Kopi Liberika, Flora Penyelamat Gambut yang Bernilai Tinggi

Reading time: 3 menit
Kopi Liberika
Kopi Liberika, Flora Penyelamat Gambut yang Bernilai Tinggi. Foto: Shutterstock.

Nama Kopi Liberika (Coffea liberica) mungkin tak sepopuler Kopi Robusta (Coffea canephora) dan Arabika (Coffea arabica L.). Meski begitu, potensi kopi yang satu ini tergolong sangat besar karena memiliki nilai ekonomis tinggi, serta berguna sebagai penjaga kelestarian alam.

Secara umum, spesies coffea liberica adalah tanaman yang kuat. Mereka toleran terhadap serangan hama, penyakit, lingkungan beriklim panas, serta kelembapan udara yang tinggi.

Berbeda dengan jenis kopi lain, tanaman tersebut dapat tumbuh secara baik di atas tanah gambut. Itu sebabnya, banyak orang menyebut flora ini sebagai tumbuhan atau kopi khas lahan gambut.

Perlu kita ketahui, mulanya kopi liberika masyarakat anggap sama dengan spesies kopi robusta. Namun, seiring berjalannya waktu, para peneliti mengetahui jika kedua kopi tersebut memiliki ciri yang berbeda.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kopi Liberika

Ukuran buah kopi liberika memang cukup besar, diameternya lebih lebar ketimbang\ jenis kopi lainnya. Daging buah tersebut tebal dengan pupus daun berwarna hijau atau hijau kecokelatan.

Bentuk biji liberika biasanya membulat oval, memiliki panjang antara 0,83-1,10 cm dan lebar 0,61 cm. Dalam satu buahnya, terdapat dua biji kopi yang masing-masing berukuran 7-15 mm.

Meski berukuran cukup besar, nyatanya bobot dari buah kering tersebut terbilang sangat ringan. Rerata bobot buah coffea liberica hanya 10% dari bobot buah dengan karakter yang basah.

Selain itu, spesies kopi ini juga tergolong sebagai pohon berhabitus tinggi. Diameter tajuknya mencapai 3,5-4 m, serta mampu berkembangbiak hingga setinggi 12 m lebih apabila dibiarkan.

Melansir penelitian Harnaldo Sianipar dari Universitas Jambi, terdapat lima tipe keragaman morfologi daun dan buah liberika di kawasan Tanjung Jabung Barat, yaitu:

  • Tipe pertama; ukuran daun sedang, memiliki pupus hijau muda dengan ujung daun runcing. Bentuk buah bulat dengan diskus datar lebar, serta kelebatan buah sedang.
  • Tipe kedua; ukuran daun besar namun lebarnya cukup sempit dengan ujung daun meruncing. Ukuran buah besar berbentuk oval, diskus besar menonjol, ruas cabang sedang dan buah lebat.
  • Tipe ketiga; ukuran daun seukuran daun nangka ujung runcing, buahnya berbentuk oval dengan diskus kecil menonjol, lebat serta ruas yang sangat pendek.
  • Tipe keempat; ukuran daun sedang dengan bagian ujung yang runcing. Buahnya berbentuk bulat besar, diskus menonjol, ruas antar dompolan pendek dengan pertumbuhan yang lebat.
  • Tipe kelima; ukuran daun dan buah sedang dengan diskus menonjol tinggi, dompolan buah rapat, serta kelebatan buah yang juga sedang.
Kopi LIberika

Bunga dari tanaman kopi liberika. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Pohon Serut, Berguna sebagai Bonsai hingga Kertas Kuno

Asal-Usul, Habitat dan Persebaran 

Dalam sejarahnya, kopi liberika masuk ke Indonesia karena Belanda bawa pada abad 19. Saat itu, bangsa kolonial menghadirkan kopi ini untuk mengganti kopi arabika yang sedang terserang hama daun karat.

Dari habitatnya, para ahli meyakini jika tanaman tersebut berasal dari Liberia. Namun flora ini juga bisa kita temukan di daerah Afrika lain, seperti Angola, Ghana, Kongo dan sebagainya.

Di Indonesia sendiri, kopi langka ini  di warga tanam di lahan basah atau gambut di sepanjang pantai timur Sumatra, mulai dari Jambi sampai ke Kepulauan Riau dan Kepulauan Meranti.

Bagi masyarakat pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, tanaman ini tidak cuma berguna sebagai olahan kopi namun juga berperan penting dalam menyelamatkan gambut dari degradasi.

Walaupun sangat bermanfaat, sayangnya budidaya kopi liberika di tanah air masih terbilang jarang. Masyarakat umumnya belum paham, bahwa jenis kopi ini layak untuk menjadi objek budi daya serta jual beli.

Membandingkan Keunggulan dan Potensi Liberika

Kopi liberika merupakan salah satu komoditas unggulan di Kepulauan Meranti. Biasanya, warga menanamnya di antara pohon kelapa, pohon pinang, dan juga pohon karet.

Pada dasarnya kopi ini mempunyai potensi ekonomi yang tinggi. Para konsumen (khususnya pecinta kopi) pun mulai mencari produk tersebut karena cita rasa yang unik dan aromanya yang khas.

Karakter rasa kopi liberika sendiri tidak sepahit robusta, namun ada sensasi aroma nangka asam yang hampir menyerupai kopi arabika dan buah coklat.

Bila masuk masa berbuah, dalam kondisi ideal spesies kopi ini dapat kita panen setiap 20 hari sekali. Di dalam satu batang pohonnya, liberika mampu menghasilkan sekitar 15-20 kg buah kopi.

Sebagai informasi, di Kepulauan Meranti harga buah basah (ceri) untuk kopi berkisar Rp2.500-4.000 per kg. Sedang, buah beras (biji kupas) harganya antara Rp30.000-40.000 lebih tinggi dari robusta.

Di negara tetangga yakni Malaysia, harga kopi liberika mencapai Rp48.800-51.200. Apabila sudah green bean (biji kopi kering), biji kopi kualitas bagus bisa warga jual seharga Rp90.000–120.000 per kg.

Keuntungan semakin meningkat jika kondisinya sudah melalui proses sangrai atau dalam bentuk bubuk. Dalam kondisi sangria harga kopi ini berkisar Rp200.000, sedang kondisi bubuk nilainya meningkat hingg 270.000 per kg.

Taksonomi Kopi Liberika

Taksonomi Kopi Liberika

Referensi:

Harnaldo Sianipar, Universitas Jambi

Pandam Prasetyo, dkk., CIFOR

Laman Dinas Pertanian Jambi

Laman Dinas Pertanian Jambi

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page