilnya,” tuturnya.

Untuk menanam benih padi di lahan 1 ha, Aep harus merogoh kantong Rp 1,2 juta. Tak hanya itu, ada biaya lain seperti traktor Rp 1,2 juta, pupuk urea per kuintal Rp 225.000, NPK Rp 230.000 per kuintal. Sedangkan untuk 1 ha butuh 275 kg pupuk urea dan 250 kg NPK.

Sementara itu, harga gabah kering giling tidak mengalami kenaikan signifikan. Harga berkisar antara Rp 3.900-4.800 per kg.

Ke depan, Aep dan petani di desanya berharap kondisi tanah tetap subur dan bisa tersedia pupuk organik padat ber-SNI. Dengan catatan pemakaian pupuk organik ini efisien, hemat biaya dan hasilnya panen pun bisa digenjot. Sebab petani yakin, bibit dengan pupuk organik jauh tahan terhadap serangan hama. “Perlu inovasi, supaya lahan kami tetap lestari,” imbuhnya.

Menanam bibit di masa tanam baru. Foto: dokumentasi Aep Fathul

BSN Tetapkan 29 SNI Pupuk, 9 Di Antaranya Wajib

Penetapan SNI pupuk bukan lagi hal baru di bidang pertanian. Saat ini, Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapkan 3.018 SNI terkait pertanian dan teknologi pangan. Dari lingkup tersebut terdapat 29 SNI pupuk. Sembilan di antaranya SNI wajib. Delapan SNI dari Kementerian Perindustrian dan satu dari Kementerian Pertanian.

Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN Hendro Kusumo mengatakan, penerapan SNI pupuk akan menjamin kualitas dari produk pupuk yang petani gunakan. Harapannya dapat memenuhi harapan petani atau pengguna dalam menyuburkan tanaman, serta melindungi konsumen.

“Pemerintah tidak menoleransi peredaran atau penjualan pupuk jika tidak memenuhi persyaratan mutu SNI yang sudah diberlakukan wajib,” katanya dalam konferensi pers SNI Pupuk, baru-baru ini.

Delapan SNI wajib yang Kementerian Perindustrian berlakukan yaitu SNI 2801:2010 Pupuk urea; SNI 02-1760-2005 Pupuk amonium sulfat; SNI 02-0086-2005 Pupuk triple superfosfat. Selain itu juga SNI 02-2805-2005 Pupuk kalium klorida; SNI 02-3769-2005 Pupuk SP-36; SNI 02-3776-2005 Pupuk fosfat alam untuk pertanian.

Ada pula SNI 2803-2012 Pupuk NPK padat; SNI 7763:2018 Pupuk organik padat. Lalu satu lagi yang Kementerian Pertanian berlakukan yakni SNI 8267:2016 Kitosan cair sebagai pupuk organik-syarat mutu dan pengolahan. Sementara untuk pupuk bersubsidi, SNI pupuk berlaku untuk pupuk urea dan pupuk NPK. Keduanya merupakan pupuk anorganik.

Penggunaan pupuk yang tidak sesuai dengan persyaratan mutu SNI berpotensi merusak unsur hara dalam tanah serta tanaman. Hal ini dapat memengaruhi keberhasilan panen dan fungsi kelestarian lingkungan hidup. Penggunaan pupuk ber-SNI turut mendukung peningkatan produksi dan mutu produk pertanian Indonesia.

Hingga saat ini, 129 produsen atau industri pupuk nasional sudah menerapkan SNI. Para produsen itu di antaranya adalah PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, dan PT Petrokimia Gresik.

BSN berharap lanjut Hendro, ketersediaan rujukan SNI dan penerapan SNI pada sektor pertanian terutama melalui pupuk, dapat memberikan kontribusi pada program pemulihan ekonomi nasional (PEN). “Juga sebagai langkah strategis dalam menghadapi ancaman krisis pangan serta mewujudkan terciptanya ketahanan dan kemandirian pangan,” imbuhnya.

Memanggul pupuk untuk diaplikasikan di lahan pertanian. Foto: Shutterstock

Tunjukkan Kualitas Pupuk SNI Lewat Demplot

Keyakinan terdongkraknya produktivitas pertanian karena SNI pupuk juga diamini produsen pupuk. Salah satunya PT Pupuk Kujang.

Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Kujang Ade Cahya Kurniawan menyatakan, pupuk yang berkualitas harus terstandardisasi. Di industri pupuk lanjutnya, banyak pesaing. “Dengan SNI kita yakinkan konsumen kalau beli pupuk harus terstandar SNI,” ucapnya.

Menurutnya, SNI pupuk memberikan added value. Bahkan saat akan ekspor pupuk berlogo SNI, negara tujuan terima karena memiliki standar produk yang tinggi. Selain itu, di dalam negeri, petani atau konsumen pupuk merasa yakin pupuk ber-SNI meningkatkan daya saing dan produktivitas.

Ade mengungkapkan, untuk menyakinkan petani terhadap kualitas pupuk ber-SNI, pihaknya melakukan demonstrasi pola tanam (demplot). Sebab ada kecenderungan petani membeli pupuk murah. Tetapi dengan adanya pupuk SNI bersubsidi, Pupuk Kujang bagian dari Pupuk Indonesia ini yakin sangat membantu petani.

“Kita lakukan demonstrasi pola tanam (demplot) 1 ha menggunakan produk kita, dan 1 ha tidak menggunakan produk kita. Jadi saat demplot kita beri pemahaman ke petani tentang pentingnya menggunakan pupuk ber-SNI,” ucap Ade.

PT Pupuk Kujang produksi pupuk ber-SNI. Foto: Pupuk Kujang

Edukasikan Cara Pemupukan 

Selain meyakinkan petani terhadap kontribusi pupuk SNI, Pupuk Kujang pun mengedukasi cara pemupukan yang baik. Ade menjelaskan, pemupukan yang baik harus mengkombinasikan pupuk organik dan anorganik. Peran pupuk organik untuk memperbaiki unsur tanah. Kerja pupuk organik memasukkan bakteri tertentu supaya kondisi tanah sehat.

Sedangkan pupuk kimia menjadi makanan tumbuhan. Oleh sebab itu ada istilah pemberian pupuk 5:3:2 artinya 500 kg/ha pupuk organik, 300 kg/ha pupuk urea dan 200 kg/ha pupuk NPK.

Bahkan sebelum demplot dan pemupukan, Pupuk Kujang mengecek unsur hara dan kesuburan lahan. Selain itu, pemberian pupuk juga bergantung pada jenis tanamannya. Untuk wilayah Jawa Barat misalnya didominasi tanaman pangan padi dan hortikultura.

Saat ini produksi Pupuk Kujang mencapai 1,14 juta ton pupuk per tahun. Terdiri dari 900.000 ton pupuk bersubsidi dan 200.000 ton nonsubsidi. Dua jenis pupuk hayati cair pun sudah Pupuk Kujang produksi.

Menurutnya antusiasme urban farming, menanam tanaman buah dalam pot menjadi pasar potensial dari pupuk organik ini. Khususnya yang nonsubsidi. “Saat ini kami juga membuat pupuk organik (Jeranti) untuk urban farming untuk masyarakat yang gemar menanam buah-buahan,” imbuhnya.

Urban farming memakai pupuk organik SNI sangat diminati. Foto: Freepik

Pupuk Sokong Pertanian Berwawasan Lingkungan

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Nyoman Suastika mengatakan, saat pandemi Covid-19 melanda, Provinsi Bali alami kemerosotan di sektor pariwisata. Sebelumnya kunjungan pariwisata ke Bali hampir 15 juta wisatawan.

Hal ini menjadi pembelajaran berharga bagi Bali yang sebagian besar mengandalkan sektor pariwisata. “Kita punya luas lahan sekitar 70.000 ha lahan produktif. Covid-19 jadi pembelajaran kita untuk tidak meninggalkan sektor pertanian. Tujuannya untuk memperkuat ketahanan pangan,” kata Nyoman.

Apalagi Indonesia hakekatnya adalah negara yang punya kekuatan di sektor pertanian dan pangan. Oleh sebab itu, upaya memperkuat sektor pertanian di Bali ini juga menjadi cara antisipasi krisis pangan imbas dampak perubahan iklim.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, kurun waktu dua hingga tiga tahun belakangan telah terjadi hampir 70 kali kejadian ekstrem. Hal ini imbas perubahan iklim yang mengakibatkan peningkatan kejadian cuaca dan iklim ekstrem. Kondisi ini memicu peningkatan bencana hidrometeorologi dan terganggunya waktu tanam. 

“Harapannya dari SNI yang jamin kualitas pupuk yang beredar, bisa memenuhi harapan petani terhadap pupuk yang berkualitas. Selain itu juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian,” tuturnya.

Nyoman menegaskan, Pemerintah Provinsi Bali tidak memberi ruang terhadap pupuk palsu. Sebab pertanian berkelanjutan harus menggunakan pupuk ber-SNI. Pupuk palsu hanya akan merusak unsur hara dalam tanah. Akibatnya pertumbuhan tanaman tidak maksimal bahkan bisa terancam gagal panen.

Melalui Perda No 8 Tahun 2019, Bali pun berkomitmen mengembangkan sistem pertanian organik. Ia mengklaim inisiasi pertanian Bali ini, satu-satunya di Indonesia. Sistem pertanian ini mengintegrasikan peternakan dan pertanian. Kotoran ternak dijadikan pupuk dan biogas.

Komoditas pertanian juga disesuaikan dengan agroklimat masing-masing daerah di Bali. Komoditas yang Bali kembangkan salah satunya adalah padi, jagung dan kedelai.

Petani mengamati bibit tanaman. Foto: Pexel

SNI Pupuk Langkah Tepat 

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa menilai, kehadiran pupuk ber-SNI sebagai langkah yang tepat. Menurutnya, pupuk yang berkualitas dan memiliki kesesuaian kandungan sangat penting untuk mendongkrak hasil pertanian. 

“Untuk meningkatkan produksi pangan dunia, input pupuk penting. Sehingga ketika panen, ada unsur-unsur yang diambil harus digantikan oleh pupuk yang baik pada masa tanam berikutnya,” katanya.

Ia mencontohkan dalam 5 ton panen gabah ada nitrogen, fosfor, unsur hara yang terambil dari lahan, sehingga pupuk penting untuk masa tanam berikutnya. Hal ini akan mengembalikan kondisi lahan agar kembali produktif. 

Pupuk anorganik maupun organik keduanya punya peran yang penting dalam proses pengembalian unsur-unsur di lahan pada masa tanam baru. Oleh sebab itu dengan pupuk SNI ada jaminan terhadap kandungan di dalam setiap kemasannya.

Sebab ada kecenderungan, ketika musim tanam tiba dan pupuk bersubsidi belum tersedia, petani akan lebih memilih pupuk berharga murah yang belum tentu terjamin kualitasnya alias palsu.

“Bahkan ada juga temuan di lapangan, pupuk berlabel subsidi tapi isinya diganti. Hal ini tentu sangat merugikan petani,” tegasnya. 

Sementara itu, anomali cuaca yang menyebabkan La Nina (kondisi banyak curah hujan) dan El Nino (minim curah hujan) tidak akan menjadi kendala jika ditunjang pupuk berkualitas.

Justru tambah Dwi, tahun 2020-2022 kecenderungan La Nina, banyak air hujan baik untuk mendukung sektor pertanian. Sebaliknya saat El Nino ada ancaman kekeringan, pertanian tetap bisa produktif jika ditunjang pupuk berkualitas tersebut.

Penulis-Editor : Ari Supriyanti Rikin

Top