Dampak Memakai Masker Terlalu Lama

Reading time: 2 menit
Hiperkapnia
Foto: shutterstock.com

Selama pandemi corona virus melanda, masyarakaat diminta untuk melindungi diri dengan menggunakan masker dan menerapkan pembatasan jarak. Namun, pemakaian masker wajah dalam jangka waktu yang lama dianggap dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti Hiperkapnia.

Hiperkapnia merupakan suatu kondisi yang disebabkan banyaknya karbon dioksida di dalam darah. Gejalanya ditandai dengan pusing, kantuk, kelelahan, sakit kepala, perasaan bingung, kulit memerah, dan sesak napas.

Baca juga: Waspada Sindrom Inflamasi Multisistem Setelah Covid-19

Tetapi bila memasuki fase kritis, gejala yang ditimbulkan bisa lebih dari itu. Contohnya kehilangan kesadaran, koma, hiperventilasi, otot berkedut, dan kejang. Riwayat penyakit pernapasan seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) juga dapat menyebabkan hiperkapnia dan hipoksia.

Melansir vanguardngr.com, menurut dr. Dennis A Castro, menghirup udara yang dihembuskan berulang kali ibarat menghirup karbon dioksida. Akibatnya ketika melakukan aktivitas akan lebih cepat merasakan kelelahan yang luar biasa. “Selain itu kekurangan oksigen menyebabkan pemecahan glukosa dan kenaikan asam laktat,” ujar Castro.

Masker

Foto: shutterstock.com

Ia juga berpendapat bahwa penggunaan masker saat mengendarai mobil dianjurkan jika di dalam satu mobil terdapat lebih dari satu orang atau jaraknya sangat dekat. Sebab di dalam mobil juga terdapat gas lain yang dapat memengaruhi kesehatan bahkan membuat pengemudi kehilangan kesadaran. “Setidaknya setiap 10 menit melepas masker. Ini kontra produktif bagi orang-orang yang melayani masyarakat selama 8 jam.” ucapnya.

Di sisi lain Ahli Epidemiologi dari Universitas New South Wales Australia Abrar Ahmad Chughtai mengatakan bahwa gejala ekstrem seperti itu tidak mungkin terjadi pada banyak orang. Kondisi Hiperkapnia, kata dia, tidak mungkin terjadi saat menggunakan masker kain atau masker bedah.

Ia menambahkan kemungkinan hipoksia atau kekurangan oksigen terjadi karena pengguna tidak berhenti memakai masker. “Beberapa orang dengan penyakit pernapasan yang sudah ada sebelumnya seperti asma mungkin menghadapi kesulitan bernapas dengan jenis masker ketat tertentu,” ujarnya.

Baca juga: 4 Cara Beradaptasi di Situasi Kenormalan Baru

Sampai saat ini belum dijelaskan jenis masker apa yang dapat menyebabkan kondisi tersebut, meskipun terdapat dugaan terhadap masker N95. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan masyarakat umum untuk mengenakan masker kain dan tidak menyarankan menggunakan N95 dan masker bedah. Karena kedua masker itu hanya diperuntukkan bagi petugas kesehatan. Penutup wajah kain tidak boleh digunakan pada anak-anak di bawah usia dua tahun, orang yang mengalami kesulitan bernapas, atau tidak sadar, dan orang yang tak mampu melepas masker tanpa bantuan.

Pada akhirnya, dampak pemakaian masker bergantung pada kesehatan pemakainya, riwayat penyakit, jenis masker, dan berapa lama orang tersebut memakainya. Dalam kebanyakan kasus, efek penggunaan masker kain yang berkepanjangan dinilai masih rendah.

Penulis: Ridho Pambudi

Top