Subo Family: Ziarah Fesyen Berkelanjutan ke Prancis bersama Badjatex

Reading time: 3 menit
subo family badjatex
Subo Family: Menuju Prancis bersama Badjatex. Foto: Istimewa.

Menggandeng Badjatex, keluarga ini akan membawa nilai fesyen ramah lingkungan dari Tanah Air ke negeri Menara Eiffel, mereka lah Subo Family. Berhubung pandemi Covid-19 belum berlalu, mereka bernazar akan melakukan perjalanan darat ke negara Marie Antoinette. Yuk, kita simak kisah mereka!

“Menyenangkan sekali rasanya bila menjalani apa yang kita suka, bersama orang yang kita cinta.”

Tak sekadar penggalan kalimat, ini mungkin menjadi ungkapan hati sejuta umat ketika melihat Subo Family; keluarga penggelut seni yang peduli lingkungan.

Pada twitter @SuboFamily, mereka menyatakan akan menempuh perjalanan keluarga Indonesia – Prancis bersama Badjatex untuk Paris Fashion Week, sebagai salah satu desainer yang mengikuti gelaran dan menjadi bagian dari Fashion Division 2021.

Keluarga Pecinta Seni dan Alam

Selama hidupnya, Subo Family, yang terdiri dari Aria Anggadwipa (ayah), Intan Anggita Pratiwie (ibu), dan Irama Lautan Teduh (anak), memang sudah mengabdi pada seni dan alam.

Mulai dari Aria yang suka berpetualang, menyelam dan menjelajah pelosok pedesaan di Flores, sampai membuat situs menujutimur.com. Kemudian akhirnya menikah dengan Intan dan mengembangkan sebuah record store bernama Substore yang sekarang bertransformasi menjadi Listening Bar.

Sementara itu, Intan Anggita Pratiwie adalah artis daur ulang yang mendaur ulang pakaian sejak 2004. Ia memiliki brand daur ulang di tahun 2012 bernama Sight from The East yang kemudian bertransformasi menjadi Sight from The Earth.

Platform ‘Menuju Timur’ yang Aria dan dirinya gagas, hidup dari hasil upcycle denim dan tenun Indonesia Timur. Mereka juga mengangkat cerita inspiratif dari timur, membuat film pendek dan membuat komik anak-anak tentang lingkungan hidup.

Kegiatannya yang menginspirasi ini mendapatkan banyak penghargaan, mulai dari Kartini Next Generation Award (penghargaan dari Menkominfo dan Menteri Pemberdayaan Perempuan) bidang art and culture di tahun 2014; 50 Young, Women and Enterpreneur versi majalah Marketers dan Tokoh Sosial Media versi Beritagar.com di tahun 2012 dengan nama akun Twitter @badutromantis yang kini berganti menjadi @subofamily.

Intan bergabung menjadi co-founder Setali Indonesia bersama Andien Aisyah di tahun 2018 hingga kini. Ia juga dipercaya oleh Greenpeace Asia Tenggara untuk mendaur ulang bahan sisa kampanye dalam rangka ulang tahun 20 tahun mereka.

Kolaborasi dengan Artis Lokal

Perjalanan yang akan mereka terjang selama enam bulan ini beriringan dengan rencana mereka yang akan mengenalkan sustainable fashion dan berkolaborasi dengan seniman lokal.

“Kami membuka semua kemungkinan kolaborasi. Baik itu bersama artis, komunitas, maupun gerakan lingkungan hidup. Sekarang kami dalam tahap menjalin komunikasi dengan komunitas lokal di negara-negara yang kami lewati,” tutur Intan kepada Greeners (23/2/2021).

Misi Mengenalkan Badjatex

Keluarga ini akan melakukan perjalanan darat dengan menggunakan daur ulang camper van dari mobil caravelle T4 mereka. Bersama dengan itu, mereka akan mengenalkan Badjatex — produk denim berkelanjutan buatan Bandung– sebagai partner mereka.

“Kami mengkolaborasikan karya daur ulang dengan denim organik karya Badjatex serta dalam perjalanan akan mengenalkan mereka dengan segala movement sustainable yang sudah dijalankan,” kata Intan.

Intan juga menambahkan, sebenarnya Indonesia sudah mulai masuk dalam industri sustainable fashion, tetapi jarang ada orang yang mengetahuinya.

Denim Ramah Lingkungan dari Badjatex

Badjatex adalah pabrik yang memproduksi denimnya dengan proses yang ramah lingkungan.

“Usaha-usaha yang dilakukan Badjatex sendiri adalah mengurangi pemakaian air secara signifikan dengan memodifikasi proses produksi, berinvestasi di mesin berteknologi mutakhir yang menggunakan ozone dan menggunakan bahan baku dan bahan kimia yang ramah lingkungan,” kata Intan.

Di luar proses produksi, Badjatex juga memiliki program Bank Sampah (Garbage Bank) bagi karyawan dan masyarakat sekitar dengan harapan mendorong kepedulian karyawan dan masyarakat sekitar terhadap lingkungan.

badjatex

Baca juga: Belajar dari Kota Prato, Pusat Daur Ulang Pakaian di Italia

Transformasi Karbon ke Mangrove

Menurut mereka, opsi perjalanan darat menjadi pilihan yang paling mumpuni di kala pandemi. Ini karena mereka bisa karantina mandiri setiap keluar masuk perbatasan. Tentunya, ini akan menghasilkan banyak karbon; karena jarak Indonesia – Prancis yang membentang begitu jauh.

Namun, mereka menjalin kerja sama dengan Carbon Ethics, untuk menghitung dan mengkonversi jejak karbon dalam perjalanan mereka; seperti emisi dan electricity, menjadi penanaman mangrove yang akan mereka gunakan ketika pulang untuk menjadi pewarna alami.

“Kami melakukan penggalangan dana agar publik yang menyukai aksi kami bisa turut serta dengan membeli mangrove,” ujar Intan.

Mereka terinspirasi untuk mengekstraksi mangrove menjadi natural dyeing dari jurnal terbitan Universitas Diponegoro, Semarang, yang berjudul Pemanfaatan Limbah Daun dan Kulit Mangrove (Rhizophora mucronata) sebagai Bahan Pewarna Alami pada Kain Batik di Pesisir Semarang.

Intan sendiri memiliki latar belakang sebagai co-founder Setali Indonesia, yang mengusung circular fashion.

“Masalah limbah fashion adalah kerja kolektif bukan kerja panjang sendiri. Berjejaring dan berkolaborasi adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah ini. Dengan perjalanan ke Prancis diharapkan masalah limbah fashion menjadi sebuah urgensi untuk diperbincangkan,” tegas Intan.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

Twitter Subo Family

Website Badjatex

Top
You cannot copy content of this page