Jazz Gunung 2014; Meninggi untuk Membumi

Reading time: 2 menit

Probolinggo (Greeners) – Pergelaran Jazz Gunung semakin memantapkan diri sebagai pertunjukan internasional dengan kembali menghadirkan musisi kelas dunia. Berada di ketinggian 2000 mdpl, Jazz Gunung juga dicitrakan sebagai pertunjukan musik jazz di lokasi tertinggi.

Jam session-nya ini tidak hanya berkolaborasi dengan orang, tapi juga dengan alam, dengan kabut, gerimis, matahari, dan elemen alam lainnya,” kata Djaduk Ferianto di Panggung Terbuka Java Banana Bromo, Probolinggo (21/6).

Dalam pentas keenamnya, penggagas Jazz Gunung yang terdiri atas Djaduk Ferianto, Sigit Pramono dan Butet Kertaredjasa, menyatakan kesungguhan mereka untuk membesarkan pertunjukan jazz tersebut dan memasyarakatkan musik jazz meski dukungan sponsor semakin berkurang.

Tahun ini, Jazz Gunung mengambil tema ‘Sedekah Bumi Lewat Bebunyi’. Para musisi bersedekah lewat talentanya dan para penonton bersedekah dengan menghidupkan perekonomian masyarakat Bromo selama berlangsungnya Jazz Gunung 20-21 Juni 2014.

“Kita menjaga keharmonisan dengan apa yang kita kerjakan di Jazz Gunung ini. Bagaimana para musisi mengekspresikan lewat bebunyian yang dimunculkan dan disadarkan kembali dengan yang diberikan Tuhan, yaitu alam dan seisinya. Bumi harus kita rawat,” ujar Djaduk.

Pergelaran Jazz Gunung 2014 kali ini nampak berusaha merangkul penonton dari semua usia. Tampilnya musisi muda seperti Monita Tahalea dan The Overtunes pada hari pertama menjadi magnet tersendiri bagi penonton usia muda. Begitu pun dengan penampilan Syaharani and Queenfireworks pada hari kedua.

Rasa jazz yang begitu kental disajikan oleh para musisi senior yang sudah puluhan tahun berkiprah di dunia jazz dan sudah diakui dunia internasional. Sebut saja Indro Hardjodikoro yang sudah bermusik sejak tahun 1980-an serta Nita Aartsen pernah manggung di hadapan Bill Clinton.

Begitu spesialnya Jazz Gunung 2014 ini juga membuat Ring of Fire Project turut menyumbang lagu-lagu yang baru pertama kali diperdengarkan di depan publik. Kelompok yang digawangi Djaduk Ferianto dan personil Kua Etnika kali ini berkolaborasi dengan Nicole Johanntgen. Talenta yang disajikan oleh para musisi luar biasa tersebut membawakan cita rasa jazz mancanegara ke Bromo.

Cita rasa Indonesia yang kental, memuncaki pagelaran Jazz internasional hari ke dua. Djaduk mengajak 1700 penonton melantunkan Indonesia Pusaka untuk membangkitkan kembali kebanggaan terhadap Indonesia yang kian pudar.

(G26)

Top
You cannot copy content of this page