Kenali Risiko Stunting Sejak Dini

Reading time: 3 menit
masalah stunting
Ilustrasi. Foto: istimewa

(Greeners) – Pada peringatan Hari Gizi tahun ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menyatakan bahwa perbaikan gizi, khususnya penurunan stunting, masih menjadi salah satu agenda perioritas pembangunan kesehatan. 

Menurut situs depkes.go.id stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Berdasarkan World Health Organization (WHO), stunting atau terhambatnya pertumbuhan tubuh merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi yang ditandai dengan tinggi badan menurut usia di bawah standar deviasi (<-2 SD). Seorang anak memiliki perawakan pendek apabila tinggi badan berada dibawah 2 SD dari rata rata populasi, atau dibawah tiga kurva pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin.

Sumber lain menyebutkan bahwa pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks panjang badan menurut usia (PB/U) atau tinggi badan menurut usia (TB/U). Menurut WHO Kategori status gizi pada anak usia 0-60 bulan berdasarkan indeks PB/U atau TB/U dibagi menjadi empat rentang yaitu sangat pendek, pendek, normal, dan tinggi.

Stunting pada bayi usia di bawah dua tahun (baduta) biasanya kurang disadari karena perbedaan dengan anak yang tinggi badannya normal tidak terlalu tampak. Stunting lebih banyak disadari setelah anak memasuki usia pubertas atau remaja. Hal ini merugikan karena semakin terlambat disadari, semakin sulit mengatasi stunting.

Dilansir pada laman Greeners (19/1/2019) angka stunting pada lima tahun terakhir hanya mengalami penurunan sebesar 6,4%. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka stunting pada tahun 2013 sebesar 37,1% dan pada tahun 2018 sebesar 30,8%. Hal ini menunjukkan bahwa masalah stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena masih di atas ambang batas 20%.

Dampak dan Faktor Stunting

Menurut kajian ilmiah Nurkomala dari Program Studi Ilmu Gizi Universitas Diponegoro yang berjudul “Praktik Pemberian (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) MPASI Pada Anak Stunting dan Tidak Stunting Usia 6-24 Bulan” (2017), kondisi stunting menggambarkan kegagalan pertumbuhan yang terjadi dalam jangka waktu yang lama, dan dihubungkan dengan penurunan kapasitas fisik dan psikis, penurunan pertumbuhan fisik, dan pencapaian di bidang pendidikan rendah.

Anak stunting memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat berkembang dan pulih kembali. Anak yang gagal tumbuh dapat mengalami defisit perkembangan, gangguan kognitif, prestasi yang rendah saat usia sekolah dan saat dewasa menjadi tidak produktif sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan suatu bangsa.

Masa satu tahun pertama kehidupan, anak laki-laki lebih rentan mengalami malnutrisi daripada perempuan. Ukuran tubuh laki-laki yang besar membutuhkan asupan energi yang lebih besar pula. Bila asupan makan tidak terpenuhi dan kondisi tersebut terjadi dalam waktu lama maka dapat meningkatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Sedangkan anak perempuan lebih berisiko mengalami stunting pada tahun kedua kehidupannya. Hal ini terkait pola asuh orang tua dalam memberikan makan pada anak dimana dalam kondisi lingkungan dan gizi yang baik, pola pertumbuhan anak laki-laki lebih baik daripada perempuan.

Tingkat pendidikan orang tua, kondisi sosial, ekonomi, dan jumlah anak dalam keluarga merupakan faktor risiko terjadinya stunting. Kondisi lingkungan di dalam maupun di sekitar rumah yang kotor mempengaruhi terjadinya stunting. Lingkungan yang kotor dan banyak polusi menyebabkan anak mudah sakit sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan.

1.000 Hari Pertama Kehidupan 

Masalah stunting seringkali dikaitkan dengan faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tua dan kebanyakan masyarakat hanya bisa menerima tanpa melakukan tindakan pencegahan pada buah hatinya. Lektor Kepala Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Jakarta II, DR. Ir. Trina Astuti, MPS mengungkapkan bahwa faktor genetik hanya sedikit mempengaruhi risiko anak stunting.

Faktor genetik sedikit mempengaruhi tapi dapat diperbaiki dengan lingkungan yang baik, gizi yang seimbang, sanitasi dan stimulasi, sehingga bisa mengejar pertumbuhan anak menjadi normal,” ungkap Trina kepada Greeners.

Seperti dilansir pada laman Greeners (19/1), Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Kirana Pritasari, mengatakan bahwa perbaikan gizi dilakukan melalui pendekatan continuum of care dengan fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu mulai dari masa kehamilan sampai dengan anak berusia 2 tahun. Sasaran diperluas dengan mengembangkan jangkauan pelayanan gizi pada remaja putri dan calon pengantin melalui pemberian tablet tambah darah (TTD), sebagai persiapan periode kehamilan.

Senada dengan pernyataan diatas, Trina mengungkapkan pentingnya menjalankan 1.000 HPK karena stunting merupakan masalah kesehatan yang penanganannya harus dilakukan secara komperhensif. “1.000 HPK itu mulai dari masa kehamilan, bayi, hingga baduta. Saat rencana hamil calon ibu harus dengan gizi baik. Tidak hanya itu pengukuran lingkar lengan atas (LILA) diatas 23,5 cm, tidak anemia, bayi diberi Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif dan MPASI, serta Imunisasi penting juga untuk diperhatikan,” pungkas Trina.

Penulis: Sarah R. Megumi

Top