Berdaya Melalui Usaha Busana Ramah Lingkungan

Reading time: 2 menit
Buku Senandung Rona & Dedaunan Pada Busana Cantik
Cover Buku Senandung Rona & Dedaunan Pada Busana Cantik. Foto: Gramedia Pustaka Utama

Judul: Senandung Rona & Dedaunan Pada Busana Cantik

Penulis: Ir. Ulupi Hastuti, MM.

Penulis Pendamping : Nining Irianingsih

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah Halaman: 104 Halaman

Tanggal terbit: 23 Desember 2019

Stigma perempuan hanya sebatas melahirkan anak dan memanjangkan generasi sudah kuno. Perempuan memiliki hak untuk menjadi diri sendiri, mandiri di atas kedua kaki, tangan, maupun daya pikirnya. Inspirasi tersebut yang membuat Ulupi Hastuti, seorang lulusan Teknik Sipil membuka mata pada dunia wirausaha.

Di dalam buku “Senandung Rona & Senandung Dedaunan Pada Busana Cantik”, Pipie, sebutan Ulupi, menceritakan pengalamannya merintis usaha busana ramah lingkungan, di tengah kerasnya bidang usaha konstruksi bangunan yang ia geluti selama 30 tahun.

Ia mengatakan setiap perempuan memiliki kesempatan untuk mandiri asal memiliki visi atau tujuan yang jelas. Dengan begitu akan diketahui apa yang ingin dikerjakan, bagaimana cara memulai, dan memilih jalannya. Perempuan juga jangan memagari diri dengan batasan yang tidak masuk akal.

Ia memandang masih banyak perempuan yang “menghalangi” dirinya sendiri untuk bisa mandiri. Menurutnya kendala yang dihadapi perempuan dapat dipatahkan satu persatu.

Tidak Tahu Mau Usaha Apa

Pada dasarnya semua orang bisa berdagang. Tidak harus menjual produk buatan sendiri, tapi juga bisa menjual produk lain dengan sistem konsinyasi dan komisi. Media sosial dan jejaring pertemanan dapat dimanfaatkan untuk berwirausaha.

Di sela aktivitasnya yang berhubungan dengan semen, pasir, dan batu, Pipie membuat kreasi busana dengan menggunakan teknik eco print atau yang ia sebut juga dengan Teknik Ikat Celup Rona Dedaunan. Kegiatan yang berawal dari hobi tersebut kini berkembang menjadi sebbuah rumah busana bernama “House of Pipie”.

Tidak Punya Bakat

Saat ini banyak sekali pilihan mengikuti berbagi kursus singkat seperti memasak, membuat kue, kerajinan tangan, make up, dan sebagainya. Dengan menekuni suatu kegiatan, temukan gaya, dan kreasikan produk sendiri. Bila sudah banyak, saatnya menjual karya tersebut dalam ajang bazar atau acara komunitas.

Pipie sendiri mula-mula mengikuti kursus seni membuat puding suntik. Seiring berjalannya waktu, ia mulai tertarik dengan seni olah kain. Ia lalu mempelajari berbagai teknik ikat celup bergaya Jepang atau shibori dan memproduksi busana untuk dijual. Perempuan berusia 58 tahun ini juga memanfaatkan berbagai bahan bekas proyek bangunan seperti bekas papan cetakan beton (bekesting), pipa pvc, benang proyek, hingga kertas semen.

Tidak Punya keterampilan

Keterampilan dapat dilatih dengan ketekunan dan kesabaran. Dengan belajar dari kesalahan dan terus berinovasi maka karya yang dihasilkan tidak standar atau sama dengan karya orang lain. Setiap perempuan diberikan anugerah dan berbagai macam talenta di bidang kreatif seperti busana dan kuliner.

Rona Cita Celup dari House of Pipie awalnya mengacu pada teknik shibori. Namun, akhirnya karya-karya Ulupi juga mengaplikasikan teknik hias kain lain. Ia memadukan warna menyolok seperti biru, jingga, dan kuning.

Tidak Punya Waktu

Pekerjaan domestik memang tidak ada habisnya, jika tidak atur dengan baik. Kita punya waktu 24 jam dalam sehari sepertiga biasanya untuk istirahat dan beribadah. Sisanya masih cukup untuk mengerjakan hobi atau hal yang disukai.

Membuat teknik eco print memerlukan waktu yang lebih lama dari ikat celup. Namun, teknik tersebut yang membuat busana di House of Pipie memiliki ciri khas. Karena menonjolkan beragam zat warna alam sebagai latar dari daun-daun sehingga terlihat natural.

Tidak Punya Modal

Modal tidak selalu berupa kapital likuid atau dalam bentuk uang. Modal yang paling dasar adalah keahlian dan keterampilan. Dengan mengikuti berbagai komunitas dan organisasi profesi, hal tersebut bisa menjadi jembatan bantuan atau peminjaman modal.

Sebagai pengusaha memiliki banyak jaringan dan relasi merupakan sebuah modal. Pipie menceritakan meski dirinya bukan berasal dari latar belakang desainer busana, tapi dalam dua tahun terakhir sudah 45 kali koleksi House of Pipie tampil dalam berbagai panggung peragaan berkat keberanian dirinya menerima permintaan mengikuti bazaar.

Penulis: Ridho Pambudi

Top
You cannot copy content of this page