Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air Pertemukan Para Perempuan Tangguh Indonesia

Reading time: 3 menit
perempuan pejuang tanah air
Jumpa pers Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Perempuan dianggap sebagai pihak yang paling menderita jika berbicara tentang pembongkaran atau eksploitasi Sumber Daya Alam. Siti Maimunah, peneliti dan Koordinator Program Beasiswa Sajogyo Institute, mengakui bahwa akibat ekploitasi sumber daya alam di masa lalu, perempuan, sebagai sosok yang sangat berdekatan dengan ruang sumber daya alam tersebut, sangat rentan terkena dampaknya.

Ia menyontohkan ruang hidup akan air. Perempuan dalam konteks ruang hidupnya sebagai “pihak” yang dianggap wajib untuk mengurus keluarga, hidupnya sangat berdekatan dengan air karena membutuhkan air yang lebih besar. Saat ruang itu dirampas karena eksploitasi, maka akan mengakibatkan hancurnya juga ruang hidup perempuan.

BACA JUGA: Judicial Review: KLHK Tegaskan Pentingnya Komitmen Keadilan Untuk Lingkungan Hidup

Di beberapa tempat memang terdapat perempuan-perempuan tangguh yang mampu memimpin penyelamatan hingga pemulihan kerusakan lingkungan. Hingga menurutnya sudah sangat penting untuk meletakkan perempuan sebagai pemeran utama dalam perjuangan.

Menurut perempuan yang biasa dipanggil Mai ini, hingga saat ini peran perempuan dalam perjuangan masih menghadapi hambatan-hambatan yang berbeda dengan laki-laki. Seperti yang terjadi pada Aletta Baun, tokoh pejuang tanah air dari Mollo, Nusa Tenggara Timur yang sering keluar malam untuk mengorganisir masyarakatnya di kampung dan menjadi target pencarian polisi. Dia dicap sebagai pelacur dan ibu yang tidak bertanggungjawab, yang mana hal ini tidak akan terjadi pada laki-laki.

“Masih banyak contoh-contoh lain dari hambatan dan tantangan yang dihadapi perempuan yang mungkin tidak akan dirasakan oleh laki-laki,” terangnya di Jakarta, Selasa (11/07).

perempuan pejuang tanah air

Poster acara Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air. Sumber: pejuangtanahair.org

Untuk membahas isu-isu yang berkaitan dengan krisis sosial ekologis dan upaya perempuan dan perjuangannya untuk penyelamatan dan pemulihan tanah air, Sajogyo Institut dan pesantren Ath-Thaariq akan menggelar Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air pada 14 hingga 16 Juli 2017 di Garut.

Mai menjelaskan, jambore ini berusaha untuk menyediakan ruang antara perempuan-perempuan yang memiliki pengalaman memperjuangkan lingkungannya dan berhasil hingga sekarang dengan perempuan-perempuan yang ingin belajar dari mereka.

Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air ini, ditambahkan oleh Direktur Sajogyo Institut, Eko Cahyono merupakan ruang perjumpaan dan belajar hingga bertukar pengetahuan antar perempuan dari berbagai latar belakang seperti ibu rumah tangga, petani, wirausaha, kepala dusun, penulis, pembuat film, pejabat pemerintah, dan banyak lainnya.

Acara ini berujuan untuk menyediakan kesempatan bagi perempuan untuk bertukar cerita pengalaman menghadapi krisis sosial ekologi di kampungnya. Para pesertanya sendiri akan hadir dari berbagai daerah di seluruh Indonesia seperti penerima beasiswa Studi Agraria dan Pemberdayaan Perempuan (SAPP), perwakilan perempuan dari desa-desa di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Selatan, Ogan Komering Ilir, Tojo Una-una, Donggala, Sigi, Palu, Melawi, Kapuas Hulu, Kutai Kertanegara, Bulungan, Maluku Utara, Tabanan Bali, Bogor, Garut, Flores, Timor Tengah Selatan, Pati, Kota Samarinda dan Jakarta.

BACA JUGA Walhi Jatim: Regulasi Masih Menjadi Ancaman Keselamatan Lingkungan

Dalam studinya, Sajogyo Institut memandang setidaknya ada babak baru yang terjadi dalam perjuangan agraria dan perempuan. Menurut Eko, sebelumnya paling tidak ada tiga babak perjuangan perempuan di tanah air. Pertama, perjuangan melawan penjajah; kedua, perjuangan perempuan di era pembangunan; dan peran ketiga atau babak baru dimana peran perempuan melawan tanah airnya dari rezim yang baru yaitu neokolonialisme.

“Ciri utama dari babak baru ini adalah perjuangan perempuan ini dihadapkan pada komoditifikasi sumber-sumber agraria. Memperdagangkan sumber-sumber agraria menjadi komoditi pasar sehingga industri ekstraktif baik tambang maupun perkebunan ini masuk jauh hingga ke desa-desa,” terangnya.

Pada Jambore ini akan ada publikasi beberapa produk pengetahuan dari proses belajar tentang perempuan dan agraria selama dua tahun terakhir meliputi buku foto “Potret Agraria Perempuan”, buku putih “Perempuan Merayakan Perjuangan Tanah Air”, “Perempuan Dalam Perjuangan Agraria” – Tematik Kelompok Belajar, buku profil kampung halaman: “Berjuang Mengubah Nasib”, lalu peluncuran film “Tutur Perempuan Pejuang Tanah Air”.

Penulis: Danny Kosasih

Top
You cannot copy content of this page