Greeners.Co Gelar Talkshow Teknologi Pengelolaan Sampah di UNSOED

Reading time: 3 menit
Greeners.Co gelar talkshow Teknologi Pengelolaan Sampah di UNSOED. Foto: Dini Jembar Wardani
Greeners.Co gelar talkshow Teknologi Pengelolaan Sampah di UNSOED. Foto: Dini Jembar Wardani

Jakarta (Greeners) – Media lingkungan Greeners.Co kembali mengenalkan isu lingkungan pada perjalanan Editorial Trip keempatnya di Kabupaten Banyumas. Kali ini, Greeners.Co menggelar talkshow bertemakan “Tantangan Inovasi Teknologi Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan “dalam rangkaian Campus Visit di Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).

Penumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kini tengah menimbulkan banyak masalah yang kompleks bagi lingkungan. Bahkan, pada tahun 2023 ini sebanyak 34 TPA di Indonesia telah terbakar. Sejumlah pemerintah kota dan kabupaten juga sudah menyediakan teknologi pengelolaan sampah atau insinerator sampah. Namun, teknologi ini juga belum menjadi solusi yang konkrit untuk mengolah sampah.

Pada program Editorial Trip ini, Greeners.Co pun menggali persoalan tersebut bersama para narasumber dari berbagai bidang. Di antaranya perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, dan Fakultas Teknik Universitas Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).

BACA JUGA: Greeners.Co Gaungkan Hidup Berkelanjutan ke Mahasiswa UNAIR

Bahan dan Komponen Sampah Cepat Berubah

Menurut Akademisi Fakultas Teknik Industri UNSOED, Sugeng Waluyo, menciptakan teknologi pengelolaan sampah tidaklah mudah. Sebab, sampah memiliki bahan dan komponen yang cepat berubah.

Jadi, membuat teknologi yang bisa menjadikan sampah sebagai sesuatu yang berharga atau upcyling itu sulit luar biasa. Sebab, kalau dijadikan industri juga, itu (sampah) bukan standar bahan baku industri. Bahan baku industri itu harus seragam dari segi kualitas, jenis, dan bobotnya,” ujar Sugeng saat Talkshow di Fakultas Teknik UNSOED, Jumat (15/12). 

Sugeng menambahkan, mesin produksi pada sampah tidak ada yang sifatnya fleksibel. Alasannya, sampah berbeda dengan bahan-bahan industri lainnya. Sampah ini terkadang berubah secara tidak menentu waktunya.

“Kadang basah, terus kadang kering, kadang ada asamnya. Ternyata, hal itu menjadi sesuatu yang ingin kita cari solusinya di mana. Kalau mau kelola sampah, kita perlu membuat sistem industrinya . Misalnya, dalam suatu kaidah industri itu ada quality control, ada manajemen produksi, lini produksi, pengecekan bahan baku, dan itu masih dicari,” tambah Sugeng.

Greeners.Co gelar talkshow Teknologi Pengelolaan Sampah di UNSOED. Foto: Dini Jembar Wardani

Greeners.Co gelar talkshow Teknologi Pengelolaan Sampah di UNSOED. Foto: Dini Jembar Wardani

Teknologi Pengelolaan Sampah Belum Bebas Emisi

Sementara itu, teknologi yang kini banyak dipakai untuk pengelolaan sampah belum bisa bebas dari emisi. Padahal, emisi tersebut bisa menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan manusia.

“Memang betul yang jadi masalah itu adalah emisi. Enggak bau, tapi kelihatan dari rumah penduduk itu berminyak. Jadi, sangat bermasalah. Ada beberapa metode untuk mengatasinya dengan air. Jadi ditaburkan kalsium, nah kalsium itu bisa menyerap minyaknya kemudian turun, tapi enggak 100 persen. Setidaknya bisa meminimalisir,” imbuh Sugeng.

BACA JUGA: Resan Gunungkidul, Jaga Mata Air dengan Melestarikan Pohon

Sugeng bersama timnya juga telah membuat inovasi pengelolaan sampah, yakni daurulang.id. Dalam inovasinya ini. mereka fokus ke teknologi sampah plastik. Terutama multilayer, pembalut, pampers, kain, dan sepatu. Seluruh sampah tersebut akan mereka buat menjadi bahan kontruksi seperti kusen jendela dan pintu.

“Tetapi, di sini gak cuma teknologi saja karena harus menyiapkan rantai pasok gimana sampah itu bisa terkontrol kondisinya. Jadi, rantai pasok harus berjalan, tapi emisi juga perlu tertangani, kemudian juga soal daya penerimaan masyarakat terhadap barang itu,” ujar Sugeng.

Pengelolaan Sampah di Banyumas Terbaik di Asia Tenggara

Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan Edukasi (TPA BLE) di Banyumas menjadi salah satu contoh TPA yang sekaligus mengoperasikan pengelolaan sampah secara efektif. Dalam satu tempat, seluruh sampah yang masuk ke TPA BLE langsung diolah menjadi berbagai macam produk. Misalnya, paving block dan refuse derived fuel (RDF). Kemudian, sampah organiknya menjadi pakan maggot.

Tak sekadar itu, pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas pun beberapa waktu ini telah menjadi sorotan bagi banyak orang. Bahkan, tempat pengelolaan sampah di Banyumas ini menjadi yang terbaik se-Asia Tenggara.

Jadi kenapa bisa menjadi tempat pengelolaan sampah terbaik? Karena ada sebuah sistem yang membedakan kota atau kabupaten lain. Jadi kalau di yang lain itu sampah-sampah yang dikelola itu langsung dari pemerintah dari peraturan daerahnya sendiri ada,” kata Staf TPA BLE Kabupaten Banyumas, Hafidh Fadhulrrohman. 

Tidak hanya didukung oleh teknologi canggih, Banyumas juga berhasil mengelola sampah karena telah menciptakan sebuah sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir yang terstruktur. Keterlibatan dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) menjadi garis terdepan dalam memilah sampah di Kabupaten Banyumas. Masyarakat pun bisa menyetorkan sampahnya ke KSM dan mendapatkan insentif lewat aplikasi.

KSM ini tersebar di Kabupaten Banyumas sebanyak 29 KSM. Jadi KSM yang mengelola TPST atau TPS3R. Inovasi di KSM juga ada mesin gibrik. Mesin ini akan otomatis memilah sampah anorganik dan organik,” kata Hafidh. 

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top