Kongkang Kolam Sumatra, Kodok Kecil Bermoncong Putih

Reading time: 3 menit
Kongkang Kolam Sumatra. Foto: Jarian Permana

Kongkang Kolam Sumatra merupakan spesies amfibi yang tergabung dalam suku Ranidae. Ia berkerabat dekat dengan kongkang kolam biasa, bahkan memiliki ciri fisik yang hampir serupa. Satwa ini tergolong endemik karena hanya bisa kita temukan di Pulau Sumatra.

Pada mulanya, ahli mengidentifikasi kedua kongkang kolam dengan nama ilmiah yang sama. Namun melalui riset lanjutan, barulah pakar mengetahui bahwa kedua spesies itu memiliki DNA berbeda.

Kongkang kolam Sumatra ahli kenal dengan nama Chalcorana parvaccola, sedang kongkang kolam biasa memiliki julukan ilmiah Chalcorana chalconota atau Copper-cheeked Frog secara internasional.

Bagi masyarakat Sunda, kedua spesies kongkang kolam akrab dengan sebutan Bangkong Kolé. Mereka juga awam kenal sebagai White-lipped Frog berkat garis bibirnya yang berwarna putih.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kongkang Kolam Sumatra

Spesies C. parvaccola mempunyai ukuran tubuh relatif kecil; pejantan biasanya berkembang biak antara 28 – 38 mm (11, – 1,5 inci), sedangkan betina tumbuh hingga 38 – 43 mm (1,5 – 1,7 inci).

Moncong hewan tersebut tampak meruncing, matanya besar dan menonjol dengan tubuh yang ramping. Kakinya panjang serta diselimuti oleh selaput renang, kecuali pada ujung jari keempat.

Jari-jari tangan dan kaki kongkang kolam Sumatra memiliki ujung yang melebar seperti cakram. Warna tubuhnya berubah-ubah, namun dihiasi dengan bercak-bercak hitam di bagian dorsalnya.

Terdapat sepasang lipatan dorsolateral yang samar di punggung mereka. Umumnya sisi bawah hewan ini berwarna putih, berbintik atau bernoda kecokelatan terutama di sekitar dagunya.

Kulit ventral tampak halus licin, sedangkan kulit dorsal cenderung berbintil halus. Bibir atas mereka perak kekuningan, serta terdapat beberapa bintik perak yang menyebar sampai ke atas lengan.

Jika kita perhatikan, pipi kongkang kolam Sumatra tampak berwarna cokelat gelap. Bagian sisi kaki bawah, persendian, serta selaput renang satwa tersebut biasanya berwarna agak kemerahan.

Baca juga: Rana Catesbeiana Shaw, Kodok Bersuara Lembu

Kebiasaaan dan Habitat Kongkang Kolam Sumatra

Keluarga Chalcorana lebih aktif di malam hari. Mereka menghuni kawasan sekitar kolam, selokan, saluran air, hingga sungai kecil. Di alam liar, jenis kodok ini bisa kita temukan di area hutan hujan.

Mereka pakar ketahui tersebar mulai dari ketinggian 31 – 1.539 m di atas permukaan laut (mdpl). Pejantan biasanya bertengger di semak belukar, sedangkan betina lebih sering berada di bebatuan.

Saat sedang beristirahat, kongkang kolam Sumatra jantan mengelurkan suara seperti ‘cuit…,cuit…’ untuk memikat sang betina. Mereka bahkan berbiak serta mencari makan di kawasan perairan.

Serangga dan laba-laba kecil merupakan santapan favorit spesies kodok ini. Mereka ahli ketahui juga mengonsumsi jenis hewan akuatik – terutama berukuran mungil – yang hidup di sekitar habitatnya.

Di Pulau Sumatra, kongkang kolam dapat kita temukan di hampir seluruh wilayah. Meski begitu, populasi terbesarnya pakar identifikasi berada di Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung.

Reproduksi dan Konservasi Kongkang Kolam Sumatra

Sama seperti kodok pada umumnya, perkawinan kongkang kolam Sumatra terjadi secara eksternal (ovipar). Siklus hidupnya berawal dari telur, berudu, katak muda, hingga menjadi kodok dewasa.

Ketika berbentuk berudu, warna tubuh kongkang kolam biasanya kehijauan, kekuningan, atau jingga. Terdapat tiga garis hitam di bagian mata, serta sederet kelenjar kecil putih pada sisi perut bawah.

Berudu ini tinggal pada air tenang atau perairan yang menggenang. Untuk orang yang hobi memancing, berudu kodok C. parvaccola kerap mereka gunakan sebagai umpan ikan.

Pada dasarnya, negara memang tidak memasukkan spesies kongkang kolam Sumatra sebagai satwa dilindungi. Populasinya terbilang sangat banyak, sehingga bebas untuk warga buru atau jual belikan.

Menurut IUCN Red List, status konservasi white-lipped frog berada di level ‘Least Concern’ atau risiko rendah. Namun habitatnya tetap harus kita jaga, agar populasi hewan tersebut tidak menjadi langka.

Baca juga: Pseudobufo Subasper, Spesies Kodok Terbesar Asal Indonesia

Taksonomi Spesies Chalcorana Parvaccola

Penulis: Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page