Kebiul, Tanaman Obat yang Terancam Punah

Reading time: 2 menit
Kebiul umumnya tumbuh di daerah pesisir, hutan pedalaman, dan hutan sekunder hingga ketinggian sekitar 850 m. Foto: Shutterstock

Kebiul, kacang maluku, kacang demam atau gray nicker memiliki nama ilmiah Caesalpinia bonduc. Merupakan salah satu tanaman obat dari famili Fabaceae yang berkerabat dengan tanaman kacang-kacangan seperti kedelai, kacang polong, kacang tanah, dan lainnya. Selain itu, di Indonesia tanaman ini juga disebut areuy mata hiyang.

Memiliki banyak nama ilmiah sinonim, di antaranya Bonduc minus, Caesalpinia bonducella, Caesalpinia cristata, Caesalpinia grisebachiana, Guilandina bonducella, dan masih banyak lagi.

Kulit Buah Kebiul Berduri Tajam

Merupakan tanaman semak besar yang tumbuh hingga 10 meter dengan batang yang berduri dan berbulu. Daunnya tumbuh berseling dan bertangkai, berukuran besar dan panjangnya sekitar 2 cm.

Sementara perbungaannya muncul dari ketiak batang, berukuran hingga 30 cm. Bunga tersebut terdiri dari 5 kelopak, berukuran panjang 8 mm dan berbulu. Mahkota bunganya berwarna kuning dan berbentuk bulat telur.

Bagian buahnya berupa polong lonjong berukuran 5-7 cm × 4-5 cm, berduri dan terlihat menyeramkan. Duri di kulit buahnya berukuran hingga 1 cm, di dalamnya terkandung 2 hingga 3 biji yang agak bulat, halus, dan berwarna abu-abu muda.

Tumbuh di Daerah Pesisir dan Hutan

Kebiul umumnya tumbuh di daerah pesisir, hutan pedalaman, dan hutan sekunder hingga ketinggian sekitar 850 m. Sementara distribusinya meliputi Thailand Selatan, Malaysia, Indonesia, Filipina, Brunei, Singapura, Papua Nugini, Afrika.

Memiliki Segudang Manfaat

Kacang dan kulit akarnya digambarkan sebagai antiperiodik, antispasmodik, anthelmintik dan obat penurun panas. Dalam pengobatan herbal India (ayurveda), tanaman ini digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, khususnya tumor, kista dan fibrosis kistik.

Di Hawaii, kacangnya digunakan sebagai obat pencahar. Selain itu, larutan berair dari kulit terluar bijinya secara tradisional digunakan untuk meredakan gejala diabetes melitus. Dilaporkan juga terdapat aktivitas antibakteri, antijamur, dan antidiabetes dari tanaman ini.

Melansir berbagai sumber, biji kebiul mengandung zat pahit bernama bonducin, phytosterinin, asam lemak, caesalpin (a, b, c, d dan w), bonducellin dan citrulline.

Meskipun memiliki segudang manfaat, di beberapa tempat spesies ini telah dinyatakan punah di alam liar, tetapi masih ditanam di pekarangan rumah untuk penggunaan obat. Bahkan menurut status konservasi lokal di Singapura, statusnya terancam punah (critically endangered).

Taksonomi Kebiul

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

Top