Pseudobufo Subasper, Spesies Kodok Terbesar Asal Indonesia

Reading time: 2 menit
Foto : Shutterstock

Pseudobufo subasper atau Bangkong Banyu diklaim sebagai salah satu katak akuatik terbesar yang ada di dunia. Hewan berordo Anura ini hidup di area rawa-rawa hutan, tepatnya di daerah tropis dan subtropis seperti Indonesia dan Malaysia.

Bangkong banyu adalah satu-satunya spesies yang berasal dari genus Pseudobufo. Mereka mendiami kawasan rawa gambut, serta tersebar mulai dari Pulau Kalimantan hingga Pulau Sumatera.

Distribusi Pseudobufo subasper di Tanah Air memang tidak terlalu luas. Walau mereka berasal dari famili Bufonidae (kodok sejati), eksistensinya hanya bisa ahli temukan di kedua pulau tersebut saja.

Perlu kita garis bawahi, populasi bangkok banyu di alam liar pakar sinyalir sudah semakin menipis. Keberadaannya kian tergerus akibat aktivitas perburuan serta hilangnya habitat asli mereka.

Deskripsi Klasifikasi Pseudobufo subasper

Amfibi merupakan hewan berdarah dingin yang suhu tubuhnya tergantung pada suhu lingkungan. Keberadaan amfibi sebagian besar dipengaruhi oleh faktor iklim, topografi dan juga vegetasi.

Kebanyakan amfibi berkembang biak di habitat perairan, lalu mereka pindah menuju dataran untuk melakukan aktivitas hidupnya. Amfibi terdiri dari tiga ordo yaitu Caudata, Gymnophiona dan Anura.

Anura memiliki jumlah spesies terbanyak dibanding dua ordo lainnya. Menurut berbagai sumber, ada sepuluh famili Anura yang tersebar di Nusantara dan enam di antaranya berasal dari Sumatera.

Bufonidae – famili Pseudobufo subasper – merupakan salah satu keluarga kelompok Anura yang bersifat kosmopolit, sehingga ia mampu bertahan hidup dan berkembang di hampir seluruh wilayah.

Berdasarkan penelitian, ada 33 genus dan 400 spesies dari famili Bufonidae yang tersebar di seluruh dunia. Mereka biasanya memiliki ciri fisik yang mirip, meski tidak semuanya tampak serupa.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pseudobufo subasper

Secara morfologi, tampilan Pseudobufo subasper memang mirip dengan anggota Bufonidae pada umumnya. Mereka memiliki kulit berbintil-bintil dengan permukaan agak kasar ketika kita sentuh.

Selain itu, hewan ini juga memiliki sepasang kelenjar yang berada di belakang mata mereka, yakni kelenjer paratoid. Kelenjer tersebut mengeluarkan cairan berwarna putih dan berbau tidak sedap.

Panjang tubuh mereka terbilang bervariasi, mulai dari 25 mm sampai 25 cm. Umumnya, kelompok katak ini mempunyai bentuk tubuh gemuk, kekar, dengan empat tungkai dan jari-jari yang melebar.

Warna tubuh bangkong banyu cokelat kehitaman. Bagian sisi lateral umumnya berwarna oranye sampai kemerahan, serta terdapat bintik-bintik hitam maupun cokelat di sekujur badan mereka.

Matanya tampak berwarna cokelat keemasan dengan pupil berbentuk horizontal. Mereka memiliki timpani kecil, kelenjar paratoid besar, dan jari ekstremitas anterior yang tidak berselaput.

Meski cukup tipis, jari ekstremitas posterior Pseudobufo subasper berselaput hampir penuh. Tidak seperti kodok atau katak lainnya, amfibi dari keluarga ini tidak punya titik hitam di ujung jarinya.

Populasi dan Kepunahan Bangkong Banyu

Kotawaringin Barat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah. Berkat area rawa gambutnya yang luas, wilayah ini dikenal sebagai lokasi berbiaknya bangkong banyu di Indonesia.

Namun status tersebut agaknya tidak berlangsung lama. Seperti yang santer media beritakan, populasi bangkong banyu di Kotawaringin Barat semakin menurun setiap tahunnya.

Selain disebabkan oleh tingginya aktivitas alih fungsi lahan, geliat industri pertambangan di kabupaten tersebut turut memperparah dampak lingkungan yang terjadi pada habitat satwa.

Peran pemerintah dalam melindungi spesies ini pun terbilang minim. Selain kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat, penelitian atas populasi hewan tersebut juga sangat jarang kita temukan.

Hasilnya, tidak ada data pasti yang bisa menunjukkan jumlah Pseudobufo subasper di alam liar. Langkah konservasi pun semakin sulit kita lakukan akibat rendahnya tingkat kesadaran warga.

Taksonomi Pseudobufo Subasper

Penulis : Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page