Badak Jawa, Satwa Bercula Satu yang Pernah Dianggap Hama

Reading time: 3 menit
badak jawa
Badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Foto: tommy pratomo/pinterest.com

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) atau Javan rhino merupakan spesies paling langka diantara 5 spesies badak yang ada di dunia (JKSH FAHUTAN IPB, 1997). Di masa lampau badak jawa tidak hanya ada di pulau Jawa, melainkan hidup tersebar di gunung-gunung wilayah sebagian besar Asia Tenggara sampai ke India. Perburuan besar-besaran disinyalir menjadi penyebab utama penyusutan populasinya.

Menurut ahli sejarah, dulu badak jawa tinggal tidak jauh dari pemukiman manusia. Di Indonesia sendiri pada abad ke-18, badak jawa pernah dianggap sebagai hama yang mengganggu tanaman perkebunan. Bahkan pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa saat itu pernah mengadakan sayembara dengan hadiah sebesar 10 gulden bagi siapa saja yang berhasil membunuhnya (dikutip pada laman Jurnalbumi.com).

Keunikan badak adalah mereka merupakan salah satu spesies yang berevolusi saat pembentukan kawasan ‘Sunda land’ (Sumatera, Kalimantan dan Jawa, serta jajaran pulau-pulau kecil di sekitarnya merupakan satu daratan) pada ribuan tahun yang lalu. Di Indonesia terdapat dua spesies badak, yaitu Badak Jawa dan Badak Sumatera. Kedua spesies tersebut termasuk dalam kategori satwa kritis menurut ‘The International Union for Conservation of Nature’ IUCN. Meskipun sekilas terlihat memiliki kesamaan fisik, namun jangan salah, nyatanya kedua spesies ini memiliki karaktersitik yang berbeda.

Secara fisik, badak jawa memiliki satu cula dengan ukuran sekitar 25 cm, sedangkan badak sumatera bercula dua, dengan ukuran 28-80 cm pada cula depan dan 10 cm pada cula belakang. Bagian kulit badak jawa berwarna abu-abu, teksturnya tidak rata dan memiliki bitnik-bintik. Sedangkan pada kulit badak sumatera, warna kulit coklat keabu-abuan atau kemerahan, dan memiliki rambut terbanyak di sub-spesies badak lainnya. Bobot berat badan Badak Jawa dan Badak Sumatera, masing-masing berbobot 900-2.300 kg pada badak jawa, dan 600-950 kg pada badak sumatera (sumber: WWF Indonesia).

Walaupun dulu badak jawa hidup di gunung-gunung Jawa Barat pada ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), namun saat ini populasinya hanya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Jawa Barat. TNUK menjadi habitat badak dengan daya dukung bagi 50 individu.

Dari informasi yang didapatkan dari WWF Indonesia, badak jawa memakan daun, ranting, buah di bawah pohon dan di lantai hutan. Salah satu ancaman yang menghantui badak jawa di habitatnya adalah persediaan pakan yang menipis karena perkembangan tanaman langkap (Arenga obtusifolia) di TNUK. Tanaman langkap adalah sejenis palem-paleman yang memiliki tajuk melebar dan jumlahnya yang banyak, menyebabkan terhalangnya sinar matahari sehingga tanaman lain yang lebih rendah (pakan badak) tidak dapat tumbuh.

Untuk meningkatkan kepedulian publik terhadap populasi badak yang semakin berkurang, tanggal 22 September ditetapkan sebagai Hari Badak Internasional (World Rhino Day). Namun baru-baru ini berhembus kabar bahwa keberadaan badak jawa dinyatakan punah di Malaysia. Hal ini diperkuat dari keterangan yang diperoleh dari pidato Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (The Deputy Minister of Natural Resources and Environment), Malaysia, Dr. Hamim Samuri pada seminar Keanekaragaman Hayati (Biodiversity), tanggal 22 November 2017 lalu.

Dalam keterangan tersebut dijelaskan bahwa pantauan jangka panjang lebih kurang 7 tahun, Departemen Kehutanan Malaysia mencatat masih tersisa tiga individu badak jawa. Namun dalam pantauan tahun ini, baik menggunakan kamera jebak (camera traps) ataupun patroli lapangan tidak ditemukan satu ekor pun jenis badak jawa di luasan semenanjung Malaya.

Menurut Hamim, berdasarkan laporan daftar satwa liar terbaru Malaysia, badak jawa telah dinyatakan punah (extinct). Sementara empat satwa lainnya, yaitu badak sumatera, harimau Malaysia, trenggiling sunda dan gaur (bison India), dianggap spesies yang terancam punah.

“Satwa liar kita sedang menghadapi berbagai macam ancaman dikarenakan berkurangnya wilayah habitat oleh deforestasi. Ditambah lagi, berkurangnya habitat satwa liar terutama macan dan gajah disebabkan oleh perburuan dan aktifitas perdagangan liar yang akhir-akhir ini tinggi di pasar gelap”, kata Hamim.

Selain perburuan liar, menurut WWF Indonesia ancaman yang dihadapi oleh badak jawa antara lain berkurangnya keragaman genetis. Sulitnya satwa bereproduksi, menyebabkan rendahnya keragaman genetis yang dapat berakibat pada lemahnya kemampuan badak menghadapi penyakit dan bencana alam. Kemudian hilangnya habitat atau degradasi dan juga invasi tanaman langkap yang menyerang pakan badak.

Seperti dilansir Greeners edisi 29 Mei 2017, hasil studi terbaru yang diterbitkan dalam Jurnal Konservasi (Conservation Letter) menyatakan bahwa sebagian populasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berada dalam jangkauan Gunung Berapi Krakatau dan dekat dengan Cekungan Sunda. Lokasi ini merupakan daerah konvergen lempengan tektonik yang berpotensi menyebabkan gempa bumi, dan dapat memicu terjadinya tsunami.

Dalam studi ini, para peneliti membuktikan bahwa jumlah populasi badak jawa pada tahun 2013 berjumlah 62 individu, ini merupakan populasi yang padat dalam satu habitat. Dalam studi ini juga diproyeksikan jika terjadi bencana tsunami setinggi 10 meter atau sekitar 33 kaki dalam 100 tahun kedepan, dapat mengancam 80 persen area kawasan taman nasional, padahal kawasan ini merupakan habitat dengan kepadatan populasi badak jawa tertinggi.

Peneliti mendesak untuk segera melakukan pembangunan habitat baru bagi populasi badak jawa yang aman dari kawasan rawan bencana alam. Studi ini pun bisa menjadi momentum yang baik untuk segera menyelamatkan satwa yang nyaris punah ini. Beberapa lokasi yang diusulkan menjadi habitat kedua badak jawa menurut WWF Indonesia adalah Hutan Baduy, Taman Nasional Halimun-Salak, Cagar Alam Sancang, dan Cikepuh.

badak jawa

Penulis: Sarah R. Megumi

Top