Sektor Pertanian Akan Hadapi Kekeringan

Reading time: 2 menit
Musim Kemarau
BMKG memprediksi awal musim kemarau terjadi mulai Mei 2020. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi awal musim kemarau terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia mulai Mei 2020. Sektor pertanian menjadi salah satu yang terdampak oleh kekeringan ini. Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperingatkan krisis pangan juga akan melanda dunia.

Dalam rapat terbatas, Presiden Joko Widodo kemudian memerintahkan jajarannya untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap ketersediaan bahan pokok. “Antisipasi (dan) mitigasi harus betul-betul disiapkan sehingga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan tidak terganggu,” ujar Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa, (05/05/2020).

Baca juga: Pemerintah Diminta Gencarkan Intensifikasi Dibanding Ekstensifikasi Sawah Baru

Presiden Jokowi menekankan tiga arahan untuk menangani kekeringan di musim kemarau. Ia meminta agar ketersediaan air di daerah sentra produksi pertanian terpenuhi. “Penyimpanan air hujan, danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya harus disiapkan dari sekarang,” kata dia.

Kedua, presiden memerintahkan agar mempercepat musim tanam dengan memanfaatkan curah hujan yang masih ada saat ini. Jokowi juga mengatakan agar para petani dipastikan tetap menanam dan memproduksi dengan menerapkan protokol kesehatan. “Ketersediaan sarana-sarana produksi pertanian, baik yang berkaitan dengan bibit, dan pupuk harus betul-betul ada dan harganya terjangkau,” ujarnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo usai mendampingi Presiden Joko Widodo dalam rapat bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2020). Foto: Sekretariat Kabinet RI.

Terakhir, mengenai pengelolaan manajemen stok untuk kebutuhan pokok, presiden mengatakan supaya bahan pokok dihitung secara detail. Ia juga meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) membeli gabah dari petani sehingga harganya menjadi lebih baik.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, menyampaikan bahwa penanaman di musim kedua akan dipercepat dengan memanfaatkan sisa-sisa air hujan yang ada. Percepatan, kata dia, akan dilakukan di lahan existing atau lahan irigasi teknis dengan luas 5,6 juta hektare.

Menurut Mentan, di musim kering, pertanian sangat rentan dengan cuaca, bencana, dan hama sehingga tiga hal itu harus diwaspadai. Untuk mengantisipasinya, ia mengatakan akan mempercepat bantuan penyediaan benih untuk 2 juta hektare lahan, pupuk, dan obat-obatan. Pompa dan parit kecil untuk mengalirkan air, kata dia, juga akan disiapkan.

Baca juga: Rencana Sawah Baru di Lahan Gambut Dinilai Mengulang Kesalahan Masa Lalu

Syahrul berharap cadangan lahan di luar dari lahan ekstenstifikasi masih memadai. Ia berencana menambahnya jika anggaran yang diajukan disetujui. “Kalau Pak Menko setuju dan Bapak Presiden sudah bisa mempersiapkan anggaran, kurang lebih 600.000 hektare yang ada menjadi cadangan,” ucapnya.

Adapun BMKG memprediksi, dari 30 persen wilayah zona musim akan mengalami kemarau yang lebih kering dari biasanya. Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 17 persen mengawali musim kemarau pada April 2020. Daerah tersebut di antaranya sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa. Sebanyak 38.3 persen wilayah yang akan memasuki musim kemarau pada Mei 2020, meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi. Sementara, 27.5 persen daerah di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua akan memasuki awal musim kemarau di bulan Juni 2020. Puncak musim Kemarau 2020 diprediksi terjadi pada Agustus 2020.

Penulis: Dewi Purningsih

Top