OM PMR, Tanam Pohon di Pot Demi Penghijauan

Reading time: 2 menit
Grup band Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR). Foto: greeners.co/Gloria Safira

Jakarta (Greeners) – Menjadi penduduk Jakarta selama berpuluh tahun membuat para musisi senior ini menyadari banyaknya perubahan yang terjadi disekitar mereka. Sebagai warga yang baik dan sadar akan lingkungan, mereka tidak hanya tinggal diam namun beraksi untuk menghijaukan lingkungannya.

Hidup dalam satu lingkungan yang sama, Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR) kerap melakukan penghijauan. Band yang terdiri dari enam orang personel ini menanam pohon dengan menggunakan pot-pot besar karena sudah tidak ada lagi lahan kosong untuk ditanami pepohonan. Meski hanya bergerak di lingkungan tempat tinggalnya, namun mereka turut membuat perubahan yang berarti bagi lingkungan.

“Dulu, Jakarta masih menggalakkan penghijauan, namun sekarang sudah tidak pernah saya temui hal itu. Semua lahan dibabat habis untuk dijadikan gedung-gedung, rumah-rumah, tapi tidak ada pepohonan lagi. Kami memang melakukan tindakan dari hal kecil karena gerakan itu memang perlu dimulai dari internal dulu,” ujar Budi Padukone selaku gitaris OM PMR.

Menanam banyak pepohonan, lanjut Budi, selain penting untuk memberi keteduhan, namun juga akan berpengaruh juga pada psikologis seseorang. Budi pun menyayangkan anggota masyarakat yang enggan merawat taman bersama padahal sejumlah taman kini tersedia bagi warga Jakarta.

“Kalau saat ini masyarakat hanya berpikiran mencari duit, ya susah. Hal lain tidak dipikirkan lagi karena tujuannya hanya satu. Di sisi lain, pemerintah sudah berusaha membangun taman tapi itu tidak cukup, tetap harus mengajak masyarakat untuk menjaganya,” tambahnya.

Kepedulian OM PMR terhadap lingkungan Jakarta sempat membuat grup musik ini membuat lagu bertema lingkungan. Budi pun berkisah bahwa dulu, OM PMR telah menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Anak Kampung”. Lagu tersebut menceritakan seorang anak kampung yang merantau ke Jakarta namun tidak kuat karena kehidupan materialistis Jakarta yang begitu tinggi. Sayangnya, ketika sang Anak pulang ke kampung halamannya, ia sudah kehilangan desanya karena pembangunan.

“Sudah sempat menciptakan lagu tentang realita lingkungan kita, namun sayang tuntutan produser saat itu berbeda dari keinginan kita. Akhirnya, lagu tersebut tidak bisa dipasarkan,” ungkapnya.

Budi pun berpesan kepada generasi muda agar mau meningkatkan kepedulian untuk menanam, baik bunga ataupun pepohonan di sekeliling rumah atau lingkungan tempat tinggal. “Sebaiknya, jadilah lebah yang menghisap madu tanpa merusak bunganya. Kita pun jadilah masyarakat yang baik, mencari penghasilan dan kehidupan tanpa merusak kota ini,” katanya berpesan.

Penulis : Gloria Safira

Top
You cannot copy content of this page