Pegagan, Herba Mungil Pemberi Asupan Otak

Reading time: 3 menit
otak
Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). Foto: flickr.com/photos/plj/4729707765

Pegagan dikenal dengan nama latin Centella asiatica (L.) Urban atau Hydrocotyle asiatica Linn. Di Indonesia tumbuhan ini dikenal dengan berbagai macam nama sesuai dengan daerah tempat mereka tumbuh. Di Sunda dikenal sebagai antanan, di Sumatra disebut daun kaki kuda, di Madura disebut tikusan, di Jawa disebut gagan-gagan dan di Bali disebut piduh. Di Inggris pegagan dikenal dengan sebutan pennywort, sedangan di Amerika disebut gotu kola.

Pegagan merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan serta pematang sawah. Pegagan juga sering disebut daun kaki kuda, hal ini dikarenakan bentuknya yang menyerupai bentuk kaki kuda (Lasmadiwati et al., 2003). Pegagan berasal dari Asia tropik dan berkembang dengan baik di kawasan panas lainnya. Di Indonesia, pegagan mudah dijumpai di daerah pantai sampai ketinggian 2.500 mdpl.

Secara morfologi pegagan tergolong tanaman berbatang pendek, sehingga dianggap tidak mempunyai batang. Dari batang tersebut tumbuh geragih atau stolon yang tumbuh horizontal diatas tanah dan berbuku-buku.

Daunnya merupakan daun tunggal, bentuk daunnya bulat seperti ginjal manusia dengan pangkal yang melekuk ke dalam dan menjalar. Pada tiap ruas tumbuh akar dan daun dengan tangkai daun panjang sekitar 5–15 cm dan akar berwarna putih, dengan rimpang pendek dan stolon yang merayap dengan panjang 10–80 cm.

Bunga pegagan termasuk bunga majemuk, bentuknya bulat telur dan mahkota bunganya berwarna merah lembayung. Bunganya muncul dari ketiak daun sedangkan buahnya termasuk buah majemuk dengan jumlah tidak terbatas. Bentuk buah pegagan kecil bergantung, lonjong dengan panjang 2-2,5 mm. Biji buahnya berwarna coklat tua dan berbuah tidak mengenal musim. Bau buahnya wangi dan bila dimakan rasanya pahit.

otak

Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). Foto: flickr.com/photos/plj/4729707765

Pegagan mempunyai senyawa fotokimia seperti flavonoid, saponin, polifenol, dan alkaloid serta sifat anti mikrobia, anti hipertensi, anti fertilasi, anti oksidan, anti infammatori, anti neoplastik, dan anti gastrik.

Pegagan telah dimanfaatkan sebagai obat terutama oleh masyarakat India, Pakistan, Malaysia, dan sebagian Eropa Timur sejak ribuan tahun lalu. Tanaman ini dipercaya bisa menambah ketahanan tubuh, membersihkan darah, dan memperlancar urine. Tanaman ini digunakan secara oral dan topikal untuk meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki, mencegah varises, dan salah urat.

Dikutip pada laman lifestyle.kompas.com, saat ini pegagan sering dimanfaatkan sebagai tonik (penguat) daya tahan otak dan saraf. Dari uji klinis di India, tanaman ini dapat meningkatkan IQ dan kemampuan mental, serta menanggulangi lemah mental pada anak-anak. Penelitian lain membuktikan, pegagan dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori. Karena manfaatnya itu, tanaman ini juga dikenal sebagai “makanan otak”.

Kemampuan pegagan dalam meregenerasi jaringan neuron otak yang mengalami nekrosis (kondisi cedera pada sel yang mengakibatkan kematian dini sel-sel dan jaringan hidup) menjadikan pegagan banyak dipilih untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan kemampuan daya ingat. Selain itu kandungan triterpenoid saponin (asiaticoside) yang terkandung di dalam pegagan diketahui melancarkan peredaran darah otak.

Menurut Muctaromah dalam kajian ilmiahnya yang berjudul “Efek Farmakologi Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) Sebagai Suplemen Pemacu Daya Ingat” pun menguatkan bahwa adanya senyawa triterpenoid dalam pegagan khususnya asiatic acid dan asiaticoside menjadi dasar berkembangnya herbal ini dalam mengatasi pernyakit yang berhubungan dengan otak.

Masyarakat Indonesia yang telah memanfaatkan pegagan secara turun-temurun adalah masyarakat Sasak Lombok, Bengkulu dan Jawa. Mereka mengonsumsi pegagan dalam bentuk segar sebagai lalapan untuk makan pagi atau siang, sedangkan rebusannya banyak digunakan untuk mengobati berbagai penyakit termasuk penyakit penurunan daya ingat.

otak

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page