HPSN 2021: Meneropong Wajah Industri Daur Ulang di Masa Pandemi

Reading time: 3 menit
lapangan kerja ekonomi sirkular
HPSN 2021: Meneropong Wajah Industri Daur Ulang di Masa Pandemi. Foto: Shutterstock.

Hari Peduli Sampah Nasional  (HPSN) 2021 mengambil tema “Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi”. Tema ini mengenalkan perspektif pengelolaan sampah yang baru. Yakni dengan paradigma sampah sebagai sumber daya melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) di kuartal II-2020 mencatat pertumbuhan 4,56 persen di sektor industri Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang, pada kenyataannya, pandemi Covid-19 juga memberikan imbas yang cukup besar pada sektor daur ulang tersebut.

Direktur Sustainable Waste Indonesia (SWI), Dini Trisyanti, mengatakan bahkan sebelum pandemi, sudah ada gejolak di pasar global yang mempengaruhi pasar Indonesia. Gejolak ini terkhusus untuk pembelian kebutuhan jenis sampah plastik.

Dia menjelaskan, era pandemi Covid-19 merupakan masa yang sangat sulit bagi industri daur ulang, Pasalnya, industri harus mengurangi jumlah pembelian bahan baku baik dari bank sampah maupun pelapak. Biasanya, pembelian oleh pabrik bisa sekitar 10 ton, namun di masa pandemi Covid-19, pabrik mengurangi pembelian hingga setengahnya.

“Kalau bicara dari segi ekonomi, kondisi pandemi Covid-19 justru berdampak sangat signifikan bagi industri daur ulang,” ungkapnya.

Di lain sisi, Dini juga mengakui adanya potensi besar pemanfaatan sampah rumah tangga yang bisa menjadi bahan baku bagi industri daur ulang di masa pandemi Covid-19 ini. Hanya saja, dengan beragam alasan, industri masih belum banyak menggunakan sampah pasca konsumsi dari rumah tangga.

Bahan Baku yang Diambil Industri

Sumber bahan baku untuk industri daur ulang sendiri terbagi tiga yaitu sampah pasca konsumsi, sampah pasca industri, dan scrap atau sampah pasca konsumsi impor.

Sampah pasca konsumsi adalah sampah dari proses rumah tangga maupun sumber sampah lainnya seperti dari kantor, mal, maupun dari pasar setelah belanja.

Sedangkan sampah pasca industri adalah sampah dari produk yang gagal saat proses produksi (produk reject).

Membandingkan antara tiga jenis sumber bahan baku tersebut, jenis sampah pasca konsumsi adalah jenis sumber sampah yang menjadi banyak perhatian dari berbagai pemangku kepentingan. Sebab, sampah pasca konsumsi merupakan jenis yang paling sering berakhir di laut maupun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Konsentrasi pada sampah pasca konsumsi ini juga diharapkan dapat menjawab permasalahan lingkungan kita,” tambahnya.

Pengumpul Sampah

Sampah pasca konsumsi merupakan jenis yang paling sering berakhir di laut maupun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Foto: Shutterstock.

Baca juga: RDF Kabupaten Cilacap Olah 136 Ton Sampah per Hari

Proporsi Sumber Bahan Baku Industri

Melansir dari Roadmap Kajian Daur Ulang Plastik dan Kertas Pasca Konsumsi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), berikut proporsi bahan baku industri daur ulang plastik Tanah Air:

  • 70 persen berasal dari pasca industri.
  • 22 persen dari sampah pasca konsumsi yang merupakan hasil himpunan sektor informal seperti bank sampah, pemulung, pelapak dan pengumpul lainnya.
  • 8 persen berasal dari scrap atau sampah pasca konsumsi impor.

Kekuatan Bank Sampah

Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan bahwa yang seharusnya menjadi andalan dan mitra bagi para pemulung (kolektor) adalah bank sampah. Dia mereken, bank sampah juga harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah 

Menurutnya, kemunculan bank sampah adalah hasil dari inisiatif komunitas masyarakat. Sebagai inisiatif komunitas, bank sampah tidak bisa hidup sendirian . Bank sampah bukan lembaga bisnis dan bank sampah pun  tidak mungkin untuk bersaing dengan sektor informal lain yang telah lama berkecimpung dalam dunia ini.

Enri menjelaskan banyak contoh bank sampah yang telah berdiri dan akhirnya harus mati karena tidak mampu bertahan. Salah satunya adalah bank sampah yang dia temui di sebuah kota di daerah Toba, Sumatra Utara.

Di daerah tersebut, ujarnya, sebelumnya tidak ada bank sampah. Saat pertama kali didirikan, masyarakat kebingungan bagaimana menjual sampah yang telah terkumpul. Karena kebingungan, akhirnya sampah itu pun di jual ke bank sampah yang lain di Medan.

“Kalau di Pulau Jawa masih banyak industri daur ulang yang mau mengambil sampah dari bank sampah, tapi kalau di luar Pulau Jawa kan tidak. Inilah yang harus mendapat perhatian. Mau dibawa ke mana sampah mereka?” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

Top
You cannot copy content of this page