Saver Semeru, Tak Lelah Edukasi Pendaki

Reading time: 4 menit
saver semeru

Para pendaki mengumpulkan formulir pernyataan dan daftar barang bawaan kepada Saver. Foto: greeners.co/HI

Edukasi untuk pendaki

Akhir 2014 silam, Saver Semeru hadir dengan semangat memberikan edukasi kepada para pendaki agar membawa turun sampahnya. “Masak turun membawa sampahnya saja tidak mampu, padahal naiknya lebih berat bawaannya,” kata Rizki kepada Greeners.co.

Menurutnya, edukasi di setiap briefing ini merupakan salah satu langkah pencegahan agar pendaki lebih peduli terhadap kondisi lingkungan di Semeru. Sebab, tidak semua orang yang mendaki ke Semeru saat ini berasal dari komunitas pecinta alam. Malah banyak wisatawan biasa yang tidak jarang tidak memerhatikan unsur keamanan dirinya dalam mendaki gunung. “Apalagi soal sampah,” kata Rizki.

Selain briefing, dalam dua tahun terakhir, Saver Semeru juga memeriksa semua bawaan pendaki agar sesuai dengan list dan wajib dibawa turun kembali serta melapor ke petugas saat turun.

Dalam setiap briefing yang disampaikan, para pendaki diberi pemahaman mengenai kondisi alam Semeru selama sekitar 45 menit. Mulai dari Pos 1 hingga Pos Kalimati sebagai lokasi terakhir batas pendakian. Jalur-jalur berbahaya serta medan ke puncak Mahameru dijelaskan karena tidak dapat dipungkiri banyak pendaki yang nekat ke puncak meski dilarang petugas.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran para pendaki semakin baik meski belum sempurna. Ternyata semakin banyak para pendaki yang membawa turun sampahnya dan tidak meninggalkannya di atas.

Rizki menyebutkan, pada penutupan musim pendakian tahun 2015, Saver Semeru bersama petugas gabungan, komunitas dan relawan bersih-bersih sampah Semeru berhasil menurunkan 80 karung sampah dari Semeru. ” Tahun 2016 jumlahnya sudah 18 karung. Ini menunjukkan kesadaran pendaki meningkat,” ujarnya.

Perubahan sikap warga Ranupani juga terlihat terutama soal keberanian warga yang mulai berani menegur pendaki yang membuang atau meninggalkan sampah di Semeru, mandi di Danau Ranukumbolo, atau membuat api unggun.

Dulu, kata Rizki, warga menilai para pendaki adalah tamu yang selayaknya dihormati dan dilayani sebaik-baiknya. Tapi, pengertian diberikan kepada warga bahwa mereka adalah tuan rumah yang wajib menjaga kondisi Semeru dengan memberi teguran bagi tamu yang melanggar peraturan terutama soal sampah.

“Jadi selain petugas, yang berani menegur para pendaki yang melanggar adalah tuan rumah, yakni warga desa,” ujar Rizki.

(Selanjutnya…)

Top
You cannot copy content of this page