Libur Panjang, Sampah Pendaki Semeru Capai Tiga Truk

Reading time: 2 menit
Ilustrasi: Ist.

Malang (Greeners) – Jalur pendakian ke Gunung Semeru resmi kembali dibuka per 1 Mei 2015. Antusiasme para pendaki dari dalam maupun luar negeri pun sangat banyak, tak terkecuali pada libur panjang akhir pekan kemarin. Kuota pendaki 500 orang per hari yang ditetapkan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) sedikit bisa mengendalikan membludaknya pendaki di kawasan taman nasional ini. Namun, persoalan sampah masih menjadi kendala lain karena sampah terkumpul di Pos Ranupani pada akhir pekan kemarin mencapai tiga truk.

Kepala BB TNBTS, Ayu Dewi Utari mengatakan, pada libur akir pekan kemarin sampah dari para pendaki Semeru yang dikumpulkan di Pos Ranupani mencapai tiga truk. “Masing-masing truk terdapat sekitar 500 kilogram sampah,” kata Ayu Dwi Utari, Senin (18/05/2015).

Sampah para pendaki ini, kata Ayu, dibawa petugas turun menuju ke tempat pembuangan sampah yang ada di Malang. Sedangkan sampah yang bernilai komersil atau sampah botol plastik dan lainnya dikelola oleh Karang Taruna Desa Ranupani untuk dijual kembali. Banyaknya sampah ini karena kuota 500 orang pendaki sejak tanggal 14 -16 Mei penuh dengan asumsi 500 pendaki di Ranupani, 500 orang bermalam di Ranu Kumbolo atau Kali Mati dan 500 pendaki lainnya perjalanan turun ke Ranupani. Sehingga pada tiga hari itu ada 1.500 pendaki.

Pembatasan pendaki Semeru 500 orang per hari ini, kata Ayu, untuk menjaga kelestarian kawasan selain penutupan rutin yang biasanya dilakukan akhir tahun atau cuaca buruk untuk pemulihan ekosistem. Penambahan kuota biasanya dilakukan pada peringatan HUT Kemerdekaan di bulan Agustus menjadi 1.000 orang per hari karena jumlah pendaki lebih banyak dibanding hari libur umum. Mereka ingin merayakan Hari Kemerdekaan dengan mengadakan upacara bendera di Ranu Kumbolo, Kali Mati.

Animo pengunjung yang ingin mendaki ke Semeru memang semakin meningkat pada hari-hari libur. Kondisi ini juga menyebabkan perjalanan pendakian semakin lambat karena harus antri ketika menapaki jalur yang hanya bisa dilalui satu orang.

Hal ini diakui Bakhtiar, salah satu pendaki yang ditemui di Stasiun Kota Baru, Kota Malang, Jawa Timur. Pendaki asal Jawa Barat ini mengaku menempuh perjalanan dari Pos Ranu Pani ke Ranu Kumbolo selama 6 jam. “Seperti pasar malam, Mas. Jalan kami jadi pelan,” ujarnya.

Menurutnya, kepadatan pendaki terutama di jalur Ranupani menuju Ranu Kumbolo yang berada di ketinggian 2.390 mdpl. Biasanya, dari Pos Ranupani ke Ranu Kumbolo bisa ditempuh selama 3-4 jam saja. Kendati perjalanan semakin lama, namun mereka mengaku senang bisa mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa Ini.

Penulis: HI/G17

Top