Out of Sight, Korporasi AS Hancurkan Lingkungan Hidup dengan Eksploitasi Buruh

Reading time: 3 menit
Out of Sight, Korporasi AS Hancurkan Lingkungan Hidup dengan Eksploitasi Buruh
Dalam Out of Sight, Erik Loomis menceritakan bagaimana eksploitasi buruh dan lingkungan hidup yang dilakukan oleh korporasi Amerika Serikat saling berkelindan. Foto: Out of Sight.

Judul: Out of Sight: The Long and Disturbing Story of Corporations Outsourcing Catastrophe

Pengarang: Erik Loomis

Tahun terbit: 2015

Penerbit: The New Press, New York

“…from the moment American corporations were born in the late eighteenth century, they saw the natural world as a dumping ground.”

Seperti kutipan di atas, Erik Loomis, profesor sejarah di University of Rhode Island Amerika Serikat, memandang korporasi Amerika Serikat (AS) sebagai agen utama perusakan alam di masa modern. Loomis menulis, korporasi AS sejak lahir menganggap dunia sebagai kubangan sampah. Lebih jauh, dalam Out of Sight, Loomis menyuarakan pendapatnya tentang gerakan buruh dan lingkungan hidup yang seharusnya saling terkoneksi.

Loomis menyayangkan gerakan lingkungan hidup yang belakangan hanya fokus menuntut pengusaha untuk membenahi kerusakan lingkungan. Padahal, bagi Loomis, pegusaha memandang alam dan buruh sebagai materi yang sama: subjek eksploitasi. Untuk itu, seharusnya aktivis lingkungan turut memperjuangkan hak keselamatan buruh. Gerakan lingkungan hidup seyogyanya memasukkan lingkungan yang layak bagi para pekerja ke dalam agenda mereka.

Out of Sight: Memanfaatkan Pasar Bebas, Korporasi AS Berkelit dari Tanggung Jawab

Buku ini di buka dengan sobekan sejarah di New York, 25 Maret 1911. Saat itu, ratusan buruh terjebak dalam pabrik tekstil yang terbakar. Para buruh melompat keluar gedung menuju kematian, tepat di muka hidung warga New York. Tidak kurang 146 buruh tewas dari peristiwa tersebut.

Pemandangan mengerikan ini membuka mata warga AS tentang kondisi lingkungan kerja para buruh. Masyarakat AS kemudian membentuk serikat konsumen dan serikat politik yang menuntut keamanan gedung dan keamanan lingkungan kerja. Buah dari gerakan ini antara lain ditetapkannya upah minimum, pembatasan jam kerja delapan jam per hari, jaminan kesejahteraan sosial, undang-undang udara bersih, undang-undang air bersih, dll.

Pada 1960an dan 1970an, publik AS berhasil mendesak reformasi pemerintahan untuk membuat undang-undang yang mengeliminasi polusi udara dan air. Sayangnya, walaupun gerakan reformasi lingkungan hidup berjalan mulus di AS, namun tidak demikian di belahan negara lain. Malah, keporak-porandaan alam di negara lain baru saja dimulai. Hal ini diakibatkan gergasi korporasi AS yang melebarkan sayap, mencari mangsa di tempat baru.

Alih-alih menyambut reformasi lingkungan hidup dengan tangan terbuka, korporasi AS malah menghindar. Di tengah serikat buruh AS yang semakin solid dan biaya produksi yang meroket, korporasi AS mencari celah dengan mempromosikan pasar bebas. Pasar bebas memungkinkan produk untuk dikirim dari luar AS, seperti dari Meksiko, Asia Timur, Asia Tenggara dan Amerika Tengah. Bersenjatakan pasar bebas dan pemerintahan luar AS yang gampang disuap, korporasi AS pun kembali berjaya.

Baca juga: Endgame 2050: Krisis Dunia Beberapa Dekade Ke Depan

Korporasi AS Pindahkan Bencana Industrial ke Negara Berkembang

Out of Sight, Korporasi AS Hancurkan Lingkungan Hidup dengan Eksploitasi Buruh

Bencana industrial di Rana Plaza, Dhaka, Bangladesh, tewaskan ratusan buruh. Foto: Shutterstock.

Memanfaatkan subkontrak untuk menghindari tanggung jawab ketika terjadi bencana industrial, AS memindahkan proses produksi ke penjuru dunia ketiga. Sayangnya, keberjayaan korporasi AS yang tidak mau tunduk pada regulasi kelayakan kondisi ruang kerja lagi-lagi mendatangkan becana. Kasus kebakaran New York 1911 terulang kembali di Bangladesh pada 2013. Saat itu, kebakaran di Rana Plaza, pabrik yang memproduksi pakaian bermerek AS, menewaskan ratusan buruh lokal.

Loomis menggarisbawahi bagaimana korporasi AS dapat mereproduksi skema industri yang mengangkangi kaedah keselamatan buruh di belahan dunia lainnya. Eksploitasi korporasi AS, baik kepada alam maupun buruh, terus-menerus menelurkan malapetaka di sudut-sudut dunia.

Tidak berhenti di situ, Loomis juga mengkritik bagaimana gergasi korporasi AS dapat menjinakkan gerakan anti-kapitalisme. Kelompok oligarki AS menggunakan kekuatan Bank Dunia untuk mempromosikan pasar bebas dan globalisasi. Negara-negara berkembang, seperti Tanah Air, dipaksa untuk tetap menerapkan standar upah dan keselamatan yang rendah guna melanggengkan kekuasaan korporasi AS.

Globalisasi Curamkan Kesenjagan Sosial Negara Maju dan Negara Berkembang

Out of Sight juga membuka mata pembaca tentang dampak globalisasi pada lingkungan hidup. Globalisasi digadang-gadang membawa keuntungan bagi negara miskin dengan mendorong pembangunan dan menawarkan lapangan kerja. Namun, globalisasi juga mempercepat hancurnya lingkungan hidup di negara berkembang. Selain itu, Loomis berargumen mayoritas buruh yang dipekerjakan oleh korporasi asing, di bawah payung globalisasi, hidup menderita. Penderitaan buruh tampak dari kondisi lingkungan kerja yang toksik dan tidak sehat. Buruh terus-menerus mengalami cedera, pelecehan seksual, pemaksaan, dan pemutusan hubungan kerja yang tiba-tiba ketika korporasi memutuskan untuk memindahkan pabrik ke negara yang lebih murah.

Dengan begitu meyakinkan, Loomis menceritakan efek globalisasi yang mencuramkan kesenjangan sosial dan ketidakadilan lingkungan warga AS terhadap warga di negara miskin. Meskipun demikian, Loomis tidak sempat untuk mendudukkan aktor korporasi dari negara maju lain, yang mungkin juga sama bersalahnya. Seperti korporasi Inggris, Jerman, dan Jepang.

Buku ini ditujukan untuk masyarakat umum, terutama untuk generasi muda AS. Loomis berharap generasi muda AS memperhitungkan produk yang mereka nikmati merupakan produksi pabrik negara miskin dengan standar kelayakan rendah. Loomis juga ingin generasi muda AS menyadari, produk yang mereka beli dibuat oleh buruh yang menderita. Dalam Out of Sight, Loomis terang-terangan mengajak para pembacanya untuk turun ke jalan dan menuntut korporasi AS mengehentikan eksploitasi mereka.

Disadur dari tulisan Luthfi Adam, Ph.D

Editor: Ixora Devi

Top