Nafas Indonesia: Polusi Udara pada Maret 2023 Meningkat 200 %

Reading time: 2 menit
Polusi udara mengancam kesehatan manusia. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Nafas Indonesia menampilkan data terbaru polusi udara selama bulan Maret 2023. Terungkap polusi udara hampir meningkat 200 %. Lima kota besar menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat.

Pantauan sensor Nafas Indonesia menunjukkan lima kota besar itu yakni DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. Adapun rata-rata mingguan PM2.5 tertinggi oleh Kota Bandung sebesar 47 ug/m3. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan batas aman paparan polusi udara maksimal 5 ug/m3.

Co Founder Nafas Piotr Jakubowski menyatakan, tren kenaikan polusi PM2.5 terlihat sejak minggu ke tiga hingga minggu ke empat bulan Maret. Rekor tertinggi tingkat polusi udara bulan Maret bukan di DKI Jakarta, tapi di Kota Bandung.

Kemudian Surabaya menyusul dengan nilai 44ug/m3 minggu ke empat, lalu Yogyakarta sebesar 41 ug/m3, dan DKI Jakarta sebesar 37 ug/m3.

“Di Kota Bandung pada minggu pertama hanya 15ug/m3, tapi meningkat minggu ke dua 39ug/m3 dan minggu ketiga 47ug/m3,” katanya dalam webinar bertajuk “Buka Data Nafas”, di Jakarta, Kamis (6/4).

DKI Jakarta kerap kali disebut-sebut sebagai penyumbang pencemaran udara terbesar. Namun, sepanjang bulan Maret ini peringkat tertinggi pencemaran PM2.5 tertinggi bulan sepanjang bulan Maret justru di Kota Medan sebesar 42ug/m3.

Kemudian Tangerang Selatan 41ug/m3 dan Depok sebesar 39 ug/m3. Sementara DKI Jakarta justru berada di peringkat 10 dengan nilai 32 ug/m3.

Polusi Udara di Tangerang Selatan

Selain karena oleh faktor atmosfer dan angin, sumber dan jumlah konsentrasi udara berpengaruh signifikan terhadap polusi udara. Tangerang Selatan misalnya, yang hampir secara konsisten masuk ke dalam tiga besar dengan tingkat PM2.5 terbesar sejak tahun 2022 hingga Maret 2023 ini.

Ada beberapa sumber pencemaran udara di Tangerang Selatan. Mulai dari pembakaran sampah, jumlah kuantitas konstruksi, serta pencemaran bawaan dari wilayah selatan Tangerang Selatan yang mempunyai pabrik besar.

Imbasnya, angin membawa polusi tersebut ke wilayah ini. “Tergantung kecepatan dan arah angin pencemaran itu lalu terbawa ke Tangsel,” imbuhnya.

Kendaraan listrik jadi kendaraan masa depan karena rendah atau bahkan nol emisi. Foto: Shutterstock

Percepatan Penanganan 

Ia mendorong adanya percepatan menangani permasalahan pencemaran udara. Misalnya melalui transisi pada sektor energi, transportasi, serta pengelolaan sampah yang berkontribusi besar terhadap emisi karbon.

“Untuk jangka panjang kita harus mempercepat permasalahan ini yakni dengan menangani di sumber. Bukan sekadar “manipulasi” faktor alam,” tandasnya.

Piotr juga mendukung transisi yang kini digaungkan agar beralih menggunakan kendaraan listrik. Ia menilai, langkah ini merupakan terobosan mengurangi dampak buruk pencemaran udara, baik bagi lingkungan dan kesehatan.

Bersama dengan salah satu merek mobil ternama, yakni Mercedes, ia telah menemukan bahwa emisi karbon yang dihasilkan mobil bertenaga listrik lebih rendah 20 hingga 30 % daripada kendaraan konvensional. “Meski listrik juga dari batu bara, tapi untuk jangka panjang ini lebih bagus daripada kendaraan konvensional,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top