Bencana dan Perubahan Iklim Pengaruhi Kondisi Psikis Anak

Reading time: 2 menit
Bencana dan perubahan iklim pengaruhi psikis anak. Mitigasikan untuk halau risikonya. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Bencana dan perubahan iklim tak sekadar berdampak pada kerusakan lingkungan. Ketua Satgas Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kurniawan Taufiq Kadafi menyebut, bencana dan perubahan iklim juga akan berpengaruh sangat besar terhadap kesehatan psikis anak Indonesia.

Menurutnya, berbagai hal menjadi pemicu perubahan iklim di Indonesia. Salah satunya bahaya geologi. Sebanyak 47 % dari seluruh bencana di Indonesia berasal dari sifat alami geologi, termasuk bencana seperti gempa bumi, hingga erupsi.

Dalam konteks ini, banyaknya bencana seperti gempa bumi dan erupsi tak semata karena posisi Indonesia yang berada di titik pertemuan ketiga lempeng bumi dan di cincin api pasifik. Akan tetapi, pemicunya cairan gletser dan meningkatkan permukaan bumi imbas kenaikan suhu bumi.

Hal ini akan berdampak terjadinya fenomena isostatik rebound, sehingga menyebabkan peningkatan aktivitas seismik. Alhasil, banyak terjadi gempa dan erupsi.

Misalnya, pada gempa Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pada tahun 2018 yang menewaskan ratusan korban. Para pasien anak dirawat di RS Lapangan Tanjung pada minggu pertama. Menurut data Disaster Management Task Force of Indonesian Pediatric Society, sebanyak 27 atau 15,9 % anak mengalami trauma akibat gempa di Lombok pada minggu pertama.

“Anak kehilangan orang tua akan menjadi pukulan psikologis. Belum lagi mereka harus tinggal di pengungsian,” kata Taufiq kepada Greeners, Minggu (29/1).

Anak juga masih menjadi korban dalam kejadian erupsi gunung Semeru pada 4 Desember 2021 lalu. Menurut Kurniawan, dari 400 pengungsi, 60 di antaranya adalah anak-anak. Terlepas dari kondisi psikis anak, hal paling penting yang harus anak miliki yaitu bekal mitigasi bencana.

“Misalnya, bagaimana bila terjadi gempa bumi, bagaimana bila terjadi erupsi gunung berapi. Anak diajarkan untuk pertama kalinya apa yang harus dilakukan,” tutur dia.

Perkuat Edukasi Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim

Edukasi terkait mitigasi bencana, potensi penyakit serta pencegahan perubahan iklim sejak dini penting lingkungan terdekat yakni orang tua lakukan untuk anak. “Sehingga anak bisa melakukan antisipasi dan secara langsung dapat mencegah bencana alam itu terjadi,” ucapnya.

Kurniawan juga mengingatkan, pencegahan perubahan iklim hendaknya bisa mulai diri sendiri lakukan untuk menyebarkan semangat tersebut ke anak-anak. “Misalnya menyebarkan semangat menanam pohon ke anak-anak kita, menggunakan prinsip reuse, reduce, recycle,” imbuhnya.

Sementara itu, sebelumnya Ketua American Academy of Pediatrics Council dokter Aparna Bole mengungkapkan, solusi perubahan iklim merupakan solusi kesehatan anak. Dokter anak kini memiliki peran memastikan ada di samping anak dan pasien sembari memastikan bergerak untuk solusi perubahan iklim. Peran dokter anak kini semakin luas untuk terlibat aktif dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Bencana Pengaruhi Psikis dan Picu Rasa Putus Asa

Laporan State of Global Air (SOGA) tahun 2020 yang Health Effects Institute terbitkan menyebut, meningkatnya bencana dan kerusakan akibat perubahan iklim berdampak pada psikis anak-anak. Dampaknya antara lain trauma, shock, gangguan kecemasan serta depresi. Dampak yang lebih parah, yaitu peningkatan rasa tak berdaya, keputus asaan, fatalisme hingga mati rasa.

Aparna Bole merekomendasikan agar anak selalu mendapatkan pengasuhan responsif untuk memastikan kebutuhan emosi sang anak.

Sementara, masih dari laporan yang sama, State of Global Air (SOGA) tahun 2020 menyebutkan, pada tahun 2019 polusi udara menyebabkan 6,67 juta kematian di seluruh dunia. Global Burden of Disease (GBD) juga memperkirakan 476.000 bayi baru lahir di seluruh dunia meninggal pada tahun 2019 akibat paparan polusi udara.

Penulis : Ramadani Wahyu

Top