Industri Daur Ulang Pelajari Penanganan Limbah Medis Covid-19

Reading time: 2 menit
Industri Daur Ulang Pelajari Penanganan Limbah Medis Covid-19
Industri Daur Ulang Pelajari Penanganan Limbah Medis Covid-19. Foto: Shutterstock.

Pandemi Covid-19 melahirkan masalah baru dengan kehadiran limbah medis dari Alat Pelindung Diri (APD). Penanganan limbah medis butuh sinergi dari multi pihak, salah satunya industri daur ulang. 

Jakarta (Greeners) – Manajer Program Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Hery Yusamandra, mengakui limbah medis akibat pandemi Covid-19 merupakan topik baru di kalangan industri daur ulang. Menurutnya, ADUPI sendiri belum banyak mengetahui terkait pengelolaan limbah medis.

Hery menjelaskan ADUPI intens berkomunikasi dengan penyedia teknologi di lembaga penelitian dalam negeri. Pihaknya juga terus mencari informasi terkait sisi ekonomi dan regulasi.

“Ini merupakan hal baru bagi para industri pendaur ulang plastik. Kalau aspek ekonomi, teknologi, dan regulasinya sudah kami ketahui, tentu akan ada yang berminat menekuni. Akan ada industri yang berinvestasi dalam penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah medis,” ujar Hery, dalam webinar Jangan Buang Maskermu, Selasa, (16/2/2021).

Sampah Rumah Tangga yang Tercampur: Tantangan Industri Daur Ulang

Hery menekankan pemilahan sampah menjadi proses penting bagi industri daur ulang. Dia melanjutkan, karakteristik sampah di Indonesia masih tercampur alias belum terpilah dengan baik. Padahal, sampah yang terpilah dengan baik memudahkan proses produksi serta memangkas ongkos produksi untuk pemilahan.

Dia menyebut pemilahan yang baik menentukan kualitas material yang pihak industri terima. Jika pemilahan terkelola dengan baik, lanjutnya, akan membentuk rantai usaha mulai dari rumah tangga. Hery mereken proses tersebut niscaya mengurangi sampah medis terbuang secara signifikan.

“Kalau industri mendapat material yang baik tentu limbah medis bisa jadi potensi daur ulang yang baik untuk industri,” jelasnya.

Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ajeng Arum Sari, mengatakan pengetahuan masyarakat akan pengelolaan limbah APD masih sangat minim. Menurutnya, hal tersebut beresiko pada pencemaran lingkungan dan penularan virus penyebab Covid-19 melalui limbah APD.

“Berbagai penyadartahuan dan kolaborasi antar pihak terkait untuk penanganan limbah mutlak dilakukan,” tegas Ajeng.

Masker

Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ajeng Arum Sari, mengatakan pengetahuan masyarakat akan pengelolaan limbah APD masih sangat minim. Foto: Shutterstock.

Baca juga: HPSN 2021: Gali Potensi Industri Daur Ulang Sampah Dalam Negeri

Mayoritas Masker Sekali Pakai Gunakan Bahan yang Dapat Didaur Ulang

Sementara itu peneliti LPTB LIPI lainnya, Akbar Hanif Dawam Abdullah, menyebut masker sekali pakai yang beredar di masyarakat kebanyakan berbahan polipropilen (PP). Dia mereken PP merupakan bahan yang dapat melalui proses daur ulang. Industri plastik pun sudah tidak asing dengan PP.

“PP sendiri sudah digunakan di beberapa produk umum seperti tutup botol dan gelas plastik. Selain itu dengan titik leleh 163-169 derajat Celcius membuatnya dapat didaur ulang,” jelas Dawam.

Dawam menerangkan pihaknya telah menguji coba daur ulang limbah masker. Proses awalnya adalah dengan disinfektan memanfaatkan pelarutan natrium hipoklorit. Setelah kering, peneliti memotong kecil-kecil masker tersebut sebelum masuk proses ekstrusi untuk menghasilkan bijih plastik daur ulang.

“Setelah melalui pencetakan maka dihasilkan produk daur ulang dari limbah masker. Dari sini kita lihat yang tadinya limbah kita bisa olah menjadi satu produk yang bermanfaat, memiliki nilai ekonomi, dan zero waste,” pungkasnya.

Penulis Muhamad Ma’rup

Top
You cannot copy content of this page