Al Gore Kritik Trump Terkait Kebijakan Perubahan Iklim

Reading time: 2 menit
al gore
Ilustrasi. Foto: Takver/flickr.com

LONDON, 16 Juni 2017 – Donald Trump “tidak bisa menulis ulang sejarah” dan apapun yang dikatakan atau lakukan, Perjanjian Paris untuk memerangi perubahan iklim akan tetap bertahan dan bertambah kuat justru karena penolakannya. Hal ini diumumkan oleh mantan Wakil Presiden AS yang juga aktivis perubahan iklim Al Gore saat mengkritik Trump yang gagal menghalangi revolusi energi. 

Berbicara di London, Gore mengatakan: “Saya khawatir ketika presiden dari negara saya mengumumkan bahwa ia akan membuat pengumuman terkait perubahan iklim, bahwa apabila ia mengeluarkan AS dari Perjanjian Paris maka negara lain akan menjadikan alasan untuk keluar.” 

“Tidak ada sama sekali. Benar, tidak ada yang keluar. Apa yang kita lihat adalah justru meningkatnya dukungan bagi perjanjian tersebut dari seluruh penjuru dunia dan dalam solidaritas warga AS sendiri melalui gubernur, walikota dan para pebisnis.” 

“Apapun yang dikatakan oleh Presiden Donald Trump, tidak akan ada yang bisa menghalangi revolusi energi.” 

Perbaikan kehidupan 

Gore berbicara di Royal Geographical Society di London pada acara penghargaan Ashden Awards 2017 yang memberikan hadiah finansial dan dukungan praktis kepada organisasi di dunia yang mempromosikan energi terbarukan, menyediakan udara bersih dan transportasi yang berkelanjutan. Sejauh ini, 200 grup yang telah memberikan perbaikan kehidupan bagi 80 juta orang telah dianugrahi penghargaan tersebut. 

Gore, yang pertama kali menghadiri Ashden Awards pada 10 tahun lalu, masih menjabat sebagai Wakil Presiden AS selama delapan tahun, dari tahun 1993 dan mewakili AS di Jepang saat Protokol Kyoto ditandatangani pada tahun 1997. Ia juga menghadiri Perjanjian Paris pada tahun 2015 silam.

Ia kini melakukan kampanye untuk isu perubahan iklim dan dengan Intergovernmental Panel on Climate Change, mendapatkan penghargaan Nobel Peace Prize pada tahun 2007. 

Gore mengatakan kepada pemenang Ashden bahwa revolusi berkelanjutan, seperti yang disebutkannya, merupakan salah satu gerakan moral terbesar sepanjang sejarah manusia. Sama seperti gerakan di masa lalu — penghapusan perbudakan, mendapatkan hak politik bagi perempuan, mengakhiri apartheid di Afrika Selatan dan tercapainya hak sipil di Amerika. 

Banyak yang mengatakan tidak bisa dilakukan, berhadapan dengan banyak halangan, namun pada akhirnya tujuan ini bisa tercapai. 

“Pada akhirnya, ini tentang apa yang benar dan apa yang salah. Jelas salah apabila menghancurkan Bumi untuk generasi mendatang. Jelas salah menggunakan langit sebagai saluran pembuangan. Benar apabila memberikan harapan kepada generasi mendatang dan memberikan mereka masa depan yang bersih dan berkelanjutan.” 

Saat melancarkan kritikan langsung kepada Presiden Trump terkait dengan pandangannya terhadap perubahan iklim, Gore mengatakan bahwa bukti saintifik sudah menjelaskan bahwa pemanasan global sudah terjadi dan menjadi ancaman bahaya bagi Bumi. 

“Pelindung terbesar kita, yaitu Bumi, sudah memberitahu kita tentang kekacauan yang kita ciptakan,” jelas Gore. Dia berbicara bagaimana siklus air di Bumi menjadi terganggu, muka air laut meningkat dan penyakit menyebar. 

Meninggalkan bahan bakar fosil 

Namun, ia percaya bahwa sangat mungkin berubah dan menyelamatkan kondisi saat ini. Peradaban manusia sudah memulainya dengan revolusi pertanian dilanjutkan dengan revolusi industri pada abad 19, lalu diikuti oleh revolusi digital pada masa kini. Sekarang, revolusi berkelanjutan sedang terjadi. 

Revolusi ini terjadi di belahan dunia manapun, di negara kaya maupun miskin. Tenaga surya membangkitkan listrik ke dunia yang belum pernah melihat listrik. Masyarakat di Afrika dan Asia bersama-sama meninggalkan bahan bakar fosil

Untuk waktu yang lama, kata Gore, terlihat sulit untuk mencapai perubahan dan tidak bisa dilakukan pada waktunya untuk menghindari kekacauan luar biasa. Namun, kemudian semua berjalan lebih cepat dari yang kau bayangkan.”

Ia menjelaskan gerakan yang terjadi di Cina dan India terkait energi terbarukan, terutama untuk mengadopsi tenaga surya dan memproduksi mobil listrik. 

“Kita sudah melihat emisi karbon dioksida distabilisasikan. Ada petunjuk bahwa mereka sudah mulai menurun. Mungkin kita sudah mencapai titik balik,” ujarnya.  – Climate News Network

Top