Pemanasan Global Tingkatkan Risiko Gangguan Kecemasan

Reading time: 2 menit
Selain berdampak ke lingkungan, pemanasan global juga memengaruhi kesehatan manusia salah satunya gangguan kecemasan. Foto: Shutterstock

Selain membahayakan lingkungan, fenomena pemanasan global juga dapat membahayakan kesehatan mental pada seseorang. Baru-baru ini, para peneliti dari Aliansi Kesehatan Mental dan Perubahan Iklim (MHCCA) Kanada telah melakukan sebuah studi yang menunjukkan bahwa pemanasan global mampu meningkatkan risiko gangguan kecemasan secara signifikan.

Dalam studi tersebut, para peneliti mempelajari sekelompok orang dewasa di kawasan British Columbia, Kanada, yang terdiri dari 850 orang. Adapun penelitian tersebut mereka lakukan ketika gelombang panas besar tengah melanda Kanada pada musim panas 2021. Mereka mempelajari perilaku dan pola pikir dari para responden untuk mengetahui keterkaitan antara pemanasan global dengan gangguan kecemasan.

“Melalui penelitian ini, kami menemukan sekitar 40 % responden mengalami kecemasan berlebih terhadap pemanasan global. Selain itu, 31,7 % responden juga merasa pesimis bahwa tempat tinggal mereka akan selamat dari perubahan iklim,” tulis para peneliti.

Peneliti menjelaskan bahwa suhu udara yang terus meningkat dapat memicu produksi hormon kortisol dalam kadar yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat memicu beragam permasalahan kondisi mental dan gangguan kecemasan merupakan salah satunya. Para peneliti juga menemukan bahwa pemanasan global telah meningkatkan angka kematian pada individu dengan penyakit mental yang sudah ada sebelumnya.

Gangguan Kecemasan: Terus Berkembang di Kalangan Anak Muda

Riset lain pada tahun 2021 menunjukkan bahwa gangguan kecemasan atau eco-anxiety yang disebabkan oleh pemanasan global terus berkembang di kalangan anak muda. Sebanyak 75 % anak muda di 10 negara merasakan kecemasan berlebih mengenai perubahan iklim dan pemanasan global. Sementara itu, sebanyak 59 % dari mereka merasa “amat sangat khawatir” terhadap perubahan iklim.

“Temuan kami menunjukkan urgensi yang mendesak untuk memasukkan indikator kesehatan mental ke dalam kebijakan pengambilan keputusan di masa depan,” tulis para peneliti.

Sebagai informasi, gelombang panas ekstrem telah melanda Kanada dan Amerika Serikat pada pertengahan 2021 lalu. Saat itu, suhu Kanada mencapai rekor tertinggi yakni sekitar 49,6 derajat Celsius. Selain menimbulkan gangguan kecemasan, fenomena tersebut juga telah menyebabkan sekitar 750 kematian di kawasan British Columbia, Kanada.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Euronews

Science Daily

Top
You cannot copy content of this page