Domba Laut, Si Kecil Imut yang Dapat Berfotosintesis

Reading time: 2 menit
Kemampuan fauna ini berfotosintesis membuatnya tahan hidup berbulan-bulan tanpa asupan makanan. Foto: Shutterstock

Dunia bawah laut memang menyimpan banyak misteri. Selain dihuni oleh ikan-ikan langka yang mengerikan, area ini juga menjadi rumah bagi spesies menggemaskan seperti domba laut. Sudah pernah lihat rupa hewan yang satu ini? Jika belum, berikut ulasannya!

Leaf sheep, domba daun atau domba laut adalah sejenis siput laut yang berasal dari famili Costasiellidae. Ia tergabung dalam genus Costasiella sehingga berkerat dengan moluska.

Selain kelompok moluska, leaf sheep juga bersaudara dengan hewan invertebrata laut lain. Mereka tidak memiliki kekerabatan dengan domba, walau dijuluki dengan nama demikian.

Tampilan leaf sheep sendiri memang mirip seperti domba darat. Mereka memiliki wajah kecil yang menggemaskan, dengan dua antena panjang yang tampak seperti tanduk domba.

Morfologi dan Ciri-Ciri Domba Laut

Minimnya informasi tentang domba laut mempersulit proses identifikasi mereka. Namun, secara umum hewan ini ahli ketahui memiliki badan seperti daun lidah buaya atau kaktus.

Tidak cuma itu, corak tubuh leaf sheep pakar yakini berbeda di sejumlah wilayah. Beberapa spesiesnya berwarna hijau dan merah muda, namun ada pula yang berwarna keputihan.

Wajah siput ini terlihat putih dengan bola mata kecil berwarna hitam. Antenanya berwarna gelap (hitam), ini berfungsi untuk mendeteksi sumber makanan yang ada di sekitar mereka.

Spesies domba laut berkembang biak antara 5 milimeter hingga 1 sentimeter. Mereka tidak memiliki bagian cangkang, sehingga kerap kali publik sama ratakan dengan jenis plankton.

Selain itu, “daun-daun” pada badan leaf sheep merupakan bentuk kamuflase. Sebab mereka tinggal di sekitar tumbuhan laut, bulu-bulu ini berguna untuk menghindari para pemangsa.

Pola Hidup dan Kebiasaan Leaf Sheep

Domba laut mengonsumsi alga untuk bertahan hidup. Namun alih-alih memakannya, siput tersebut justru menyerap kloroplas alga untuk melakukan kleptoplasty atau fotosintesis.

Mirip seperti tumbuhan, siput laut juga dapat melakukan fotosintesis. Namun mereka bukan satu-satunya, kemampuan ini juga dimiliki oleh salamander berbintik serta kutu kacang.

Seperti yang kita ketahui, alga merupakan makhluk nonklorofil yang mampu berfotosintesis. Dengan menyimpan kloroplasnya, siput laut dapat mempraktikkan kemampuan yang sama.

Walaupun kemampuan fotosintesis domba laut terbilang cukup rendah. Berkat kemampuan ini, mereka dapat bertahan hidup sampai berbulan-bulan lamanya tanpa asupan makanan.

Harapan hidup satwa dengan nama ilmiah Costasiella kuroshimae ini memang belum dapat ahli pastikan. Namun pakar menduga, mereka mampu bertahan hidup antara 2-3 tahunan.

Habitat dan Distribusi Domba Laut

Sayangnya, belum ada catatan resmi mengenai status konservasi leaf sheep. Populasinya ilmuwan yakini masih banyak, mengingat karaktersitik mereka yang cukup kuat dan adaptif.

Siput daun sendiri pertama kali pakar temukan pada tahun 1993 di lepas pantai Kuroshima, Jepang. Mereka ahli ketahui menyebar sampai perairan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Tidak cuma Indonesia, Filipina merupakan habitat asli spesies domba laut. Bahkan menurut berbagai sumber, mereka pernah ahli jumpai di laut Papua Nugini, Australia dan Singapura.

Nama ilmiah domba laut sendiri berasal dari daerah asalnya. Jika “Costasiella” adalah genus hewan tersebut, maka kata “kuroshimae” berasal dari nama Pulau Kuroshima atau Kuro.

Sebagai informasi, domba laut bernapas menggunakan insang seperti hewan laut biasa. Ia berhubungan jauh dengan spesies Elysia chlorotica, yang juga dijuluki sebagai siput laut.

Taksonomi Costasiella Kuroshimae

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page