Siamang, Primadona Hutan yang Hobi Menggericau

Reading time: 4 menit
Foto siamang sedang bernyanyi
Siamang, Primata Terancam Punah yang Hobi Menggericau. Foto: Shutterstock.

Fauna ini layaknya primadona yang sering konser di dalam hutan. Sayangnya, pembabatan hutan demi mengeruk keuntungan dari kelapa sawit sekaligus menggerus habitat satwa ini. Sebelum terlambat, ayo kita kenali siamang dan segera berupaya melindungi gericauannya di dalam hutan. 

Kita seringkali mengenal hewan mulai dari masa kanak-kanak, lewat fabel atau melihatnya di kebun binatang. Salah satu jenis binatang yang umum kita jumpai adalah primata. Primata terdiri dari banyak macamnya, ada monyet, kera, orang utan, simpanse, dan masih banyak lagi. Namun, ternyata beberapa primata mulai terancam punah karena hilangnya habitat asli dan perburuan liar. Salah satunya adalah Siamang, primata yang terancam punah dan belum banyak orang ketahui.

Mengenal Siamang Lebih Dekat

Habitat 

Siamang, yang bernama latin Symphalangus syndactylus adalah spesies yang hidup bersahabat dengan pohon. Suara siamang terkenal kedahsyatannya dan gerakannya yang lincah dari pohon satu ke pohon lain. Siamang habitat aslinya berasal dari Sumatra. Daerah persebaran alami siamang adalah semenanjung malaya dan hutan hujan tropis serta hutan monsun Sumatra. Biasanya, ia tidur dan istirahat pada bagian pohon yang paling tinggi, di ketinggian antara 305 sampai 1220 meter.

Ciri-ciri Siamang

Primata ini memiliki bulu hitam yang panjang dan lebat, namun area di sekitar mulut dan dagunya berwarna abu-abu atau merah muda. Biasanya ukuran tubuhnya dua kali lipat dari ukuran spesies owa lainnya. Panjang kepala dan tubuh siamang dewasa antara 737-889mm. Berat badan betina berkisar antara 10-11,1 kg, sedangkan jantan dewasa berkisar antara 12,3-14,8 kg. Satwa ini memiliki sedikit selaput di antara jari kaki kedua dan ketiga. Ibu jari kakinya terpisah jauh dari jari kaki lainnya.

Kekhasannya ada pada kantung tenggorokannya yang besar dan dapat mengembang serta berambut jarang. Ketika mencapai ukuran terbesarnya, kantung tenggorokan bisa sebanding dengan ukuran jeruk bali. Karakteristik unik lainnya dari spesies ini adalah lengannya menjadi penggerak ketika memanjat, berayun, ataupun melompat. Panjang lengannya mencapai dua setengah kali tubuhnya. Ia bisa berayun di ketinggian 25 hingga 32 kaki (8 sampai 10 meter). Tetapi, di antara owa lainnya, siamang bergerak lebih lambat. Saat di tanah, mereka biasanya bergerak dengan kedua kakinya.

Berbeda dari simpanse, orang utan, gorila, dan manusia, siamang terkenal sebagai syndactylus. Panggilan ini karena ia memiliki dua jari di setiap tangan yang telah menyatu.

Foto siamang sedang bergelantang

Siamang bergelantungan di pepohonan hutan. Sayangnya, habitat siamang semakin tergerus karena masifnya korporasi kelapa sawit. Foto: Shutterstock.

Sifat Teritorial

Siamang memiliki wilayah yang relatif kecil, sekitar 0,24 kilometer persegi, dan mempertahankan wilayah mereka dengan ritual nyanyian setiap hari. Primata ini melakukan perjalanan sekitar setengahnya setiap hari.  Wilayah jelajahnya sekitar 15 hingga 35 hektar.

Kebiasaan Tidur

Mereka beristirahat dengan menyangga atau menggantungkan diri di pepohonan. Satwa ini diurnal atau aktif di siang hari.

Hobi Menggericau

Hewan ini selalu memenuhi hutan yang dia tinggali dengan gericauan merdu nan membahana. Ketika menggericau, kantong tak berbulu di tenggorokan owa siamang mengembang. Kantong ini menambah volume panggilannya, sehingga gericauannya dapat terdengar hingga sejauh 4,8 kilometer di dalam hutan.

Siamang biasanya mengerih di pagi hari. Kerihan ini untuk mendefinisikan atau mempertahankan wilayah dari para tetangganya. Selain itu, gericauan siamang juga merupakan tanggapannya atas gangguan.

Komunikasi

Ricauan siamang juga merupakan bentuk komunikasi satwa ini. Selain gericauan solo, komunikasi vokal siamang tak jarang melibatkan duet, terutama ketika mereka sedang ingin kawin. Selain komunikasi vokal, hewan ini menggunakan komunikasi taktil. Komunikasi taktil terlihat pada agresi fisik. Semua primata menggunakan sinyal visual, seperti ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh dalam berkomunikasi.

Saat bersuara, mamalia ini dapat menghasilkan dua jenis nada yang berbeda menggunakan kantung tenggorokannya. Vokal yang dalam yang keluar dengan mulut tertutup, dan juga suara yang nyaring ketika mulut terbuka. Suara dengan mulut tertutup jarak dengarnya lebih jauh daripada suara dengan mulut terbuka atau yang terdengar seperti teriakan ‘wow’. Vokalisasi ini seperti gonggongan yang memiliki pola. Awalnya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Panggilan ini sering bersamaan dengan perilaku akrobatiknya.

Reproduksi dan Perkembangan

Spesies ini adalah primata monogami, hidup dalam kelompok keluarga dengan tiga keturunan. Satwa ini menghasilkan satu keturunan dengan interval dua sampai tiga tahun. Masa kehamilannya antara 189-239 hari atau kira-kira 7 setengah bulan. Keturunannya melekat pada induknya, selama tiga sampai empat bulan pertama. Ayahnya mulai menggendong bayinya pada saat masa sapih setelah bayi mencapai usia dua tahun. Pejantan menunjukkan lebih banyak perawatan untuk keturunannya daripada spesies owa lain. Satwa ini mencapai kedewasaan pada usia enam atau tujuh tahun. Usia hidup satwa ini bisa lebih dari 40 tahun di penangkaran.

Baca juga: Bilou, Owa Terkecil Di Dunia Yang Terancam Punah

Tatanan Sosial

Siamang terkenal memiliki lebih banyak koordinasi dan kontak selama aktivitasnya sehari-hari. Keluarga biasanya mencari makan bersama-sama. Primata ini bangun saat matahari terbit dan melakukan ‘konser pagi’ dengan kantung tenggorokannya sebelum berangkat mencari makan. Biasanya mereka butuh waktu sekitar 5 jam untuk makan sampai kenyang. Setelah delapan sampai sepuluh jam beraktivitas, mereka mengidentifikasi tempat untuk istirahat dan tidur.

Seperti kebanyakan primata, salah satu kegiatan terpenting dari hewan ini adalah grooming atau berdandan. Siamang dewasa biasanya butuh waktu rata-rata 15 menit per hari. Berdandan adalah bentuk dari dominasi. Semakin dominan dirinya, maka satwa ini lebih banyak mendapatkan perawatan daripada merawat.

Jenis Makanan Siamang

Makanan siamang terdiri dari berbagai macam jenis. 49% buah, 38% daun, 3% bunga, dan 10% serangga. 37% dari keseluruhan pakan siamang adalah buah ara. Selain itu, daun muda juga kesukaannya. Selama sebagian besar waktu makannya, satwa ini menahan diri dengan satu tangan.

Status Konservasi

International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List mengklasifikasikan siamang dalam status endagered, rawan punah. Satwa ini terdaftar pada Appendix I CITES (CITES 2011). Status IUCN-nya menunjukkan penurunan populasi lebih dari 50% dalam 50 tahun terakhir. Seperti halnya spesies owa-owa lainnya, kurangnya data termutakhir tentang ukuran populasi dan jangkauan siamang merupakan masalah serius bagi upaya konservasi.

Lokakarya penilaian tentang Primata Asia untuk IUCN Red List pada 2006 tidak memiliki data terkini tentang populasi fauna ini. Lokakarya Gibbon Indonesia tahun 2008 memperkirakan bahwa total ukuran populasi siamang di Sumatra kurang dari 200.000 individu. Padahal, pada 1987, pakar memperkirakan 360.000 individu siamang hidup di Sumatra. Angka yang menunjukkan penurunan dramatis ini harusnya menjadi alarm untuk kita dalam mengupayakan perlindungan satwa bersuara merdu ini.

Taksonomi Symphalangus syndactylus

taksonomi siamang

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Top

You cannot copy content of this page