Memadukan Rona Dedaunan Dalam Teknik Eco Print

Reading time: 3 menit
Rona Dedaunan Dalam Teknik Eco Print
Salah satu model mengenakan busana dengan rona dedaunan. Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

Jakarta (Greeners) – Bisnis mode kini semakin digandrungi para desainer. Beragam pilihan gaya hingga harga ditawarkan sebagai jaminan. Berbeda dari kebanyakan perancang busana, Ir. Ulupi Hastuti, MM menawarkan suatu kreasi yang ramah lingkungan karena menggunakan teknik eco print. Prosesnya dilakukan dengan mentransfer warna dan bentuk ke kain melalui kontak langsung.

Rona dedaunan merupakan salah satu corak karya Ulupi yang dibuat menggunakan teknik eco print. Bahan utama seperti daun hingga pewarna, semuanya memanfaatkan benda yang ada di alam. Namun, Pipie, panggilan akrab Ulupi, tidak hanya menggunakan daun saja, teknik eco print yang ia pakai juga memanfaatkan bahan-bahan kasar seperti paralon dan triplek.

Pipie menggunakan medium kain sutra dari Jogja, Solo, Pekalongan hingga Bali dan tidak berbahan poliester. Sedangkan daun yang digunakan yaitu daun jati, ketepeng, jarak, mawar, dan cereng. Untuk pewarna alami, Ulupi memanfaatkan secang, tegeran, tingi, dan kayu-kayu yang direbus agar menghasilkan warna pastel. “Kalau mau warna oranye, tegeran sama tingi dicampur. Kita mix seperti itu,” ucap Pipie.

Baca juga: Dedaunan Kering Ternyata Bisa Menjadi Kursi

Teknik eco print memakan waktu minimal tiga hingga tujuh hari untuk menghasilkan kain yang sesuai. Prosesnya dimulai dengan merendam kain semalaman untuk menghilangkan bahan kimia dari sutra. Sementara, pada kain katun membutuhkan waktu perendaman tiga malam. Kemudian daun-daun mulai dipasang lalu dikukus selama 2 jam. Selagi diproses, kain dioksidasi agar tidak pudar saat sudah dipasarkan. Terakhir, proses fiksasi dikerjakan selama 3 sampai 7 hari menggunakan tawas agar tekstil tidak luntur.

“Saya mencoba bermacam-macam jenis kain, tapi saya jatuh cinta pada kain silk dan bemberg. Kelihatan ekslusif. Karena hasilnya bagus, jadi ga sia-sia,” kata Pipie.

Rona dedaunan menggunakan teknik eco print

Para model dan perancang busana, Ulupi Hastuti, mengenakan busana berona dedeaunan dalam acara peluncuran buku “Senandung Rona dan Dedaunan”, di Jakarta Pusat, Sabtu, 14 Desember 2019. Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

Teknik yang dipelopori oleh India Flint ini memiliki kelebihan karena dapat menggunakan bahan-bahan alami. Sedangkan, kekurangannya tidak bisa menghasilkan warna seperti layaknya pewarna sintetis. Meskipun perona tersebut tidak membahayakan karena sudah memakai nafton. “Kalau warna alam, tone nya memang lebih ke pastel. Tapi keuntungannya adalah ramah lingkungan,” ucap Pipie.

Baca juga: Pewarna Alami dari Limbah Kapas

Di House of Pipie, perempuan lulusan Teknik Sipil ini mengembangkan produk Rona Cita Celup dan Rona Dedaunan. Ia banyak mengolah kain polos yang diwarnai dengan teknik ikat celup (shibori), cetak daun di atas kain (ecoprint), dan berbagai cara lain untuk menambah warna dan motif. Kreativitas inilah yang membuat karyanya kerap tampil dalam panggung peragaan busana di berbagai instansi ternama.

“Saya cinta Indonesia dan harus melestarikan Indonesia. Jumputan dan sasirangan adalah salah satu teknik shiburi dari indonesia, tapi saya lebih suka menyebutnya rona cita celup. Rona artinya warna, cita artinya kain dan celup bermaksud ke prosesnya. Sehingga akhirnya yang disebut shiburi jadi rona cita celup indonesia. Sedangkan, untuk teknik eco print, saya lebih suka menyebutnya sebagai Rona Dedaunan karena memakai daun khas Indonesia, bukan yang ada di luar negeri,” kata Pipie.

Tidak hanya berprofesi sebagai pengusaha konstruksi dan desainer, Pipie juga mencoba untuk membuka wawasan para perempuan Indonesia untuk lebih giat lagi dalam menjalankan usaha dan bisnis. “Setiap perempuan punya hak untuk menjadi dirinya dan mandiri di atas kedua kakinya, dengan kedua tangannya, dan tentu saja dengan daya pikirnya. Be a talented woman, jadilah perempuan yang mempunyai banyak talenta dan mengembangkannya dengan cerdas,” ujar Ulupi.

Penulis: Krisda Tiofani

Top
You cannot copy content of this page