Sentuhan Masyarakat Lokal di Pelestarian Nusa Penida

Reading time: 3 menit
Komunitas ikut merawat terumbu karang di Nusa Penida. Foto: Komunitas Nuansa Pulau

Klungkung (Greeners) – Hidup dekat dan berdampingan dengan kawasan konservasi menempatkan peran vital masyarakat lokal untuk ikut terlibat melestarikan dan menjaga sebuah kawasan. Itulah yang masyarakat lokal dan komunitas di kawasan konservasi perairan Nusa Penida, Bali lakukan.

Selain memantau mereka pun terlibat merawat ekosistem bawah laut Nusa Penida. Kecamatan Nusa Penida berada di sebelah tenggara Bali. Wilayah tersebut terdiri dari Pulau Nusa Penida, Pulau Lembongan, dan Pulau Ceningan. Terletak di Kabupaten Klungkung, kawasan ini kaya akan keanekaragaman hayati laut dan menjadi bagian dari segitiga terumbu karang dunia.

Nusa Penida memiliki pesona air laut yang jernih dengan kekayaan biota di dalamnya. Terdapat ikan Mola mola yang menjadi spesies ikonik di sana, bahkan Pulau Bali. Tak hanya itu, terdapat juga terumbu karang yang indah, ikan pari manta, dan biota laut lainnya.

Gotong royong dan pengetahuan merupakan kunci masyarakat lokal terlibat dalam pelestarian Coral Reef Rehabilitation and Management Program Coral Triangle Initiative Asian Development Bank (COREMAP CTI ADB) di perairan ini.

Sejak tahun 2020 oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan Kementerian PPN Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menghadirkan COREMAP. Harapannya bisa mencegah kerusakan ekosistem di Nusa Penida.

Aktivitas masyarakat lokal di perairan Nusa Penida. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Terlibat Mengonservasi Terumbu Karang

Anggota Komunitas Nuansa Pulau I Gede Ranta Widya mengatakan, adanya program COREMAP ini membantu ia dan timnya ikut mengonservasi terumbu karang.

“Kami dibimbing tentang pengetahuan merawat terumbu karang,” katanya saat Greeners temui di sela-sela tinjauan lapangan COREMAP baru-baru ini.

Executive Director Indonesia Climate Change Trust Fund, Tonny Wagey mengatakan, masyarakat lokal memiliki peran yang sangat penting untuk terus menjaga kehidupan bawah laut di Nusa Penida.

“Dalam upaya mencegah kerusakan ekosistem di Nusa Penida tentu ada keterlibatan masyarakat hingga komunitas lokal. Mereka yang menjadi peran utama untuk mempertahankan ekosistem laut, jika tidak ada mereka tentu sulit untuk menjaga kelestarian laut di sana,” kata Tonny, di Bali baru-baru ini.

Selain melindungi terumbu karang, masyarakat lokal pun berpatroli di kawasan konservasi.

Awasi Zona Inti Kawasan Konservasi Nusa Penida

Kepala UPTD Kawasan Konservasi Provinsi Bali, I Nengah Bagus Sugiarta mengatakan, zona inti di dalam kawasan konservasi Nusa Penida ini dapat pengawasan ketat.

“Zona inti yang berada di kawasan konservasi Nusa Penida ini terus diawasi ketat oleh Pokmaswas atau kelompok masyarakat pengawas. Mereka akan patroli di area tersebut untuk memastikan tidak ada aktivitas snorkeling atau yang lainnya di sana,” ungkap Bagus.

Menurut data kawasan konservasi Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2020, terdapat 567 spesies ikan, 296 spesies karang, dan 13 spesies mangrove serta sekitar 7 spesies tumbuhan asosiasi di kawasan perairan Nusa Penida.

Kawasan zona inti di Nusa Penida ini mutlak dapat perlindungan dan tidak boleh berubah karena aktivitas manusia. Bagus juga menambahkan, alasan dibentuknya zona inti pada kawasan konservasi Nusa Penida ini dikarenakan kondisi ekosistem di sana masih sangat bagus dan baik, bahkan di zona tersebut menjadi tempat perkembangbiakkan ikan.

Hasil panenan rumput laut masyarakat lokal. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Berikan Peluang Ekonomi

Lebih dari sekadar ikut menjaga ekosistem Nusa Penida, masyarakat pun telah memahami bahwa kekayaan laut di wilayah mereka memiliki potensi ekonomi. Bimbingan dan edukasi masyarakat dapat agar memiliki pemahaman utuh di lokasi konservasi.

Salah satunya budi daya rumput laut di Desa Lembongan. Sebagian besar dari mereka saat itu hanya mengandalkan sektor pariwisata. Tetapi sejak pandemi hingga saat ini banyak masyarakat yang memanfaatkan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan sabun.

Hasil dari rumput laut membuktikan bahwa peluang ekonomi dapat masyarakat rasakan. Para petani mendulang rupiah dari penjualan rumput lautnya. Pelaku usaha pun terbantu memanfaatkan sebagai bahan baku menjadi sebuah produk.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top