Pohon Buni, Buahnya yang Asam Mengandung Antioksidan Tinggi

Reading time: 2 menit
Pohon buni toleran hawa panas dan kekeringan. Foto: Shutterstock

Pohon buni atau biasa dikenal juga sebagai wuni, merupakan tumbuhan penghasil buah berkhasiat yang jamak ditemukan di Asia Tenggara. Tanaman ini sejatinya berasal dari wilayah India, namun terdistribusi sampai ke Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Buni memiliki nama latin Antidesma bunius. Flora ini tergabung dalam famili Phyllanthaceae dan genus Antidesma, suatu kelompok tanaman berbunga yang berkembang di area tropis.

Secara bentuk, pokok buni sendiri tampak rindang dengan daun berwarna hijau. Tumbuhan ini sering dijadikan sebagai peneduh, walaupun cukup jarang ditanam di pekarangan rumah.

Melansir berbagai sumber, spesies A. bunius terkenal akan manfaatnya yang sangat banyak. Buahnya bisa dikonsumsi, bahkan terdapat kandungan antioksidan yang tinggi di dalamnya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pohon Buni

Pohon buni dapat tumbuh hingga 30 meter, meski normalnya hanya mencapai 3–10 meter. Batangnya tegak dan bercabang rendah, sedangkan daunnya berbentuk lanset atau lonjong.

Daun-daun tersebut muncul secara berseling, pangkal dan ujungnya tumpul atau membulat. Sedangkan teskturnya menjangat dan berkilap, dengan tulang menonjol pada bagian bawah.

Panjang tangkai daun umumnya berkisar 1 cm. Perbungaannya muncul di bagian ujung atau ketiak daun, berbentuk bulir tandan, serta dapat kita bedakan atas bunga jantan dan betina.

Bunga jantan tidak bertangkai, daun kelopaknya mirip cawan, serta mempunyai 3–4 cuping pendek. Sedangkan bunga betina bertangkai, dengan ukuran rata-rata antara 1 mm x 2 mm.

Buah pohon ini tampak seperti ceri; berbentuk bulat atau bulat telur dengan diameter 8–10 mm. Mulanya buah tersebut berwarna hijau, namun berubah kemerahan saat sudah masak.

Buah yang sudah tua bahkan bisa berubah warna menjadi ungu kehitaman. Di dalam daging tersedia beberapa biji buah, warnanya hitam dengan bentuk bulat telur sampai melonjong.

Habitat dan Distribusi Pohon Buni

Pohon buni ditemukan di wilayah basah sekitaran India, mulai dari Himalaya ke selatan dan timur. Spesiesnya lantas menyebar ke Sri Lanka, Myanmar, Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Meski begitu, praktik budi daya tumbuhan ini paling banyak ditemukan di sekitar Indo-Cina dan Indonesia. Mereka menyukai wilayah yang lembap, meski tergolong adaptif dan kuat.

Buni toleran terhadap hawa panas dan kekeringan. Bibitnya sangat cocok dibudidayakan di provinsi-provinsi bagian timur Indonesia, sebab iklim di sana dipengaruhi oleh angin muson.

Spesies A. bunius berkembang biak di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Mereka terbilang sangat populer, walaupun sudah jarang ditemukan.

Pohon berordo Malpighiales ini bahkan mempunyai sejumlah julukan. Masyarakat Jawa dan Sunda mengenalnya sebagai wuni, sedangkan orang Madura menyebutnya sebagai burneh.

Kandungan dan Manfaat Pohon Buni

Bagian yang paling banyak dimanfaatkan pada pohon buni, ialah buahnya. Bagian ini punya berbagai kandungan yang baik bagi tubuh, sehingga cukup cocok untuk dikonsumsi manusia.

Nutrisi yang terkandung pada buah buni di antaranya protein, kalsium, fosfor, vitamin B1, B2 dan B3. Ini juga mengandung antioksidan tinggi yang baik untuk mencegah radikal bebas.

Di banyak negara, salah satunya Indonesia, buah buni digunakan sebagai campuran bumbu. Cita rasanya yang asam berguna sebagai pengganti cuka, olahan salad, minuman dan selai.

Tidak cuma buah, daun tanaman tersebut juga bermanfaat sebagai lalapan. Kayunya dikenal memiliki daya tahan yang kuat, sehingga kerap diolah sebagai mebel atau peralatan lainnya.

Merujuk IUCN Red List, status konservasi A. bunius berada pada kategori risiko rendah. Tren populasinya cukup stabil, meski budi dayanya sudah tergantikan oleh tumbuhan buah lain.

Taksonomi Antidesma Bunius

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page