Sebuah Jeda dari Climate Rangers

Reading time: 2 menit
Climate Rangers
Komunitas Climate Rangers. Foto: Climate Rangers

Jakarta (Greeners) – Climate Rangers merupakan sebuah komunitas yang berfokus menyuarakan isu krisis iklim di Indonesia. Berawal dari kegiatan diskusi, Climate Rangers resmi berdiri pada 2017 yang difasilitasi Three Fifty untuk Indonesia. Setahun setelahnya, para anggota membuat sebuah program edukasi mengenai krisis iklim ke beberapa sekolah, rusun-rusun, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) untuk menyebarkan pemahaman sejak dini.

Mereka juga berkolaborasi dengan komunitas lain yang memiliki satu pemikiran tentang lingkungan. “Jadi bagaimana perubahan iklim ini tidak hanya di kalangan sekolah, kuliah, kerja, dan lingkungan. Kita ingin isu perubahan iklim ini di level lebih bawah lagi, sehingga seluruh masyarakat paham,” ucap Novita Indri saat ditemui Greeners, di Jakarta Selatan, Desember lalu.

Baca juga: Film Semesta Sampaikan Keragaman untuk Cegah Krisis Iklim

Novita menuturkan isu krisis iklim belum banyak disadari masyarakat. Sehingga Climate Rangers mengambil peran untuk mensosialisasikan apa saja penyebab dan bagaimana cara menghadapinya. “Yang penting tahu dulu tentang perubahan iklim itu sendiri,” kata dia.

Climate Rangers juga mengajak masyarakat turun ke jalan untuk mengampanyekan isu lingkungan yang menjadi fokus mereka dengan tema “Jeda untuk Iklim.” Menurut Novi ajakan seperti ini mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat rutinitas mengumpulkan materi akan sia-sia jika alam dan lingkungan rusak. “Kalian kerja mengumpulkan uang, tapi sepuluh tahun ke depan lingkungan sudah rusak. Kalian bisa apa?”

Climate Rangers

Climate Rangers. Foto: Climate Rangers

Tidak puas dengan aksi yang diadakan 2019 kemarin, Climate Rangers akan menyelenggarakan kembali “Jeda untuk Iklim” di bulan Februari atau Maret 2020. Menurut Novita, aksi akan dimulai setelah salat Jumat dengan melakukan longmars dari Jalan Gatot Subroto dan berakhir di Balai Kota. “Mudah-mudahan isu mengenai banjir kemarin dapat dihubungkan dengan perubahan iklim sehingga banyak yang sadar mengenai permasalahan tersebut,” ujarnya.

Sebelumnya gerakan “Jeda untuk Iklim” pertama kali diselenggarakan pada September 2019. Sebanyak 1.000 orang  dari  20 kota di Indonesia turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai permasalahan lingkungan di Indonesia. Namun, kata Novita, isu darurat iklim belum menemukan titik terang dari pemerintah.

Baca juga: Before The Flood: Udara Bersih, Air, dan Iklim Adalah Hak Asasi Manusia

Selain mendorong pemerintah untuk mendeklarasikan Indonesia darurat iklim, Climate Rangers juga menyuarakan gerakan untuk beralih dari energi fosil ke energi terbarukan seperti matahari, angin, dan air. Karena energi fosil berimplikasi besar terhadap krisis iklim, kesehatan dan lingkungan.

“Memang kalau energi terbarukan dampak ke lingkungan lebih kecil. Bisa dibilang tidak ada energi yang 100 persen benar-benar bersih. Tidak ada energi yang benar-benar aman pasti akan memberikan dampak,” kata Novita.

Ia mencontohkan sebenarnya energi terbarukan pun tidak ramah lingkungan. Sebab sampah baterai pada solar panel, kata Novita, tidak memiliki pengolahan yang signifikan di Indonesia. “Sebaiknya kita mulai dari hal yang terkecil dahulu. Kalau kita mampu, kita pakai energi terbarukan. Kalau kita belum mampu banyak yang bisa kita lakukan dengan menghemat penggunaanya, menggunakan transportasi umum,” ucapnya.

Penulis : Ridho Pambudi

Top