Beruk, Primata Cerdas Penghuni Hutan Asia Tenggara

Reading time: 2 menit
Perburuan liar dan deforestasi menyebabkan jumlah spesies beruk terus menurun setiap tahunnya. Foto: Shutterstock

Nama hewan beruk tentu sudah tidak asing lagi di masyarakat. Selain terkenal cerdas, salah satu jenis makaka itu menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Meskipun sangat populer, sayangnya populasi southern pigtail macaque kini mengalami penurunan pesat.

Secara taksonomi spesies beruk ahli juluki sebagai Macaca nemestrina. Mereka tergabung ke dalam famili Cercopithecidae, sehingga berkerabat dengan monyet yaki atau Macaca nigra.

Selain southern pigtail macaque, monyet tersebut juga populer dengan sebutan Sundaland pigtail macaque. Ini merujuk pada habitat asli serta penampilan dari spesies M. nemestrina.

Kelompok M. nemestrina dapat kita temukan di selatan Thailand, Malaysia, serta Indonesia. Mereka memiliki ekor yang pendek dan agak melengkung, sehingga mirip seperti ekor babi.

Morfologi dan Ciri-Ciri Hewan Beruk

Tidak cuma melengkung, keunikan lain dari ekor M. nemestrina adalah permukaannya. Ekor mereka nyaris tidak berbulu, meskipun pada bagian lain tampak lebat dan berwarna cokelat.

Bulu-bulunya ini tumbuh tegak dan dapat berubah menjadi cokelat kekuningan saat dewasa. Terdapat beberapa corak kehitaman pada bagian bulu kepala, punggung, kaki dan pahanya.

Panjang tubuh beruk mencapai 450-600 mm dengan bobot antara 7-9 kg. Posturnya terlihat cukup tegap, serta mempunyai ukuran tubuh sedikit lebih besar dari monyet ekor panjang.

Tidak hanya itu, beberapa spesies M. nemestrina berbiak dengan bulu keabu-abuan. Kaki-kakinya terlihat panjang serta memiliki ukuran yang hampir sama dengan panjang tubuhnya.

Beruk merupakan penghuni asli kawasan hutan hujan. Mereka hidup dalam kelompok besar, namun terbagi dalam kelompok-kelompok kecil ketika siang hari atau saat mencari makan.

Habitat dan Distribusi Hewan Beruk

Sebagian besar aktivitas southern pigtail macaque terjadi di atas tanah (terestrial). Mereka dapat memanjat namun hanya untuk berburu, menghindari musuh, ataupun beristirahat.

Di alam liar, beruk mengonsumsi buah-buahan, serangga, bunga, rayap, tumbuh-tumbuhan dan jamur. Ia bahkan memakan kepiting sungai, sebab mendiami wilayah sekitar perairan.

Bicara soal teritori, M. nemestrina sering berkumpul di lahan perkebunan, pertanian, tepian sungai, serta hutan rawa dengan ketinggian kurang dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Di Indonesia sendiri, populasi beruk terdistribusi mulai dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, serta Pulau Bangka.

Mereka dapat pula kita temukan di daerah Sumatra Utara dan Aceh. Namun akibat tingginya angka perburuan liar dan deforestasi, populasi spesies ini terus menurun setiap tahunnya.

Pola Hidup dan Kebiasaan Hewan Beruk

Meski sebagian besar primata tidak menyukai air, tidak demikian dengan kelompok beruk. Mereka bahkan hidup di sekitarnya serta mengonsumsi makanan yang ada di area tersebut.

Sebagai satwa yang cerdas, M. nemestrina dapat mengarungi hutan tanpa suara gaduh. Ini dilakukan untuk menghindari pemangsa, sekaligus mengantisipasi agar buruan tidak kabur.

Pola komunikasi beruk terjalin dengan cara mengeronyotkan bibirnya. Tatanan sosial sangat penting bagi hewan ini, sehingga kita dapat melihat hierarki antara anggota kelompoknya.

Bagi pejantan status sosial diperoleh lewat adu kekuatan, sedang betina berdasarkan garis keturunan. Seperti primata lainnya, kelompok yang dominan di sini adalah para pejantan.

Beruk mencapai kematangan seksual pada usia 3-5 tahun. Durasi kehamilannya enam bulan, namun sang betina hanya melahirkan anak sebanyak satu ekor dalam waktu dua tahunan.

Taksonomi Spesies Macaca Nemestrina

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page