Bendungan Katulampa Kering, Air Sungai Diprioritaskan Untuk Irigasi

Reading time: 2 menit
Kondisi Bendungan Katulampa, Bogor pada Senin (29/09). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Bogor (Greeners) – Bendungan Katulampa yang terletak di jalan Katulampa, Bogor, Jawa Barat, semenjak satu minggu belakangan mengalami kekeringan. Bendungan yang berperan penting terhadap peringatan atas datangnya banjir Jakarta ini pun terlihat gersang. Hanya nampak bebatuan kali besar dan sampah-sampah yang tersangkut di bebatuan tersebut.

Menurut pantauan Greeners, tampak air hanya keluar dari satu pintu, sedangkan dari pintu lainnya tidak ada air yang mengalir. Menurut pelaksana Bendungan Katulampa, Andi Sudirman, debit air di Katulampa memang menurun sejak awal September, karena itu aliran air diprioritaskan masuk ke jalur irigasi.

“Sekarang prioritasnya kita berikan ke jalur irigasi. Kita masih berharap agar debit air tidak terus menurun. Untuk sekarang (penurunan debit air) sudah di 30 cm, kalau sudah sampai 20 cm atau dibawahnya itu sudah bahaya,” ujar Andi saat ditemui oleh Greeners di posko Bendung Katulampa, Bogor, Jawa Barat, Senin (29/09).

Tinggi air di Bendungan Katulampa saat ini, Senin (29/09). Foto: greeners.co/Danny Kosasih.

Tinggi air di Bendungan Katulampa saat ini, Senin (29/09). Foto: greeners.co/Danny Kosasih.

Saat ini, kata Andi, debit air di Bendungan Katulampa, hanya 2.200 liter per detik. Padahal, saat musim hujan, bisa mencapai ratusan ribu liter per detik. Khusus musim banjir, bisa mencapai 630 ribu liter per detik dengan ketinggian air mencapai 250 sentimeter.

Namun Andi tidak terlalu khawatir, karena menurutnya, kondisi kekeringan ini masih belum separah kekeringan pada tahun 2007 lalu. Dia menceritakan bahwa pada saat itu debit air pernah mencapai 1.200 liter per detik.

“Untuk mengatasi kekeringan ini sarana irigasi harus bergiliran, jadi pengairannya bergantian,” jelas Andi.

Lebih lanjut Andi menjelaskan, aliran air irigasi dari Katulampa tersebut mengalir ke sawah dan lahan pertanian atau perikanan milik warga di sepanjang kawasan Bogor, Depok, hingga Jakarta.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), memprediksi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi akan mengalami kekeringan hingga akhir Oktober mendatang.

Kepala Pusat Data dan Informasi BMKG, Mulyono R Prabowo, menjelaskan bahwa suhu rata-rata iklim di Bogor dan sekitarnya mencapai 32 derajat Celcius atau terbilang masih normal. Namun dengan keadaan kemarau seperti sekarang, terjadi penguapan yang tinggi namun dengan kelembapan sangat rendah, sehingga uap air di atmosfer sedikit.

Menurut Mulyono, kekeringan dan krisis air bersih di kota Bogor telah terjadi di sejumlah kecamatan seperti Babakanmadang, Gunungputri, Klapanunggal, Jonggol, Sukamakmur dan Cariu.

(G09)

Top
You cannot copy content of this page